my lovely berries


kenangan jadi guru sekolah minggu
July 6, 2008, 5:24 am
Filed under: My Writing, Other Stories, berries for the soul

guru. pahlawan tanpa tanda jasa. tapi bukan tanpa kenangan :D

tugas baru saya beberapa bulan terakhir ini adalah nganterin anak2 saya ke sekolah minggu. biasa, jadi inget cerita2 jaman dulu……

di gpdi padalarang, saya sempat jadi volunteer buat ngajar anak2 sekolah minggu. dari sekitar 7 tahun masa tugas itu, yang meninggalkan bekas paling mendalam memang sekitar 2 tahunan, waktu saya ditugaskan jadi guru sekolah minggu di cabang gereja kami di curug agung.

kelas sekolah minggu itu mengambil tempat di rumah sorang jemaat yang letaknya di dalam pasar, di daerah stasiun padalarang. ukurannya tidak terlalu besar. persis di depan gang yang menuju rumah itu, adalah tempat ngetem angkot kuning jurusan ciburuy-cipatat & cikalong. calo2 dan sopir2 angkot yang ngetem di sana walaupun galak2 tidak pernah mengganggu saya, karena dari awal saya selalu bersikap sopan dengan menganggukan kepala dan bilang permisi tiap kali lewat ;-)

tidak seperti anak2 sekolah minggu yang datang sendiri ke gereja, di sekolah minggu stasiun ini sebagian besar anak2 harus dijemput ke rumah mereka. dari sekian banyak anak yang biasa saya jemput, ada 3 anak yang paling melekat dalam ingatan saya: alex, posman dan meina.

alex. biasanya masih tidur pules ketika saya sampai di rumahnya, sekitar jam setengah sepuluh pagi. neneknya yang biasa dipanggil emak akan menyuruh saya untuk langsung naik ke loteng yang letaknya persis di atas toko kelontong mereka, untuk membangunkan alex. tangga menuju lantai 2 rumah itu bukan tangga permanen yang stabil kalau diinjak. tapi tangga kayu reot yang sempit sekali.

sesampainya di atas, saya akan menemukan alex terbaring di atas kasur leceknya, dengan baju yang ga kalah lecek. bau iler dan pesing ompolnya bisa langsung tercium :D

lalu saya akan membawa alex ke kamar mandi kecil di belakang rumah dan membersihkan badannya, alakadarnya. harus alakadarnya, karena kalau sampai benar2 bersih mungkin akan makan waktu beberapa hari :D

“berangkat dulu ya tante..”
“iya, gih dah!”

posman. posman ini anak kesekian dari beberapa bersaudara. ada kakak dan adiknya yang juga ikut sekolah minggu di kelas saya. suatu hari, saya meminta posman untuk memimpin doa di kelas. mungkin karena dia anak yang pemalu, tugas sederhana itu jadi suatu beban yang sangat berat buatnya. di luar perhitungan saya, posman trauma. dia ga mau lagi ke sekolah minggu, takut disuruh mimpin acara doa bersama lagi. akibatnya, setiap minggu pagi, saya dan posman akan main kucing2an. berkali2 saya mergokin posman kabur dari rumahnya waktu saya jemput untuk sekolah minggu. suatu hari, karena sedang asik nonton tv, posman lupa untuk lari dan sembunyi. dia baru menyadari kedatangan saya waktu suara saya sudah kedengaran dari balik pintu. tak kehabisan akal, posman akhirnya sembunyi di kolong meja. tapi karena meja itu ukurannya lebih kecil dari badannya, saya bisa langsung menemukannya :D

saya sudah tidak pernah ketemu dengan posman lagi. tapi saya dengar kabar kalau posman masih rajin datang ke gereja. syukurlah, kalau tidak tentu saya akan merasa sangat bersalah :D

meina. gadis kecil yang cantik. kulitnya putih bersih, rambutnya panjang dan hitam. sayang engkongnya galak setengah mati. kedatangan saya di rumahnya hampir selalu disambut dengan ketus sama engkongnya.

“emangnya di gereja si meina lu orang kasih apaan?”

susah juga jawabnya, secara pulang dari sekolah minggu meina emang ga pernah bawa pulang barang2 yang keliatan. kecuali suvenir kecil yang isinya catetan ayat hafalan buat minggu depannya.

sampai hari ini saya tidak pernah lagi denger kabar tentang meina. dia dan keluarganya mungkin sudah pindah dari rumah mereka di belakang pasar curug agung itu. entah ke mana.

pasar tradisional yang becek dan sedikit kumuh itu belum banyak berubah sekarang. dan setiap kali saya lewat jalan di depan pasar itu, wajah2 murid2 sekolah minggu saya masih sering terlintas di kepala saya.

semoga tuhan memberkati kalian semua. amin…



piyama baru
June 27, 2008, 12:43 am
Filed under: My Writing, Other Stories

untuk segala sesuatu emang ada waktunya. juga ada tempatnya. semahal2nya sepatu, tempatnya akan selalu di kaki. sebagus2nya pispot, ga akan pernah pantes dipajang di ruang tamu. tapi bertahun2 yang lalu, saya pernah melanggar prinsip ini. dengan mengenakan piyama baru saya ke sekolah minggu :D

waktu saya kecil, baju baru adalah barang mewah yang ga bisa di dapat setiap saat. harus ada moment nya dulu. biasanya hari natal, atau pas kenaikan kelas.

suatu hari, di luar kebiasaan, saya dapat baju baru, oleh2 dari seorang budhe yang berkunjung dari jakarta. piyama berwarna dasar putih dengan gambar boneka2 berwarna merah terang. karena masih baru, tentu saja warnanya masih kinclong. model celananya yang selutut dan atasan tangan pendeknya bikin baju baru saya itu sekilas tidak tampak seperti piyama. lagi pula, piyama itu masih baru. sayang sekali kalau hanya dipakai di rumah, tanpa ada teman atau tetangga yang bisa ikut menikmati warna cerahnya :-p

saya tidak ingat sama sekali, apakah ibu saya sempat mengingatkan waktu itu, tapi hari minggu berikutnya saya mengenakan piyama baru itu ke sekolah minggu! mungkin tidak separah orang yang meletakan sepatunya di atas kepala menggantikan peci, atau menggunakan pispotnya sebagai mangkuk sayur. tapi tetap saja saya merasa pernah melakukan sebuah keanehan :D



aze
June 24, 2008, 10:30 am
Filed under: My Writing, Other Stories

saya ga berhasil mengingat nama lengkapnya. tapi kami semua biasa memanggilnya aze. laki2 muda dengan perawakan kecil. hanya beberapa sentimeter lebih tinggi dari saya. rambutnya keriting kecil2. kulitnya gelap. saya tidak ingat betul, tapi rasanya aze punya sederetan gigi rapi yang selalu dia pamerkan setiap dia ketawa.

saya kenal aze sekitar tujuh belas tahun yang lalu. usia saya waktu itu delapan belas. dan aze beberapa tahun lebih tua dari saya. sekilas penampilannya memang ga terlalu menarik. bahasa indonesianya kadang suka ngaco. bikin komunikasi sering tulalit. kelakarnya lebih sering terdengar garing. dan konon, (maaf) pantatnya sering dirubung laler.

saya dan aze kemudian berteman cukup akrab. kami sering menghabiskan waktu berjam2 untuk bertukar cerita. sebagian besar, saya mendengarkan. dia bercerita tentang kampung halamannya. tentang keluarganya yang hampir semuanya sudah mati. dibunuh.

terakhir kali saya bertemu aze bulan desember tahun 1991. tepat sehari sebelum kami semua meninggalkan campbell river menuju ke vancouver. saya masih ingat jaket yang dipakainya hari itu. jaket berbahan seperti parasut warna hitam. dengan beberapa garis berwarna terang dikedua lengannya.

semua sempat kaget pagi itu. semua mencari aze. tapi aze tidak membiarkan dirinya ditemukan. sampai akhirnya kami kembali ke jakarta.

beberapa bulan kemudian saya menerima supucuk surat dari aze. saya tidak ingat betul apa isinya. terlalu takut untuk membalasnya. seorang teman saya bilang kalau saya harus berhati2. saya bisa saja kena masalah. saya nurut saja.

bertahun kemudian, seorang teman saya cerita, kalau aze sudah menyelesaikan kuliahnya di toronto. saya salut. sayang saya tidak sempat kasih ucapan selamat secara langsung. tapi saya sempat titipkan salam.

dari waktu ke waktu, saya terus mendengar cerita tentang aze dari beberapa teman yang kebetulan masih berhubungan dengannya. sementara kami sendiri tidak pernah berhasil saling menghubungi.

lepas dari apa yang pernah dia lakukan. saya merasa ikut senang dengan pencapaian aze saat ini. saya dengar sekarang aze sudah jadi orang hebat di tanah airnya, di negeri yang baru merdeka itu.

saya punya feeling, kalau orang seperti aze, dengan segala urusan dan kesibukannya saat ini, pastilah bukan tipe seorang blogger atau orang yang suka blogwalking, iseng2 googling untuk mencari teman2 lamanya. jadi ucapan selamat yang saya tulis di sini mungkin tidak akan pernah sempat dibaca aze.

tapi, hey! bukankah hidup adalah tempat keajaiban bermain?

aze, kalau kamu sempat baca tulisan ini, saya hanya ingin kasih ucapan selamat. sekalian saya mau bilang, kalau saya mengerti…

aku tak punya lawan ya tuhan,
tapi kalau pun aku punya lawan,
biarlah kami seimbang dalam kekuatan,
supaya hanya kebenaran yang menang.

khalil gibran.


biduren dan mimpi jadi bionic woman
August 21, 2007, 5:37 pm
Filed under: My Writing

Waktu saya masih jauh lebih muda dulu, saya sering sekali biduren. Kata dokter karna alergi. Tapi ga pernah bener2 jelas pencetus alergi nya apa. Wong kadang, ga ada ujan ga ada angin, tau2 biduren saya kumat. BTW, biduren itu bahasa Indonesia nya apa ya?

Pernah sekali waktu, saya mau ngisi acara di suatu pertunjukan  natal di gereja. Tiba2 bidur menyerang muka saya. Sampe bengep2 dan bibir jontor. Terpaksa batal tampil, padahal udah latihan berbulan2 :( Lagian si bidur ini kok jahat banget ya, yg diserang kok ya muka. Kenapa ga bagian tubuh lain yang bisa lebih gampang disembunyikan…. Yah, mungkin memang sudah diatur TUHAN kayak gitu. Siapa tau kalo waktu itu saya tampil, ada produser sinetron yang kepincut liat saya, terus saya di-hire, terus… Bisa ga ada bianca sama benaia hari ini :-p

Eniwei, sudah sekitar 10 tahun saya lepas dari gangguan biduren. Seingat saya terakhir saya biduran pas awal2 kuliah dulu. Tiba2 aja, minggu lalu, seperti biasa, ga ada ujan ga ada angin, tau2 saya biduren lagi. 2X dalam 1 minggu. Untungnya ga parah, dan tanpa saya kasih obat, dalam beberapa jam ilang sendiri :D Tapi walaupun cuman sebentar, bidur saya minggu lalu itu sempat mengingatkan saya sama 1 cerita lucu. Saking lucunya, saya ga pernah cerita tentang pengalaman saya yang 1 itu dengan siapa pun! Sampe hari ini……

*************

Padalarang, sekitar akhir tahun 70-an….

bionic-woman.gif

Jaman segitu, belum banyak film atau serial TV yang bisa di tonton di rumah. Yang pasti, ada 1 film/serial TV yang jadi favorit saya. The Bionic Woman. Walaupun waktu itu saya masih kecil dan belum ngerti bahasa inggris sama sekali, tapi saya ingat betul kalo saya ga pernah mau ketinggalan nonton film ini. Dalam ingatan saya, si tante Bionic Woman ini adalah orang yang sangat cantik. Saya ingat rambut pirangnya yang akan bergoyang2 tiap kali dia melakukan aksi bionik-nya. Mulai dari meloncat tinggi ke langit, mengangkat beban yang luar biasa berat, mendengar percakapan jarak jauh, atau meremas gagang pintu yang terkunci. Dan yang pasti, sound effect (atau musik pengiring ya namanya?), yang mengiringi semua atraksi bioniknya. Teng..teng..teng…teng..teng… Masih terbayang jelas, gerakan slow motionnya di TV :D

Hubungannya sama biduren? Sebenernya sih ga ada :D

Hanya…., suatu hari, saya terserang biduren hebat. Seluruh badan saya gatel2. Sudah dikasih bedak, dikompres air anget, minum anti histamin, tetep aja gatel. Sampe badan saya terasa panas waktu itu. Beberapa bagian kulit juga sudah mulai lecet karena saya garuk terus. Saya ingat, Ibu saya menyuruh saya untuk tidur. Katanya itu bisa bikin gatel saya berkurang. Saya nurut.

Sambil tiduran, saya terus berdoa sama TUHAN, biar biduren saya cepat sembuh. Waktu itu saya berdoa sambil rebahan, dengan muka menghadap ke dinding kamar.  Tiba2, ide gila itu muncul. Jangan2 TUHAN ngasih penyakit biduren ke saya sebagai ujian, karena sebentar lagi saya akan berubah jadi perempuan idola saya. Tante Bionic Woman. Spontan dalam hati saya berdoa: “Tuhan, kalau memang ini ujian yang Engkau berikan buat saya supaya saya bisa jadi Bionic Woman, saya ikhlas….”

Kelanjutannya? Ah, saya rasa saya terlalu malu untuk memikirkannya ;-p TUHAN aja pasti ngetawain saya waktu itu…..



Untuk Bapak, tentang anak2 kita
August 3, 2007, 9:49 am
Filed under: My Writing
If we think that raising a kid is the hardest part of having them, think again. Because it is not. But letting them go is.
Jatiwarna, 6 Juni 2006.

Rasanya baru kemarin ya Mas. Ga terasa sekarang Bb sudah besar. Hari ini dia masih minta dikelonin dan ga mau ditunggal atau disuruh tidur sendiri. Ga lama lagi kita mungkin ga bisa masuk ke kamarnya tanpa harus ketuk pintu dulu. Sekarang dia masih selalu minta ditemenin menggambar atau melipat kertas warna. Beberapa tahun lagi mungkin dia akan menganggap saran dan pandangan kita tentang seleranya sebagai sesuatu yang annoying. Kadang aku takut menghadapi hari-hari itu. Hari di mana aku harus mulai mencari-cari alasan untuk bisa dapet perhatian dari anakku sendiri. Hari di mana aku masuk ke kamarnya dan menemukan semua laci dan lemari yang terkunci. Hari di mana akhirnya dia harus meninggalkan kita. Bukan karena dia kehabisan cintanya, tapi karena dia memang sudah punya hidup sendiri.

My beloved chlidren,

No matter how old you are, you will always be our babies….