benaia dan pak man

20 11 2008

saya seneng liat tampangnya benaia di foto ini. ekspresi mukanya lucu. foto ini diambil waktu acara 17an di sekolah. pak man, yang duduk di sebelah benaia adalah penjaga sekolah sekaligus petugas bersih2. konon, pak man ini udah kerja di sana selama hampir 25 tahun! hampir seumur saya ;-) kan saya juga masih 25 tahun plus-plus :D

setiap kali saya liat pak man, saya seperti selalu diingatkan untuk bersyukur.

semoga sehat terus ya pak man! siapa tahu, 2 tahun lagi bapak akan duduk di kursi itu lagi. dengan benezra :)





garis kecil

11 11 2008

kalau masih hidup, hari ini bokap ulang tahun yang ke 64.

tahun lalu saya bikin tulisan ini di blog yang lama. barangkali ada yang belum sempet baca atau seperti saya, ingin baca lagi….

Peter Hehamahua
1944 - 2000

Ternyata saat yang dipilih untuk kita lahir dan saat dimana kita ditentukan untuk pulang, hanya dibatasi dengan sebuah garis kecil. Garis kecil yang ternyata bisa berisi begitu banyak. Seperti apa dan bagaimana kita akan dikenang dan diingat orang bergantung pada bagaimana kita mengisi garis kecil itu. Dan apa yang akan kita bawa sebagai bekal pulang nanti juga tersimpan di garis kecil yang sama.

Masing-masing orang tentu punya cara dan selera sendiri2 di dalam menjalani dan mengisi hidupnya. Seorang teman pernah berkata kepada saya, kalau baginya hidup hanyalah sebuah perjalanan. Dan dia mengisinya seperti layaknya seorang yang sedang berjalan2…. Dinikmati saja, katanya.

Ada seorang lain yang juga saya kenal, mengisi hidupnya dengan bekerja keras. Mencari, mengumpulkan, dan mewariskan. Katanya untuk mereka yang dia kasihi. Supaya kalau tiba saatnya dia harus pergi meninggalkan keluarganya, dia yakin mereka tidak akan kekurangan. Kedengarannya mulia. Tapi, bukankan DIA yang akan menjaga semua yang akan kita tinggalkan? Mudah2an teman saya ini tidak lupa untuk menyiapkan bekal buat dirinya sendiri.

Juga seorang yang lain lagi. Seorang yang disegani dan dihormati. Saya dan banyak orang lain tidak berani membantah atau menentang dia. Saya pernah melihat dan mendengar mereka yang menangis karena perlakuannya. Sekali saya pernah berpikir, apakah dia pernah tersenyum, betul-betul tersenyum? Sekali saja dalam hidupnya? Merangkul dan menggandeng orang-orang yang begitu segan dan takut kepadanya? Semoga di sisa hidupnya nanti dia sempat melakukannya.

Ayah saya, bukan seorang yang pandai mengungkapkan perasaannya. Dia mewariskan kepada kami banyak pengalaman pahit yang tidak gampang untuk dilupakan. Hingga kami harus menunggu cukup lama, sampai nyaris pada akhir hidupnya, untuk akhirnya bisa mengerti hatinya. Terima kasih kepada Tuhan, yang masih memberi kesempatan buat kami mengisi sisa garis kecilnya dengan kenangan yang indah.

Akan halnya kita. Entah berapa persen dari garis kecil itu yang sudah kita lewati. Dan berapa banyak lagi sisa garis kecil yang masih bisa kita isi. Semua orang memiliki garis kecilnya sendiri-sendiri. Semoga garis kecil kita, bisa kita isi dengan sesuatu yang besar…


Padalarang, 29 Oktober 2006
Inspired by Neneng Naftali
In memorial of a beloved father, on his (supposed) birthday, 11 November 2006.




rusa yang rindu

23 10 2008

seperti rusa merindukan air,
demikian jiwaku rindu Engkau…

rasanya sudah lamaaa… sekali, aku tidak ndeprok sambil jerit2 dan mencucurkan air mata di kakiMu.

malu. aku malu sekali.





hadiah hidup

18 07 2008

setiap kali saya ngeliat anak2 ini, saya seperti sedang merayakan hari ulang tahun saya…

there’re ups and downs in my life. and children, you are one of those ups!





kenangan jadi guru sekolah minggu

6 07 2008

guru. pahlawan tanpa tanda jasa. tapi bukan tanpa kenangan :D

tugas baru saya beberapa bulan terakhir ini adalah nganterin anak2 saya ke sekolah minggu. biasa, jadi inget cerita2 jaman dulu……

di gpdi padalarang, saya sempat jadi volunteer buat ngajar anak2 sekolah minggu. dari sekitar 7 tahun masa tugas itu, yang meninggalkan bekas paling mendalam memang sekitar 2 tahunan, waktu saya ditugaskan jadi guru sekolah minggu di cabang gereja kami di curug agung.

kelas sekolah minggu itu mengambil tempat di rumah sorang jemaat yang letaknya di dalam pasar, di daerah stasiun padalarang. ukurannya tidak terlalu besar. persis di depan gang yang menuju rumah itu, adalah tempat ngetem angkot kuning jurusan ciburuy-cipatat & cikalong. calo2 dan sopir2 angkot yang ngetem di sana walaupun galak2 tidak pernah mengganggu saya, karena dari awal saya selalu bersikap sopan dengan menganggukan kepala dan bilang permisi tiap kali lewat ;-)

tidak seperti anak2 sekolah minggu yang datang sendiri ke gereja, di sekolah minggu stasiun ini sebagian besar anak2 harus dijemput ke rumah mereka. dari sekian banyak anak yang biasa saya jemput, ada 3 anak yang paling melekat dalam ingatan saya: alex, posman dan meina.

alex. biasanya masih tidur pules ketika saya sampai di rumahnya, sekitar jam setengah sepuluh pagi. neneknya yang biasa dipanggil emak akan menyuruh saya untuk langsung naik ke loteng yang letaknya persis di atas toko kelontong mereka, untuk membangunkan alex. tangga menuju lantai 2 rumah itu bukan tangga permanen yang stabil kalau diinjak. tapi tangga kayu reot yang sempit sekali.

sesampainya di atas, saya akan menemukan alex terbaring di atas kasur leceknya, dengan baju yang ga kalah lecek. bau iler dan pesing ompolnya bisa langsung tercium :D

lalu saya akan membawa alex ke kamar mandi kecil di belakang rumah dan membersihkan badannya, alakadarnya. harus alakadarnya, karena kalau sampai benar2 bersih mungkin akan makan waktu beberapa hari :D

“berangkat dulu ya tante..”
“iya, gih dah!”

posman. posman ini anak kesekian dari beberapa bersaudara. ada kakak dan adiknya yang juga ikut sekolah minggu di kelas saya. suatu hari, saya meminta posman untuk memimpin doa di kelas. mungkin karena dia anak yang pemalu, tugas sederhana itu jadi suatu beban yang sangat berat buatnya. di luar perhitungan saya, posman trauma. dia ga mau lagi ke sekolah minggu, takut disuruh mimpin acara doa bersama lagi. akibatnya, setiap minggu pagi, saya dan posman akan main kucing2an. berkali2 saya mergokin posman kabur dari rumahnya waktu saya jemput untuk sekolah minggu. suatu hari, karena sedang asik nonton tv, posman lupa untuk lari dan sembunyi. dia baru menyadari kedatangan saya waktu suara saya sudah kedengaran dari balik pintu. tak kehabisan akal, posman akhirnya sembunyi di kolong meja. tapi karena meja itu ukurannya lebih kecil dari badannya, saya bisa langsung menemukannya :D

saya sudah tidak pernah ketemu dengan posman lagi. tapi saya dengar kabar kalau posman masih rajin datang ke gereja. syukurlah, kalau tidak tentu saya akan merasa sangat bersalah :D

meina. gadis kecil yang cantik. kulitnya putih bersih, rambutnya panjang dan hitam. sayang engkongnya galak setengah mati. kedatangan saya di rumahnya hampir selalu disambut dengan ketus sama engkongnya.

“emangnya di gereja si meina lu orang kasih apaan?”

susah juga jawabnya, secara pulang dari sekolah minggu meina emang ga pernah bawa pulang barang2 yang keliatan. kecuali suvenir kecil yang isinya catetan ayat hafalan buat minggu depannya.

sampai hari ini saya tidak pernah lagi denger kabar tentang meina. dia dan keluarganya mungkin sudah pindah dari rumah mereka di belakang pasar curug agung itu. entah ke mana.

pasar tradisional yang becek dan sedikit kumuh itu belum banyak berubah sekarang. dan setiap kali saya lewat jalan di depan pasar itu, wajah2 murid2 sekolah minggu saya masih sering terlintas di kepala saya.

semoga tuhan memberkati kalian semua. amin…