kembali ke pasar

nerusin cerita saya tentang pasar, kali ini giliran pasar kecapi ;-)

pasar tradisional ini adalah yang paling deket dengan tempat tinggal saya sekarang. barusan saya coba googling dengan memasukan keyword pasar kecapi pondok melati, beberapa result muncul. salah satunya yang ngelink ke wikipedia, tapi pas di klik kok yang nongol duluan gambar mbak2 pake bikini di tepi pantai…

saya beruntung, karena pada suatu malam suami tercinta bersedia mengantarkan istrinya yang tercinta juga, untuk menjelajah pasar kecapi. maka terjadilah, bak seorang selebritis yang dikuntit paparazzi, saya berbelanja sambil difoto2 :D

tentu saja saya selalu memasang pose “cuek”, kan ceritanya gambar2 diambil secara “candid” ;-)

sayuran di pasar kecapi umumnya hasil kulakan para pedagang di pasar induk kramat jati. waktu yang paling pas buat dapetin sayuran yang seger adalah sore hingga menjelang malam hari. karena biasanya para pedagang sayuran di pasar kecapi baru kulakan setelah jam shalat azhar. dan sayura2an itu baru didrop dari pasar induk sore hari.

bumbu2 juga lumayan lengkap. mulai dari kemiri, keluwek, jinten, pekak, cabe kering sampe kecap, sambel botolan dll. ada yang dijual di tukang sayuran, ada juga yang dijual di toko kelontong. seperti biasa, jangan lupa cek tanggal kaladularsa ;-)

di bagian depan pasar juga ada tukang jualan ikan dan ayam. saya biasanya beli ayam atau bebek yang masih hidup, terus nanti minta tolong bakulnya buat menyembelih dan membersihkannya. lebih puas ;-)

sayang, di pasar kecapi ini ga ada tukang jualan daging sapi atau kambing. tapi beberapa ratus meter dari pasar ini, ada pasar lain yang ada penjual dagingnya. hanya pasar yang satunya itu bukanya dari subuh sampai tengah hari. jadi, ya… diatur2 sajalah … :D

selain ngeliat berbagai macam sayuran yang seger dan berwarna warni menggoda, selalu saja ada pemandangan menarik lain yang bisa saya temui di pasar kecapi. entah itu abang penjual kerak telor, penjual mainan anak2, timbangan tua yang pasti sudah rada ngaco, dan anak2 kecil yang dengan setia mendampingi ibu bapaknya jualan di pasar. terus terang, saya salut sama mereka. keliatannya angin malam yang biasanyas sering bikin masuk angin itu udah takluk sama mereka…

daaannn, if we get lucky, we can find those sexy legs in pasar kecapi ;-)

karena ukuran pasarnya yang ga terlalu luas, setelah 4-5 kali kita belanja ke situ, pasti para pedagang di sana udah apal sama kita. para pedagang di sana juga cukup ramah, dan kalau sudah jadi langganan, mereka akan bersikap cukup kekeluargaan. dan tentunya selalu ada harga khusus buat keluarga’ :D

itulah pasar kecapi. saya pasti akan kangen sama pasar ini kalau kami sudah pindah rumah akhir tahun nanti….

 


lebaran

dari lahir, saya memang sudah jadi orang kristen.  tapi sejak saya kecil juga, saya terbiasa untuk ikut merayakan lebaran.

tiap kali saya denger suara orang bertakbir, saya selalu teringat pengalaman2 masa kecil di kampung saya dulu.

semua bermulai dari tibanya sasih saum, bulan puasa. saya ingat betul, jaman saya kecil dulu, bulan puasa berarti bulan “hantar-hantaran”. memasuki minggu kedua sasih saum, tetangga2 kami biasanya akan saling mengirim hantaran makanan. menunya hampir tiap rumah sama: nasi putih perak, tumis cabe ijo, sambel goreng kentang, tahu/tempe/ayam goreng. kalau kebetulan dari orang berada, biasanya ada tambahan sepotong empal goreng. tiap tahun begitu.

kadang saya bersama dengan ibu dan adik perempuan saya suka memperhatikan hantaran2 itu. sering kami menemukan beberapa hantaran yang isinya sama persis. bentuk dan warnanya sama. rasanya juga. kami lalu menyimpulkan, “bu anu terima hantaran dari bu itu. terus hantaran itu diforward ke kami”. :D

kalau lagi rejekinya, bisa berhari2 ibu saya ga masak. karena stok persediaan makanan dari hantaran2 itu cukup buat ransum kami sekeluarga.

tiap sore menjelang buka puasa, ibu saya biasa berjualan berbagai macam takjil di depan rumah. ada bubur sumsum, candil, juga kolak. kalau kebetulan ga habis terjual, biasanya saya sama almarhum papi yang berpesta. kalau ga malam itu, ya saat sarapan besok paginya.

malam takbiran selalu jadi saat2 yang menggembirakan. saya akan ikut bersama teman2 sebaya saya, berlarian keliling kampung. mengiringi mereka yang lebih tua membawa obor, menelusuri gang2 sempit kampung kami, sambil bermain kembang api. tertawa2. bercanda2.

keesokan harinya, papi akan membangunkan kami semua pagi2 sekali. setelah mandi dan berpakaian yang rapi, beliau akan menyuruh kami semua duduk di teras rumah, menunggu para tetangga yang pulang dari sholat ied. lalu kami akan saling bersalam2an.

“minal aidin ya um, tante! minal aidin…”

hampir semua orang di kampung itu memanggil papi dengan “um”, versi lain dari oom. paman. uncle.

kesenangan belum juga berakhir di situ. saat lebaran dan beberapa hari sesudahnya, saya juga bisa dengan bebas memilih, mau makan lontong opor dan kue kering bikinan siapa. tinggal jalan beberapa langkah, mengetuk pintu, bersalaman, itu saja…

ibu saya juga masih bisa istirahat dari kegiatan memasak selama beberapa hari. ada cukup persediaan makanan dari lebaran :)

begitulah puluhan lebaran yang sudah saya lewati di kampung masa kecil saya. sesuatu yang saya ga tau persis, apa masih bisa ditemukan di jaman sekarang ini.

Allahu akbar…, Allahu akbar…, Allahu akbar,
La ilaha illallah huwallahu akbar,
Allahu akbar wa lillah ilham.

buat sebagian teman dan kerabat saya, takbir adalah sebuah tanda kemenangan,
buat saya, takbir akan selalu membawa kenangan.

selamat lebaran!
tuhan memberkati.


quick update

hi!

i am still alive ;-)
just still need to settle a few things down, before i can start writing in peace again…

so, have a wonderful life,  everyone…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 606 other followers