kesempatan allah
Posted: October 29, 2010 | Author: Lesca Boma | Filed under: berries for the soul | Leave a comment »SEORANG laki laki penasaran bertanya kepada tuhan:
“mengapakah ada seorang anak yang dilahirkan buta? apakah karena dosa ibunya? atau dosa bapaknya?”
lalu tuhan menjawab:
bukan dosa ibunya, bukan pula dosa bapaknya. tapi semua terjadi supaya allah mendapat kesempatan menyatakan kuasanya…
jawaban iman
Posted: October 22, 2010 | Author: Lesca Boma | Filed under: berries for the soul | 4 Comments »suatu sore, bianca datang kepada saya dengan sebuah pertanyaan:
“bu, emang ibu sama bapak bisa cerai ya?”
dengan penuh iman, saya menjawab:
“bapak dan ibu yang lain mungkin bisa. tapi bapak dan ibunya bianca ga bisa”
lalu saya melihat bianca berlalu dengan wajah penuh kelegaan…
mbakku sayang, mbakku ngarang
Posted: October 15, 2010 | Author: Lesca Boma | Filed under: Other Stories | Tags: ibu, parenting | 5 Comments »dengan tidak mengurangi rasa hormat, kepada seluruh mbak di dunia…
kata “mbak” di sini me-reffer pada para nanny, pengasuh, asisten rumah tangga, mereka yang bertugas membantu ibu2 menjalankan tugas2nya di rumah.
saya hanya ingin sharing pengalaman saja, semoga bermanfaat
hampir 10 tahun terakhir ini, para mbak memang selalu membawa warna tersendiri dalam hidup saya. mereka ada di sekeliling saya. saya selalu melihat mereka. saya tidak berhenti mendengar tentang mereka.
ketika saya mulai menjadi ibu bekerja, saat itulah saya memulai ketergantungan saya sama ‘si mbak’. saya perlu si mbak buat membantu saya bersih2 rumah, masak, nyetrika, dan yang paling penting menjaga anak saya saat saya berada di kantor. saat itu, rasanya susah buat saya membayangkan, seperti apa hidup saya tanpa si mbak.
tiap kali menjelang lebaran, saya mendadak panik. merasa ga sanggup hidup tanpa si mbak. walaupun hanya untuk 1-2 minggu saja. bagaimana saya bisa mengurus dan membersihkan rumah? siapa yang akan menyiapakan makanan buat suami dan anak saya? kalau anak saya mogok makan, apa saya sanggup mengatasinya?
pertanyaan2 lucu! lha wong itu rumah, rumah saya. anak dan suami, juga anak dan suami saya. harusnya, sayalah yang paling mengerti bagaimana menangani mereka…
harus saya akui, keberadaan si mbak di rumah kami memang membawa ‘kemewahan’ tersendiri. sayangnya, kemewahan itu sempat membuat saya lupa diri. dan menjadi pemalas!
anak pup, “mbak, tolong wawikin adek yaa…”
anak laper, “mbak, bisa tolong suapin kakak? keliatannya dia laper…”
suami pengen sambel,” mbak, tolong ulekin sambel buat bapak ya..”
sementara itu, saya selalu terlalu cape kerja di kantor. perlu istirahat buat jaga stamina. dan sering kecentilan bawa pulang tumpukan kerjaan kantor yg lebih sering ga dipegang juga. akhirnya, merasa udah ga punya tenaga lagi buat ngurusin rumah dan anak2.
dengan penuh rasa malu, belakangan saya suka mikir, jaman segitu itu si mbak lebih mirip yang punya rumah ketimbang saya. si mbak yang ngerti di mana barang2 saya diletakan. dia yang tau jam berapa anak saya biasa mandi. dia juga yg sering memasak makanan kesukaan suami saya. saya lebih mirip orang yang numpang kos di rumahnya sendiri.
saya ga ingat betul, sudah berapa banyak mbak yang pernah datang dan pergi, mengisi hidup saya. ada yang kuat sampe 4 tahun. ada yang cuman 11 bulan. ada juga yang cuman bertahan 2 hari. ada yang gendut. ada yang ga doyan makan daging. ada yang hobinya telpon. ada yang pinter mijet. ada yang seneng manjangin kukunya. ada yang keriting. ada yang suka bikin saya keriting…
dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mereka memang adalah orang2 yang berjasa dalam hidup saya. saya ga bakalan “ngilang-ngilangin”. tanpa mereka, tentu saya ga bisa jadi kayak sekarang.
dari sekian banyak si mbak yang pernah jadi asisten saya, saya memperhatikan ada 1 kesamaan dalam diri mereka. sama2 punya keahlian “mengarang”.
sampai dengen 2,5 tahun yang lalu, anak2 saya biasa ikut sekolah minggu ditemenin mbaknya. alasannya, supaya saya dan bapak bisa ikut kebaktian di gereja pada jam yang sama. si mbak selalu bilang kalau anak2 pinter di sekolah minggu. sering maju ke depan kelas untuk menyanyi. bahkan menjalankan kantong persembahan.
waktu pada akhirnya saya memutuskan untuk menjadi ibu mandiri tanpa si mbak sama sekali, saya mulai mengantar sendiri anak2 saya ke sekolah minggu. saya nyaris semaput karena kaget. boro2 maju ke depan kelas untuk menyanyi, duduk sendiri pun anak saya ga mau. maunya neplok terus sama mboknya. seorang ibu yang juga mengantar anaknya sekolah minggu nyeletuk:
“tumben benaia ga nangis, biasanya kalau sama mbaknya begitu acara dimulai pasti langsung nangis jerit2 dan baru mau diem kalau sudah dibawa keluar kelas sama mbaknya…”
karangan si mbak yang pertama.
karena anak pertama saya bianca dulu badannya kurus banget gara2 susah makan, waktu anak saya benaia tumbuh jadi bayi yang montok-tok-tok, saya seneng luar biasa. walaupun pada akhirnya saya juga mulai kawatir karena benaia nyaris masuk kategori obesitas. saya selalu memuji kepiawaian si mbak dalam memberi makan benaia. tapi belakangan saya mendengar cerita tentang bagaimana si mbak biasa mencekoki benaia. si mbak akan mendudukan benaia di depan tv, meletakan sepiring makanan di depannya, membiarkannya makan sendiri, dan segera memenuhi lagi piring makannya begitu piring itu kosong. sementara itu si mbak bisa melakukan kegiatan yang lain. saya jadi teringat sapi dan ayam2 yang digelonggong di pasar
karangan si mbak yang lain., satu dari ratusan karangan yang lainnya.
setelah saya melahirkan anak ketiga kami, saya memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor orang lain. dan selama 2 tahun pertama, saya memutuskan untuk mengurus rumah dan anak2 sendiri. tanpa asistensi seorang mbak. seperti ingin balas dendam. membayar 6 tahun saya yang kurang memperhatikan anak2.
harus saya akui, masa 2 tahun itu adalah masa2 yang berat buat saya. seperti berada dalam kawah candradimuka. hari2 saya dihabiskan untuk mengurus rumah dan ketiga anak kami. 1 diantaranya bayi. badan saya mulai penuh daki karena tidak pernah bisa mandi dengan tenang. telapak kaki saya pecah2 karena sering lupa pake sendal waktu nyuci pakaian. rambut saya kusut karena sering nggak sempat nyisir. bisa tidur lebih dari 2 jam dalam sehari adalah kemewahan saat itu. dan saya hanya bisa melihat langit jakarta dan jalan raya seminggu sekali. tiap weekend kalau kami ke gereja dan bapak ngajak jalan2
berulang kali bapak menyarankan supaya saya kembali mencari seorang mbak. tapi saya ga pernah mau. sampai suatu hari, saya mulai bisa berpikir realistis lagi. saya sadar, masa balas dendam saya sudah cukup. anak2 kami tidak cukup hanya dikasih makan 3 kali sehari, mandi 2x sehari, dan selalu bisa berpakaian bersih saja. mereka perlu lebih dari itu. mereka juga butuh ibunya untuk menemani mereka nonton tv, belajar naik sepeda, atau sekedar bersama2 main ular tangga dan monopoli. dan saya hanya bisa melakukan semua itu kalau ada seorang mbak yang membantu saya mengurus rumah.
kali ini saya betul2 menempatkan si mbak sebagai asisten saya. si mbak yang membantu saya mengiris bawang waktu saya mau masak buat keluarga saya. si mbak yang akan menjemur pakaian yang sebelumnya sudah saya cuci bersih. dan si mbak yang akan menyiapkan air hangat saat saya akan memandikan anak2 saya. saya lah sang “nyonya”, bukan lagi orang yang “numpang” di rumahnya sendiri
semenjak anak ketiga saya benezra masuk sekolah, saya selalu ikut mengantar anak2 ke sekolah. hampir setiap hari saya mendapat suguhan pemandangan yang bikin saya melongo. maklum, baru… lama2 saya tentu akan terbiasa.
suatu hari saya melihat seorang mbak yang mengantar anak asuhnya ke sekolah dengan busana a la model ibu kota. kaos ketat, short pants, dan kaca mata dengan frame warna merah jambu gonjreng. di lain hari, saya melihat mbak yang lain duduk dengan kedua kaki naik ke atas kursi, mirip abang2 yang biasa makan di warteg, cekakak cekikik sama temennya sambil meng-update status fb nya. di kemudian hari, saya melihat seorang mbak yang asik makan spagheti dari dalam sebuah lunch box warna biru dengan gambar kartun di atasnya. sementara seorang temannya juga asik menikmati potonga2 apel yang sudah dikupas bersih dan dipotong dadu seukuran mulut anak tk. semoga spagheti dan apel itu bukan jatah bekal anak asuhnya.
bagaimana pun, ini adalah negara merdeka. siapapun makan apa pun yang mereka suka. dari kotak makanan dengan warna apa pun…
as long as mereka ga melalaikan tugas utama mereka.
perkara baju dan makanan itu memang bukan urusan saya. tapi saya ga bisa ga ikutan merasa prihatin waktu ngeliat bagaimana mbak2 itu memperlakukan anak asuh mereka. bagaimana mereka memasukan 1 sendok penuh makanan ke dalam mulut2 kecil itu. membentak2 mereka karena tidak bisa segera mengunyah dan menelan makanannya. bagaimana anak2 itu bisa ngunyah kalau mulutnya begitu penuh? masih bagus mereka ga keselek atau muntah. bukan cuman itu, si mbak juga kadang menarik2 tangan dan badan anak2 asuhnya dengan kasar. saya suka linu ngeliatnya, ngebayangin kalau tangan2 kecil itu putus dari tungkainya. saya juga beberapa kali mergokin beberapa mbak yang ikutan makan dari lunch box anak asuhnya. dengan sendok yang sama. sesuap anak, suapan berikutnya masuk ke mulut si mbak. semoga mbak itu ga sedang sakit flu atau punya simpanan tbc
tiap kali saya melihat pemandangan2 horor seperti itu, saya ga berani membayangkan, apa saja yang pernah dialami anak2 saya bersama mbak2nya dulu. yang pasti, saya ga berhenti2 bersyukur. buat kesempatan yang tuhan kasih. saya beryukur bisa bangun jam 4 pagi tiap hari untuk menyiapkan makanan dan bekal sekolah anak2 saya. saya merasa beruntung bisa mencium bau kecut dan pesing yang mereka tinggalkan di kamar tidur kami. saya bangga tiap kali anak saya menangis ga mau saya tinggal. dan saya percaya waktu bapak bilang bahwa saya bisa bikin telor dadar paling enak di dunia
bagaimana pun, emang ga mungkin membandingkan mbak2 itu dengan seorang ibu. si mbak menjaga dan mengasuh anak untuk beberapa ratus ribu rupiah. sementara ibu, melakukannya untuk alasan yang lain. dan yang mungkin ga tergantikan adalah, seringkali anak datang dengan sebuah pertanyaan yang perlu jawaban cepat dan tepat. seperti:
“buk, fuck you itu apa artinya sih?” atau:
“buk, emang bapak sama ibu itu bisa cerai ya?”
itulah gunanya ada ibu di rumah. saya ga bisa membayangkan, kira2 jawaban apa yang mungkin diberikan seorang mbak untuk pertanyaan2 kritis seperti itu.
saya ga pernah menyesal dengan apa yang sudah tuhan ijinkan terjadi dalam hidup saya. seperti “kawah candradimuka” itu sudah membuat saya menjadi ibu yang lebih baik. semua memang sudah didesain tepat pada waktunya. tidak ada kebetulan.
dan saya hanya ga bisa berenti bersyukur…
ps.:
sekali lagi, terima kasih saya buat mpok kokom, mbah tojibah, mbak kokom, mbak artin, mbak asih, mbak pur, mbak mar, mbak inem, mbak is, mbak yuni, iing, mbak afi, mbak munah, mbak tiwi, mbak tini, mbak dini, mbak parmi, mbak ella, mbak yana dan mbak nissa.
kiranya tuhan memberikan yang terbaik, sukses selalu!
i love math
Posted: October 8, 2010 | Author: Lesca Boma | Filed under: children, Other Stories | Tags: bianca, ibu | Leave a comment »awal2 masuk sekolah dasar dulu, saya selalu aja deg2an kalau anak perempuan saya, bianca, mau ulangan matematika. menurut penilaian saya, bianca ga terlalu hebat dalam mata pelajaran itu. saya sendiri, selama bertahun2 sudah memberi cap “angker” buat matematika. jadi membayangkan bianca ikut ulangan math itu buat saya seperti melakukan perjalanan ke sebuah danau yang sepi dan menyeramkan. ada kejutan2 horor yang bisa saja muncul setiap saat.
saya ga pernah bisa betul2 mengingat, pelajaran math apa yang pernah saya terima waktu saya di sd dulu. tentu saja ada pelajaran perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan. lalu ada pecahan dan persamaan matematika. selebihnya samar2, seperti kabut di danau angker tadi.
anehnya, waktu saya lulus dari sd dulu, nilai math saya dalam NEM (nilai ebtanas murni), adalah 8,5. dapat penghargaan sebagai NEM math tertenggi sekecamatan jaman segitu. TUHAN pasti sangat baik sama saya
ingatan saya dengan math jaman smp juga burek. gambaran bakso siomay kuah langganan saya di belakang sekolah masih lebih jelas di kepala saya. tapi nilai rapor saya untuk pelajaran math juga ga pernah di bawah angka 8. antara rejeki atau karena saya rajin berdoa waktu itu
gambaran math saya di jaman sma sedikit lebih jelas. saya bisa mengingat nama dan wajah2 guru matematika saya, puluhan misteri sinus dan cosinus yang ga pernah berhasil saya pecahkan, buku matematika yang saya beri sampul warna hitam legam dengan tulisan “matematika” di tas potongan kertas spot light warna merah jambu di bagian depannya, juga angka2 berbentuk seperti “kursi terbalik” yang ditulis tegas dengan warna merah membara di halaman2 kertas kerja dan ulangan saya.
adalah bu res, guru math saya di kelas 2. perawakannya tinggi besar. rambutnya ikal. bicaranya tegas. pr-nya susah2. saya terpaksa membuat duplikasi cap angker saya. satu untuk pelajaran math. satunya lagi untuk bu res.
suatu hari, bu res memberikan sebuah misteri trigonometri buat kelas 2 fis-1. jari tangannya seperti putaran roda russian roulette yang bisa berhenti di mana saja. tiba2 suara keras bu res menggema ke seluruh sudut kelas:
“kamu! maju!”
satu per satu murid apes yang kena tunjuk berjalan lunglai ke depan kelas. mengambil kapur tulis. berdiri beberapa inchi dari papan tulis, memunggunggi teman2 sekelasnya. berusaha membuat garis2 dan menulis angka2 yang masuk akal. mencoba memecahkan misteri sambil sesekali mengusap peluh setres.
tiga anak sudah yang menemui kegagalan. tiba2 suara keras bu res seperti petir yang menyambar gendang telinga saya:
“lesca! maju!”
saya yakin betul, kesabaran bu res waktu itu pasti sudah tinggal sisa2nya saja. beliau butuh jawaban. dan saya tidak dalam kapasitas yang memadai
beberapa menit saya berdiri di depan kelas. dengan pikiran butek. dengkul yang mulai bergetar. dan bayangan danau angker yang terus menerus mengganggu.
akhirnya kesabaran bu res habis. beliau mulai berteriak2 di depan kelas. kecewa karena kami ga berhasil memecahkan misterinya. jadilah saya siswa terapes hari itu. terpaksa berdiri lama2 di depan kelas, sementara bu res mengomel.
“lesca! belajar lagi yang bener! jangan cuman pacaran melulu! apa kamu ga malu? ngaku jadi anak jurusan fisika, tapi nilai matematikanya dua!”
ah, sudahlah….
reflek, saya sepertinya mau mewariskan cap angker saya ke bianca. tapi manusia hanya bisa berencana. tuhan juga yang menentukan.
di tahun pertamanya di sekolah dasar, setelah beberapa minggu dibikin pusing sama math, kami menawarkan bianca untuk ikut kelas kumon. setelah 2 minggu ikut coba gratis, bianca memutuskan untuk terus!
saya lega. apalagi setelah ngeliat bianca menikmati kelas kumonnya. tanpa harus dipaksa, bianca dengan rajin akan menyelesaikan puluhan lembar kertas kerja kumon yang dibawanya pulang. dan dengan bangga dia akan menunjukkan gambar2 bintang yang berhasil dikumpulkan di buku feed backnya.dan berkali2 juga saya menemukan coretan2 tangan bianca, di buku2nya, di kertas koran, di dinding: “i love math”
sesuatu yang ga pernah saya tulis. dimana pun.
puji tuhan.
rasanya saya ingin meneteskan air mata bahagia
bianca bukan cuman mengaku mencintai ‘barang angker’ itu. tapi dia juga sudah berhasil menelurkan’ biji2 besar’ untuk pelajaran math nya. minimal 80. berkali2 juga dapat 100.
untung cap angker itu belum sempat saya wariskan ke bianca. dan saya sudah belajar satu hal. tidak selamanya air cucuran atap itu jatunya ke pelimbahan juga. atau buah apel selalu jatuh tidak jauh dari pohonnya. karena bisa saja ada beberapa tetes air yang jatuh di ember penampungan dan ada buah2 apel yang langsung dipetik orang sebelum sempat jatuh ke tanah
saya rasa, sudah waktunya saya membuang cap angker yang saya simpan bertahun2 ini. mungkin mengirimnya ke tumpukan billing statement yang selalu setia menghampiri saya di setiap akhir bulan…



