Posted: September 8, 2010 | Author: Lesca Boma | Filed under: berries for the soul | Tags: ibu |
dari lahir, saya memang sudah jadi orang kristen. tapi sejak saya kecil juga, saya terbiasa untuk ikut merayakan lebaran.
tiap kali saya denger suara orang bertakbir, saya selalu teringat pengalaman2 masa kecil di kampung saya dulu.
semua bermulai dari tibanya sasih saum, bulan puasa. saya ingat betul, jaman saya kecil dulu, bulan puasa berarti bulan “hantar-hantaran”. memasuki minggu kedua sasih saum, tetangga2 kami biasanya akan saling mengirim hantaran makanan. menunya hampir tiap rumah sama: nasi putih perak, tumis cabe ijo, sambel goreng kentang, tahu/tempe/ayam goreng. kalau kebetulan dari orang berada, biasanya ada tambahan sepotong empal goreng. tiap tahun begitu.
kadang saya bersama dengan ibu dan adik perempuan saya suka memperhatikan hantaran2 itu. sering kami menemukan beberapa hantaran yang isinya sama persis. bentuk dan warnanya sama. rasanya juga. kami lalu menyimpulkan, “bu anu terima hantaran dari bu itu. terus hantaran itu diforward ke kami”.
kalau lagi rejekinya, bisa berhari2 ibu saya ga masak. karena stok persediaan makanan dari hantaran2 itu cukup buat ransum kami sekeluarga.
tiap sore menjelang buka puasa, ibu saya biasa berjualan berbagai macam takjil di depan rumah. ada bubur sumsum, candil, juga kolak. kalau kebetulan ga habis terjual, biasanya saya sama almarhum papi yang berpesta. kalau ga malam itu, ya saat sarapan besok paginya.
malam takbiran selalu jadi saat2 yang menggembirakan. saya akan ikut bersama teman2 sebaya saya, berlarian keliling kampung. mengiringi mereka yang lebih tua membawa obor, menelusuri gang2 sempit kampung kami, sambil bermain kembang api. tertawa2. bercanda2.
keesokan harinya, papi akan membangunkan kami semua pagi2 sekali. setelah mandi dan berpakaian yang rapi, beliau akan menyuruh kami semua duduk di teras rumah, menunggu para tetangga yang pulang dari sholat ied. lalu kami akan saling bersalam2an.
“minal aidin ya um, tante! minal aidin…”
hampir semua orang di kampung itu memanggil papi dengan “um”, versi lain dari oom. paman. uncle.
kesenangan belum juga berakhir di situ. saat lebaran dan beberapa hari sesudahnya, saya juga bisa dengan bebas memilih, mau makan lontong opor dan kue kering bikinan siapa. tinggal jalan beberapa langkah, mengetuk pintu, bersalaman, itu saja…
ibu saya juga masih bisa istirahat dari kegiatan memasak selama beberapa hari. ada cukup persediaan makanan dari lebaran
begitulah puluhan lebaran yang sudah saya lewati di kampung masa kecil saya. sesuatu yang saya ga tau persis, apa masih bisa ditemukan di jaman sekarang ini.
Allahu akbar…, Allahu akbar…, Allahu akbar,
La ilaha illallah huwallahu akbar,
Allahu akbar wa lillah ilham.
buat sebagian teman dan kerabat saya, takbir adalah sebuah tanda kemenangan,
buat saya, takbir akan selalu membawa kenangan.
selamat lebaran!
tuhan memberkati.
Like this:
Be the first to like this post.
Posted: May 12, 2010 | Author: Lesca Boma | Filed under: berries for the soul, children | Tags: benaia |

dalam banyak hal, benaia emang beda banget sama kakak perempuannya, bianca.
misalnya:
bianca doyan banget makan sushi. sementara benaia, kalau diajak makan di restoran jepang katanya suka pengen mun-mun kalau cium baunya…
bianca anti pati sama yang namanya telat. entah itu telat ke sekolah, telat ke pesta ulang tahun, atau pun telat ke gereja. sementara benaia, paling tidak 3 kali dalam seminggu dia dateng terlambat ke sekolah.
saat masih sekolah di taman kanak2, bianca tekun sekali belajar. kata bu guru di sekolahnya bianca terhitung anak yang unggul di kelas. saat temen2nya masih belajar mengeja tulisan, bianca sudah khatam baca buku cerita franklin sendiri. nilai rapornya selalu penuh dengan gambar
. yang kalau diterjemahkan dalam nilai, sama dengan “B”. sangat baik.
benaia….
adalah anak yang sangat istimewa. walaupun nilai rapor taman kanak2nya selalu dipenuhi dengan serentetan huruf “C”, saya tau persis kalau benaia adalah anak yang cerdas
jaman bianca tk dulu, saya jarang sekali “berurusan” sama sekolah. bianca memang tipikal anak manis yang lempeng dan nyaris ga pernah bermasalah di sekolah. benaia emang sedikit lain.
suatu kali saya dapat laporan dari bu guru, kalau benaia ngegigit tangan temen perempuannya, kirei, sampai biru. saya langsung telpon mamanya kirei untuk minta maaf. gara2 tindak kekerasan itu, kirei sempet mogok sekolah, takut ketemu sama benaia… waktu saya tanya sama benaia, kenapa dia gigit tangan kirei, dia cuman bilang: “aku gemes buk… abis tangannya kirei keliatannya enak kayak makanan…”
lain waktu, saya dapet laporan lagi, kalau benaia nyolok mata temennya di kelas. untung temennya cowok dan ga cengeng. tapi tetep aja benaia dapet teguran. waktu saya tanya kenapa, dia bilang “temenku itu duluan nyolok2 temenku yang lain pake pensil bu, ya udah… aku colok aja matanya…”
bulan lalu, saya dapet laporan dari bu guru, kalau benaia suka melakukan ‘pelesetan’ atas lagu yang diajarin di sekolah…
satu, satu, aku sayang ibu,
dua, dua, juga sayang ayah,
tiga, tiga, sayang adik kakak,
satu, dua, tiga, pilih salah satu….
“lho, kok pilih salah satu, be? yang betul itu sayang semuanya”
“ga mau, aku maunya pilih salah satu…”
“tapi kita ga boleh pilih salah satu be. kita harus sayang semuanya…”
“aku ga mau! aku maunya pilih salah satu. se-la-ma-nya!”
“lho, kenapa begitu?”
“aku cuman mau pilih salah satu. aku maunya cuman sayang sama ibu….”
eniwei, ada beberapa hal yang menarik tentang benaia yang baru sempat saya perhatikan belakangan ini.
waktu saya ketemu sama mamanya kirei, doi cerita, kalau kirei sering banget cerita2 sama mamanya tentang benaia. apa2 selalu benaia. benaia beginilah, benaia begitulah, benaia makan inilah, benaia minum itulah… buat saya itu artinya benaia punya tempat khusus di hati kireina
baru weekend yang lalu, saya ketemu sama mamanya hiromitsu, temen sekelas benaia yang lain. doi cerita kalau sekarang hiro suka sekali sama ben 10. tas sekolah maunya yang ada gambar ben 10. pernak pernik lainnya juga maunya yang serba ben 10. katanya, biar sama dengan benaia
bukan cuman itu, hiro juga bilang sama mamanya, kalau dia ga mau punya adik. karena benaia bilang punya adik itu repot. suka digangguin… buat saya, itu artinya benaia punya pengaruh diantara temen2nya. kalau pengaruhnya beres, bisa jadi panutan
dua hari yang lalu, benaia ikut field trip ke sea world sama temen2 sekelasnya. saya nganter sampe ke tempat bisnya mangkal. di sana bu guru sudah nunggu.
“ayo benaia, cepet naik ke bis. tempat duduknya benaia udah disiapin sama samy (temen sekelasnya bebe). tadi samy bilang sama semua orang, ga ada yang boleh duduk di kursi sebelahnya. karena kursi itu udah dia siapin buat benaia.”
buat saya, itu artinya benaia diinginkan sama temen2nya. tentunya karena keberadaan benaia bisa bikin mereka seneng
tadi pagi, saya nganter benaia ke sekolah, kebetulan ga telat. waktu kami sampai di sekolah, bu guru sedang ngumpulin anak2 di lobby untuk bersiap2 masuk kelas. begitu temen2 sekelasnya benaia liat kami, mereka langsung berhamburan keluar… berteriak2 menyambut benaia
mungkin penyambutan model gitu emang sudah jadi kebiasaan anak2 di kelas itu, tapi saya yakin, kalau benaia anak yang menyebalkan, teman2nya pasti ga akan sesemangat itu menyambut kedatangannya…
buat saya, itu artinya benaia disayang sama temen2nya…
jadi, siapa yang perduli dengan rapor yang penuh dengan hurf “C”?
Like this:
Be the first to like this post.
Posted: April 26, 2010 | Author: Lesca Boma | Filed under: berries for the soul, Other Stories | Tags: friends, ibu |
waktu empat belas tahun memang bukan waktu yang sedikit.
banyak hal bisa terjadi dalam empat belas tahun.
banyak yang berubah dalam waktu empat belas tahun…

empat belas tahun yang lalu adalah untuk terakhir kalinya saya dan keempat sahabat lengket saya berkumpul dalam formasi lengkap.
beberapa orang, termasuk ibu saya, menyebut kami sebagai “geng si berat”. saya rasa mungkin mereka memang punya visi yang jauh ke depan, setidaknya ibu saya. beliau sudah punya prediksi bahwa dalam empat belas tahun, kami benar2 akan menjadi segerombolan wanita yang “berat”.
kami bertemu untuk pertama kali tahun 1992. saat orientasi mahasiswa di kampus u-en-pe-a-de-u-en-pe-a-de-i-te-be-ja-ya…
entah bagaimana muasalnya, dari sekian ribu mahasiswa baru tahun itu, kekuatan alam telah mempersatukan kami dalam sebuah ikatan yang unik dan sakral: persahabatan.
in alphabetical order:

abbo.
paling rame, sekaligus jutek.
suka ngeliat orang pake ekor mata.
nyaris ga bisa berhadapan dengan publik tanpa lipstik merahnya.
di mata saya abbo ini adalah orang yang jujur. dia selalu ngomong apa adanya.
kalau suka bilang suka, kalau ga suka biasanya merengut.
saking jujurnya, kalau suatu saat kami makan di suatu tempat, dan kebetulan menunya ga berkenan di hati, dengan cueknya doi bisa menyeringai sebel sambil ngelempar sendok ke atas piring, “ih! meni ga enak gini sih makanan teh…”
maklum, abbo orang garut asli, jadi kalau marah, bahasa ibunya lah yang paling bisa menyalurkan isi hatinya.
setelah almarhum papi saya, mungkin abbo ini adalah orang berikutnya yang paling sering ngomelin saya waktu itu.
“kenapa elo teh pake baju itu ca? da meni ga matching sama celananya tau…”
“ih, elo mah meni hese diatur…”
“ari elu sejak kapan jadi berubah gitu?”
sampe terakhir kami ketemu kemarin, dengan gayanya yang khas, abbo masih juga mengkritik saya:
“kenapa elo teh meni gendut pisan sekarang ca?”
hehehe…., hanya karena semua itu abbo yang ngomong, saya sama sekali ga tersinggung
sebaliknya, pertemuan2 kami berasa kurang lengkap dan menjadi terlalu sepi kalau ga ada abbo.
perawakan kami yang seperti dua anak kembar tidak dampit, membuat kami kadang2 bisa tuker pake baju. tapi lebih seringnya sih, saya beli second-hand-an dari abbo
maklum, dibanding saya, abbo ini lebih maju dalam hal fashion. mungkin karena dia lebih sering nonton tv dari pada saya.
dalam urusan pribadi khususnya percintaan, abbo cenderung terutup. ga pernah ngenalin pacarnya sama temen se-geng-nya. mungkin malu. karena punya temen2 yang rada2 aneh …
saya dan abbo biasa menghabiskan waktu berjam2 di telepon. anehnya, itu kami lakukan beberapa jam sebelum akhirnya kami ketemu di kampus. entah apa yang membuat kami ga bisa menunggu .
selain sangat jujur, abbo juga adalah orang yang amat sederhana. saat temen2nya sibuk bercita2 ingin jadi dokter, insinyur atau traveller, abbo cukup bahagia dengan cita2nya sendiri: “ingin menjadi pengantin”. dan diantara kami berlima, abbo lah yang pertama kali memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya.
sekarang abbo hidup bahagia sebagai ibu rumah tangga dengan pria baik hati yang kami sebut pak kumis dan dua putri cantiknya, latanza dan kanza.
erin.
kadang saya berpikir, geng kami memang seperti sebuah meseum, dengan 5 manusia antik sebagai penghuninya.
tentang erin, saya butuh waktu berjam2 untuk menulis tentang dia. bukan karena ga punya cukup banyak ingatan tentang erin. tapi justru karena banyaaaakkk sekali yang saya ingat tentang dia. bingung yang mana yang mau saya tulis
erin tinggal di sebuah rumah besar. hanya dengan kakak laki2nya, dan kadang2 dengan seorang pembantu. ayah dan ibunya masih dinas di luar kota, hanya sesekali saja mereka datang.
entah sudah berapa ribu kali saya menginap di rumah erin. sebuah hubungan mutualisma. erin dapet temen, saya dapet tumpangan. sama2 mendapat manfaat
salah satu hal yang saya kagumi dari erin adalah sikapnya yang tidak oportunis. dan tidak sombong. sebagai anak kepercayaan, selama orang tuanya tinggal di luar kota, erin lah yang memikul tanggung jawab untuk mengurus semua kebutuhan rumahnya. mulai dari bayar listrik, telpon, service mobil, sampai belanja, masak dan ngepel
walaupun tentu saja semua dananya ditransfer dari “si papah”. tapi ga sekalipun erin mengkorupsi atau melakukan mark up atas biaya2 kebutuhan rumah tangganya. kalau saya mungkin sudah gelap mata… hehehehe…
jaman segitu, saya suka sekali kalau diajak nginep di rumah erin yang megah itu. saya suka dengan piring2 makannya yang lebar, bersih dan cantik. dengan sendok garpunya yang berat. dan tentu saja dengan menu makanannya yang enak2. suatu hari erin menyuguhkan menu cah kangkung dan semur daging saatsaya menginap di rumahnya. dan malam itu kami berdua menikmati makan malam di meja makan besar, layaknya dua nyonya besar. rasanya, sampai hari ini saya masih bisa merasakan betapa lezatnya makan malam saya hari itu…
erin juga biasa membiarkan saya memakai bedak dan lipstiknya. favorit saya waktu itu adalah lipstik berwarna plum, entah apa merknya. dan saya selalu merasa lebih cantik kalau pergi ke kampus dari rumah erin
erin juga terkenal tidak pernah mencontek. pernah sekali waktu, saat kami sedang ujian, abbo sempat melirik lembar jawaban yang tergeletak di meja erin. masih bersih. spontan dengan penuh cinta dan semangat persahabatan yang membara abbo menawarkan jawaban atas soal2 ujian yang sudah diselesaikannya. tapi dengan rendah hati erin menjawab:
“nggak ah, bo… hore!” (hore adalah kependekan dari hoream, bahasa sunda untuk males)
erin menyusul menjadi pengantin setelah abbo dan saya. sayang saya ga bisa dateng di acara pernikahannya. waktu erin telepon saya untuk menyampaikan undangannya, saya sedang menangis tersedu sedan menyaksikan bayi perempuan saya tergeletak di ruang iccu anak, sekarat…
saat ini erin juga hidup bahagia dengan suami gantengnya yang mirip ricky subagja dan anak laki2nya, deva.

fitri.
satu2nya orang ibu kota di geng kami. bertubuh paling besar. dan beruang saku paling besar
selain di rumah erin, saya juga sering menginap di tempat kost fitri. lumayan, buat ngirit2 uang transport. secara waktu itu saya tinggal di padalarang, 20 kilo jaraknya dari bandung. butuh waktu 1-1,5 jam perjalananan dari rumah saya ke kampus. dan sekitar sepuluh ribu rupiah buat bayar bis dan angkot.
saya pun jadi begitu akrab dengan si kijang biru, mobil kesayangan fitri jaman itu. tentu saja sebatas jadi penumpang. saya kan ga bisa nyetir…
entah berapa kali sudah fitri ini menjadi dewa penolong buat saya, terutama di saat2 saya kelaparan.
sebagai mahasiswi, koleksi buku2 pelajaran fitri juga terhitung lengkap. hampir setiap musim ujian fitri akan meminjamkan buku2nya buat saya. dan saya akan berusaha untuk belajar duluan. beberapa hari sebelum ujian, saya akan mengembalikan buku2 ke fitri buat dia pake belajar. saya ingat betul, ada beberapa teman yang penasaran ngeliat saya yang santai2 aja menjelang ujian. ga keliatan nenteng atau baca2 buku lagi. hehehe…, sekarang mereka tau jawabannya
fitri juga pernah menjadi penyelamat saat saya harus bayar uang kuliah. biasa…, ngutang tanpa bunga
kalau ga salah waktu itu saya pinjam 250 ribu. yang saya ga ingat, dari mana saya berhasil dapat uang buat bayar utang itu. yang pasti ya rejeki halal dari tuhan
sebagai anak bungsu, fitri sangat disayang sama babenya. dikit2 dikirimin duit…
fitri paling seneng kalau kebetulan kena flu, batuk dan pilek. begitu suaranya jadi bindeng, dia akan langsung telpon babenya:
“loe kenapa fit? sakit ya?”
“iya nih be…”
“ya udah, ntar babe kirimin duit yaaa…”
di saat2 terakhir kuliah, saya dan fitri magang di tempat yang sama. di sebuah pabrik tekstil di kawasan industri di daerah padalarang. diantara kami berlima, saya dan fitri memang yang terakhir lulus. mungkin karena kami terlalu asik dengan urusan kami yang lain… saya sibuk nyari duit buat nyelesein kuliah, fitri sibuk mondar2 mandir jakarta bandung
fitri juga punya darah bisnis yang cukup kentel. jaman segitu, fitri pernah mendirikan sebuah toko pakaian di daerah dago. tentu saja, kami adalah pengunjung setia toko itu. ga jelas tujuan kunjungannya apa. antara liat2 koleksi bajunya, pinjem telepon, ngeceng, atau sekedar membunuh waktu saja. sayang toko itu ga bertahan lama. mungkin karena kemampuan manajemennya yang saat itu belum mateng. buktinya saat ini fitri sudah punya bisnis lain yang jauh lebih bagus. yang mampu mewujudkan impiannya buat keliling dunia.
setiap kali saya ngeliat foto2 fitri di album facebook nya, moscow, san fransisco, roma, yunani, rasanya saya ingin meneteskan air mata. bangga luar biasa. dengan sedikit iri… hehehehe…
saya ingat saat2 dulu kami berdua sering duduk2 sambil menceritakan mimpi2 kami, dan kami punya 1 mimpi yang sama: “keliling dunia”.
dan ternyata fitri berhasil meraih mimpinya duluan. dan saya akan segera menyusul.

ratih
adalah penghuni museum yang paling tenang.
saya masih ingat betul bagaimana ratih mengatur kamar kosnya.
ada 1 tempat tidur single yang sepreinya nyaris ga pernah berkerut.
1 lemari baju yang isinya dilipat dengan tingkat ketebalan dan lebar yang sepertinya diukur dulu.
1 meja belajar dengan buku2 yang disusun luar biasa rapi. dan suatu kali, dengan sebuah kalender dinding kecil buatan tangannya sendiri. lengkap dengan gambar dan deretan angka2 sebagai tanggalannya.
di salah satu sudut, ada sebuah rak kecil. dengan beberapa peralatan makan khas anak kos yang tertata rapih di atasnya.
saya ga pernah berhasil mengatur kamar saya serapih kamar ratih, bahkan sampai hari ini…
rasanya di antara kami berlima, ratih adalah anak yang paling lempeng dan stabil. saat saya dan abbo asik nyoba2 lipstiknya fitri yang berwarna hitam yang katanya sedang ngetrend di jakarta dan singapur, ratih tetap bertahan dengan pelembab bibir andalannya. saat erin dan abbo ribut nyari tiket buat nonton bon jovi di jakarta, ratih tetap asik dengan kaset2 kla projectnya.
selain ketenangannya, saya juga selalu kagum dengan kulit putih bersihnya, dan rambut hitam lebatnya yang sangat cantik, walaupun agak jarang dikeramas
saya dan ratih sempat bergabung dengan dengan kelompok paduan suara di kampus. ratih di grup alto. dan saya pindah2. kadang alto, pernah juga jadi mezo sopran gara2 kekurangan orang. kami punya 1 lagu favorit yang sama: annie’s song, john denver.
ratih sering bawa partitur lagu itu ke kampus. suatu hari, waktu kami sedang duduk2 di bawah pohon, di atas tembok yang bentuknya mirip benteng, sambil nontonin mahasiswa/i yang lalu lalang, sambil nunggu masuk angin, saya dan ratih menyanyikan lagu yang ada di partitur itu. lalu fitri yang yang penggemar berat bon jovi langsung berteriak:
“addduuuuhhhh…., elo berdua ini ya!!! apa ga ada lagu lain yang bisa dinyanyiin selain lagunya ani ibon itu ya?”
buat yang ga tau siapa itu ani ibon, anda bisa searching di google. dan mungkin sesudah itu ikut tertawa bersama kami
itu adalah untuk terakhir kalinya saya dan ratih menyanyikan lagu itu di tengah2 geng kami.
setelah menyelesaikan kuliahnya secara on time, ratih lalu pindah dan bekerja di jakarta. hubungan kami sempat terputus lama. maklum, di masa itu sms masih mahal dan hanya bisa dikirim ke sesama operator….
pada tahun 2000, ratih mengirimkan undangan pernikahannya ke rumah orang tua saya di padalarang. sayang undangan itu baru sampai di tangan saya beberapa bulan kemudian. waktu saya pulang ke padalarang dari jakarta.
ratih menikah dengan ipung, yang kebetulan adalah teman kami juga semasa sekolah di bandung. di mata saya, ratih dan ipung adalah pasangan yang amat serasi. sama2 tenang. sama2 saleh
saya sempat mengirimkan undangan pernikahan saya ke ratih, tapi ratih ga bisa dateng, karena waktu itu dia baru saja melahirkan hafizh, anak pertamanya.
saya baru liat ratih lagi setelah 6 tahunga ketemu, di rumah sakit mitra keluarga bekasi barat, saat ratih datang untuk menjenguk saya yang baru melahirkan bianca, anak sulung saya.
beberapa bulan sebelumnya saya sempet mengunjungi ratih di kantornya di daerah gatsu. waktu itu saya mau minjem duit buat bayar kontrakan rumah baru saya di bekasi…. hehehe…, bukannya saya hobi ngutang, cuman kebetulan aja rejeki saya waktu itu masih ketahan di surga , dan baru dirapel beberapa tahun kemudian
saat ini ratih juga sudah hidup dengan tenang dan bahagia dengan 3 jagoannya: ipung, hafizh dan haqqi.
saya?
semua tulisan di blog ini, sudah menceritakan lebih dari cukup tentang saya

maka,
setelah empat belas tahun, akhirnya kami bisa berkumpul bersama lagi dalam formasi lengkap.
banyak hal yang sudah berubah. tapi sebagian dari kami adalah tetap kami yang dulu. saya yakin itulah yang membuat kami tetap menjadi sahabat. semoga sampai selamanya…
it was such a great reunion, don’t you think?
and you guys are the best!!
Like this:
Be the first to like this post.