sepatu merah jambu

sudah lewat lebih dari 30 tahun. bentuk dan warna sepatu merah jambu itu masih begitu jelas  di ingatan saya…

sepatu plastik yang di mata saya begitu cantik itu saya dapat dari kak uci, kakak sepupu saya. mereka tidak datang sendirian, tapi diikuti dengan sebuah catatan penting: “ini adalah sepasang sepatu milik seorang artis…” *kak uci ini memang punya seorang adik ipar yang jadi artis terkenal waktu itu…*

“kenapa artis itu memberikan sepatunya buat saya, kak?”

“karena sepatu ini terlalu kecil buat dia…”

“apakah dia tahu kalau sepatu ini sekarang jadi milik saya?”

“saya rasa tidak…”

biarlah, saya tidak terlalu peduli. buat saya sepatu itu punya 2 aspek penting yang cukup membuat hati saya senang. ukurannya cocok dengan kaki saya, dan sepatu itu sebelumnya adalah milik seorang artis terkenal…

saya memakai sepatu merah jambu itu kemana2. gereja, sekolah, atau sekedar beli martabak ke jalan raya. rasanya kaki saya jadi terlihat dua kali lebih cantik dengan sepatu itu. walaupun juga jadi dua kali lebih kepanasan… tebakan saya, bahan plastik sepatu itu belum sebagus bahan sepatu crocs jaman sekarang…

kepada siapa saja yang kedapatan memperhatikan sepatu itu, saya dengan ringan hati akan memberikan informasi tambahannya: “sepatu ini saya dapat dari seorang artis… “

ketika kami masih kecil, almarhum papi saya rajin sekali mencuci sepatu2 kami. beliau benci sekali kalau melihat sepatu2 kami yang dekil. dengan telaten, papi selalu membersihkan dan me-make over sepatu anak2nya sampe kinclong. mulai dari mengelem dan menjahit bagian2 yang sobek, menutup bagian2 yang tergores dengan sepidol, dan menyemir sepatu2 kulit imitasi kami sampai mengkilap.

sayangnya, karena terlalu sering dicuci, sepatu merah jambu kebanggan saya itu pun mulai berubah warna menjadi semakin pucat dan keputihan. untungnya, sepatu merah jambu itu akhirnya minta pensiun tepat di saat kaki2 saya mulai terlalu besar untuk mereka tampung.

saya tidak ingat lagi, bagaimana nasib kedua sepatu merah jambu itu. tapi saya yakin, mereka pasti telah beristirahat dengan tenang. karena semasa hidupnya mereka sudah berhasil membuat hati seorang anak kecil menjadi begitu bahagia….


friends

old friends.
good friends.
forever friends.

*cimahi, 21 may 2011. @our highs school reunion*


one floor. back yard. and a wooden floor.

dreamer. that is my middle name ;-)

dari kecil, saya emang sudah hobi menghayal. bahkan sebelum saya mengalami menstruasi, saya sudah bercita2,  kalau saya besar nanti, dan punya anak laki2, saya ingin menamainya william. sayang, lady di tampaknya sudah lebih dulu mencuri ide saya ;-)

dari ribuan mimpi2 saya, sebagian ada yang saya naikan harkatnya menjadi doa. sebagian lainnya hanya numpang lewat saja.

salah satu dari mimpi besar yang ada di kepala saya selama bertahun2, adalah tentang rumah idaman. dari dulu, saya ingin sekali punya rumah dengan 3 kriteria penting ini:

* rumah 1 lantai dengan banyak jendela. entah kenapa, saya ga begitu suka dengan rumah bertingkat. pertama, mungkin karena saya takut ketinggian. kedua, bisa jadi karena saya takut ketinggian. dan yang ketiga saya rasa karena saya takut ketinggian. saya suka rumah dengan banyak jendela supaya terang. ruangan yang gelap selalu bikin saya seperti sesak nafas.

* saya selalu ingin punya rumah yang ada halaman belakangnya. nanti saya akan membuat ruang makan yang menghadap ke halaman belakang itu. di salah satu sisi ruang makan itu akan dibuat pintu geser kaca yang cukup besar. supaya saya bisa duduk di meja makan sambil menikmati udara luar dan pemandangan halaman belakang. apapun makanan yang tersuguh di meja makan, kalau pemandangandi depannya enak dilihat, pasti berasa enak :D

* saya jatuh cinta dengan lantai parquet, sejak pertama kali kami dipertemukan. sejak saat itu pula, saya selalu berhayal, kalau saya punya rumah nanti, saya ingin ada 1 bagian rumah yang lantainya dilapisi parquet. dengan sebuah rak buku sederhana di salah satu sisinya. sedikit agak berbeda prinsip dengan bapak. yang ga suka permukaan dinding atau lantai berwarna gelap. katanya bikin susah nyari nyamuk.

saya tidak ingat betul, apakah saya pernah benar2 berdoa untuk rumah hayalan saya itu. yang saya mengerti, adalah bahwa tuhan saya begitu baik. dia sudah  memberikan apa yang saya harapkan. bahkan jauh melampaui apa yang berani saya pikirkan.

matur sembah nuwun, Gusti Yesus,
matur sembah nuwun….


kue kering natal

pagi ini saya menerima sms dari seorang teman di padalarang, seorang murid sekolah minggu saya 25 tahun yang lalu. sekarang dia sudah jadi pengusaha kue kering.

setelah berkorespondensi via beberapa sms, saya lalu membuat list pesanan kue kering saya buat natal tahun ini. kue nastar, kaastengel, putri salju, kue kering rasa coklat dan vanila.

sebenernya keluarga saya ga begitu suka makan kue kering aka kukis. anak2 saya bilang kukis itu bikin seret. terus, kenapa saya pesan begitu banyak kukis? yaa…, buat syarat aja. biar berasa sedang natalan :D

sewaktu saya kecil dulu, kukis selalu jadi menu wajib tiap natal. kaastengel dan nastar adalah yang selalu menjadi primadona. ibu saya selalu bikin sendiri. dan kami anak2nya selalu siap membantu. kalau pun kami ga berhasil membantu membuatnya, kami selalu berhasil membantu melenyapkannya.

suatu hari, di bulan desember entah persisnya tahun berapa. saya rasa, waktu itu saya masih duduk di bangku sma. lagi lucu2nya. dan langsing2nya :-p saya bersama dengan mama dan kedua adik saya, kami duduk2 di ruang tv.

“eca, lya, migo, tahun ini kayaknya kita ga bikin kue kering ya… mama ga ada uang.”

waktu itu kami sudah cukup besar untuk bisa nerima. sudah cukup besar. dan sudah cukup terlatih :)

“ya sudah mam, ga apa2… kita kan masih tetep bisa natalan walaupun ga punya kue kering… ntar kita main aja ke rumah orang yang bikin kue kering, terus numpang makan di sana deh….”

“tapi, nanti kalau ada tamu gimana? mau kita suguhin apa ya?”

“tenang aja… kita suguhin teh manis aja… atau, kalau pas ada rejeki, nanti kita bikin kue putu ayu aja buat suguhan pas hari h nya…”

begitulah kurang lebih percakapan kami waktu itu. akhirul kata, kami sepakat untuk ga terlalu memusingkan masalah kukis natal tahun itu.

beberapa hari kemudian, mama mengajak kami untuk beres2 rumah. di rumah kami ada 1 buah lemari buku besar. kalau lagi hectic, lemari itu bisa juga berfungsi seperti gudang mini.  atau mungkin juga seperti tas dora emon raksasa. kita ga pernah benar2 tau, apa aja yang ada di dalam lemari itu :D

jadi kalau lagi ga ada kerjaan, kami suka duduk2 deket lemari itu sambil beres2 dan berdoa. berharap bisa menemukan sebuah keajaiban…

dan sore itu, keajaiban menghampiri kami :)

saya tidak ingat betul siapa yang pertama kali melihat amplop kucel itu. yang pasti, kami semua hampir berteriak kaget dan kegirangan saat melihat isinya. beberapa lembar uang kertas. saya ga ingat persis berapa jumlahnya.

dan beberapa waktu kemudian. suatu hari di bulan desember di tahun yang sama. saya melihat ibu saya duduk manis di depan tumpukan tepung, gula, mentega dan telur. ada cukup banyak kue kering utuk natal kami. kue kering terbaik yang pernah saya nikmati…

bulan depan, pesanan kue kering saya akan datang. terima kasih kepada tuhan, buat semua kue kering yang pernah saya makan. semoga ada jutaan orang lain juga, yang bisa menikmati kue kering natal mereka tahun ini…

amin.


mbakku sayang, mbakku ngarang

dengan tidak mengurangi rasa hormat, kepada seluruh mbak di dunia…

kata “mbak” di sini me-reffer pada para nanny, pengasuh, asisten rumah tangga, mereka yang bertugas membantu ibu2 menjalankan tugas2nya di rumah.

saya hanya ingin sharing pengalaman saja, semoga bermanfaat ;-)

hampir 10 tahun terakhir ini, para mbak memang selalu membawa warna tersendiri dalam hidup saya. mereka ada di sekeliling saya. saya selalu melihat mereka. saya tidak berhenti mendengar tentang mereka.

ketika saya mulai menjadi ibu bekerja, saat itulah saya memulai ketergantungan saya sama ‘si mbak’. saya perlu si mbak buat membantu saya bersih2 rumah, masak, nyetrika, dan yang paling penting menjaga anak saya saat saya berada di kantor. saat itu, rasanya susah buat saya membayangkan, seperti apa hidup saya tanpa si mbak.

tiap kali menjelang lebaran, saya mendadak panik. merasa ga sanggup hidup tanpa si mbak. walaupun hanya untuk 1-2 minggu saja. bagaimana saya bisa mengurus  dan membersihkan rumah? siapa yang akan menyiapakan makanan buat suami dan anak saya? kalau anak saya mogok makan, apa saya sanggup mengatasinya?

pertanyaan2 lucu! lha wong itu rumah, rumah saya. anak dan suami, juga anak dan suami saya. harusnya, sayalah yang paling mengerti bagaimana menangani mereka…

harus saya akui, keberadaan si mbak di rumah kami memang membawa ‘kemewahan’ tersendiri. sayangnya, kemewahan itu sempat membuat saya lupa diri. dan menjadi pemalas!

anak pup, “mbak, tolong wawikin adek yaa…”
anak laper, “mbak, bisa tolong suapin kakak? keliatannya dia laper…”
suami pengen sambel,” mbak,  tolong ulekin sambel buat bapak ya..”

sementara itu, saya selalu terlalu cape kerja di kantor. perlu istirahat buat jaga stamina. dan sering kecentilan bawa pulang tumpukan kerjaan kantor yg lebih sering ga dipegang juga. akhirnya, merasa udah ga punya tenaga lagi buat ngurusin rumah dan anak2.

dengan penuh rasa malu, belakangan saya suka mikir, jaman segitu itu si mbak lebih mirip yang punya rumah ketimbang saya. si mbak yang ngerti di mana barang2 saya diletakan. dia yang tau jam berapa anak saya biasa mandi. dia juga yg sering memasak makanan kesukaan suami saya.  saya lebih mirip orang yang numpang kos di rumahnya sendiri.

saya ga ingat betul, sudah berapa banyak mbak yang pernah datang dan pergi, mengisi hidup saya. ada yang kuat sampe 4 tahun. ada yang cuman 11 bulan. ada juga yang cuman bertahan  2 hari. ada yang gendut. ada yang  ga doyan makan daging. ada yang hobinya telpon. ada yang pinter mijet. ada yang seneng manjangin kukunya. ada yang keriting. ada yang suka bikin saya keriting…

dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mereka memang adalah orang2 yang berjasa dalam hidup saya. saya ga bakalan “ngilang-ngilangin”. tanpa mereka, tentu saya ga bisa jadi kayak sekarang.

dari sekian banyak si mbak yang pernah jadi asisten saya, saya memperhatikan ada 1 kesamaan dalam diri mereka. sama2 punya keahlian “mengarang”.

sampai dengen 2,5 tahun yang lalu, anak2 saya biasa ikut sekolah minggu ditemenin mbaknya. alasannya, supaya saya dan bapak bisa ikut kebaktian di gereja pada jam yang sama. si mbak selalu bilang kalau anak2 pinter di sekolah minggu. sering maju ke depan kelas untuk menyanyi. bahkan menjalankan kantong persembahan.

waktu pada akhirnya saya memutuskan untuk menjadi ibu mandiri tanpa si mbak sama sekali, saya mulai mengantar sendiri anak2 saya ke sekolah minggu. saya nyaris semaput karena kaget. boro2 maju ke depan kelas untuk menyanyi, duduk sendiri pun anak saya ga mau. maunya neplok terus sama mboknya. seorang ibu yang juga mengantar anaknya sekolah minggu nyeletuk:

“tumben benaia ga nangis, biasanya kalau sama mbaknya begitu acara dimulai pasti langsung nangis jerit2 dan  baru mau diem kalau sudah dibawa keluar kelas sama mbaknya…”

karangan si mbak yang pertama.

karena anak pertama saya bianca dulu badannya kurus banget gara2 susah makan, waktu anak saya benaia tumbuh jadi bayi yang montok-tok-tok, saya seneng luar biasa. walaupun pada akhirnya saya juga mulai kawatir karena benaia nyaris masuk kategori obesitas. saya selalu memuji kepiawaian si mbak dalam memberi makan benaia. tapi belakangan saya mendengar cerita tentang bagaimana si mbak biasa mencekoki benaia. si mbak akan mendudukan benaia di depan tv, meletakan sepiring makanan di depannya, membiarkannya makan sendiri, dan segera memenuhi lagi piring makannya begitu piring itu kosong. sementara itu si mbak bisa melakukan kegiatan yang lain. saya jadi teringat sapi dan ayam2 yang digelonggong di pasar :(

karangan si mbak yang lain., satu dari ratusan karangan yang lainnya.

setelah saya melahirkan anak ketiga kami, saya memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor orang lain. dan selama 2 tahun pertama, saya memutuskan untuk mengurus rumah dan anak2 sendiri. tanpa asistensi seorang mbak. seperti ingin balas dendam. membayar 6 tahun  saya  yang kurang memperhatikan anak2.

harus saya akui, masa 2 tahun itu adalah masa2 yang berat buat saya. seperti berada dalam kawah candradimuka. hari2 saya dihabiskan untuk mengurus rumah dan ketiga anak kami. 1 diantaranya bayi. badan saya mulai penuh daki karena tidak pernah bisa mandi dengan tenang. telapak kaki saya pecah2 karena sering lupa pake sendal waktu nyuci pakaian. rambut saya kusut karena sering nggak sempat nyisir. bisa tidur lebih dari 2 jam dalam sehari adalah kemewahan saat itu. dan saya hanya bisa melihat langit jakarta dan jalan raya seminggu sekali. tiap weekend kalau kami ke gereja dan bapak ngajak jalan2 :D

berulang kali bapak menyarankan supaya saya kembali mencari seorang mbak. tapi saya ga pernah mau. sampai suatu hari, saya mulai bisa berpikir realistis lagi. saya sadar, masa balas dendam saya sudah cukup. anak2 kami tidak cukup hanya dikasih makan 3 kali sehari, mandi 2x sehari, dan selalu bisa berpakaian bersih saja. mereka perlu lebih dari itu. mereka juga butuh ibunya untuk menemani mereka nonton tv, belajar naik sepeda, atau sekedar bersama2 main ular tangga dan monopoli. dan saya hanya bisa melakukan semua itu kalau ada seorang mbak yang membantu saya mengurus rumah.

kali ini saya betul2 menempatkan si mbak sebagai asisten saya. si mbak yang membantu saya mengiris bawang waktu saya mau masak buat keluarga saya. si mbak yang akan menjemur pakaian yang sebelumnya sudah saya cuci bersih. dan si mbak yang akan menyiapkan air hangat saat saya akan memandikan anak2 saya. saya lah sang “nyonya”, bukan lagi orang yang “numpang” di rumahnya sendiri :)

semenjak anak ketiga saya benezra masuk sekolah, saya selalu ikut mengantar anak2 ke sekolah. hampir setiap hari saya mendapat suguhan pemandangan yang bikin saya melongo. maklum, baru… lama2 saya tentu akan terbiasa.

suatu hari saya melihat seorang mbak yang mengantar anak asuhnya ke sekolah dengan busana a la model ibu kota. kaos ketat, short pants, dan kaca mata dengan frame warna merah jambu gonjreng. di lain hari, saya melihat mbak yang lain duduk dengan kedua kaki naik ke atas kursi, mirip abang2 yang biasa makan di warteg, cekakak cekikik sama temennya sambil meng-update status fb nya. di kemudian hari, saya melihat seorang mbak yang asik makan spagheti dari dalam sebuah lunch box warna biru dengan gambar kartun di atasnya. sementara seorang temannya juga asik menikmati potonga2 apel yang sudah dikupas bersih dan dipotong dadu seukuran mulut anak tk. semoga spagheti dan apel itu bukan jatah bekal anak asuhnya.

bagaimana pun, ini adalah negara merdeka. siapapun makan apa pun yang mereka suka. dari kotak makanan dengan warna apa pun…

as long as mereka ga melalaikan tugas utama mereka.

perkara baju dan makanan itu memang bukan urusan saya. tapi saya ga bisa ga ikutan merasa prihatin waktu ngeliat bagaimana mbak2 itu memperlakukan anak asuh mereka. bagaimana mereka memasukan 1 sendok penuh makanan ke dalam mulut2 kecil itu. membentak2 mereka karena tidak bisa segera mengunyah dan menelan makanannya. bagaimana anak2 itu bisa ngunyah kalau mulutnya begitu penuh? masih bagus mereka ga keselek atau muntah. bukan cuman itu, si mbak juga kadang menarik2 tangan dan badan anak2 asuhnya dengan kasar. saya suka linu ngeliatnya, ngebayangin kalau tangan2 kecil itu putus dari tungkainya. saya juga beberapa kali mergokin beberapa mbak yang ikutan makan dari lunch box anak asuhnya. dengan sendok yang sama. sesuap anak, suapan berikutnya masuk ke mulut si mbak. semoga mbak itu ga sedang sakit flu atau punya simpanan tbc :(

tiap kali saya melihat pemandangan2 horor seperti itu, saya ga berani membayangkan, apa saja yang pernah dialami anak2 saya bersama mbak2nya dulu. yang pasti, saya ga berhenti2 bersyukur. buat kesempatan yang tuhan kasih. saya beryukur bisa bangun jam 4 pagi tiap hari untuk menyiapkan makanan dan bekal sekolah anak2 saya. saya merasa beruntung bisa mencium bau kecut dan pesing yang mereka tinggalkan di kamar tidur kami. saya bangga tiap kali anak saya menangis ga mau saya tinggal. dan saya percaya waktu bapak bilang bahwa saya bisa bikin telor dadar paling enak di dunia :D

bagaimana pun, emang ga mungkin membandingkan mbak2 itu dengan seorang ibu. si mbak menjaga dan mengasuh anak untuk beberapa ratus ribu rupiah. sementara ibu, melakukannya untuk alasan yang lain. dan yang mungkin ga tergantikan adalah, seringkali anak datang dengan sebuah pertanyaan yang perlu jawaban cepat dan tepat. seperti:

“buk, fuck you itu apa artinya sih?” atau:
“buk, emang bapak sama ibu itu bisa cerai ya?”

itulah gunanya ada ibu di rumah. saya ga bisa membayangkan, kira2 jawaban apa yang mungkin diberikan seorang mbak untuk pertanyaan2 kritis seperti itu.

saya ga pernah menyesal dengan apa yang sudah tuhan ijinkan terjadi dalam hidup saya. seperti “kawah candradimuka” itu sudah membuat saya menjadi ibu yang lebih baik. semua memang sudah didesain tepat pada waktunya. tidak ada kebetulan.

dan saya hanya ga bisa berenti bersyukur…

ps.:
sekali lagi, terima kasih saya buat mpok kokom, mbah tojibah, mbak kokom, mbak artin, mbak asih, mbak pur, mbak mar, mbak inem, mbak is, mbak yuni, iing,  mbak afi, mbak munah, mbak tiwi, mbak tini, mbak dini, mbak parmi, mbak ella, mbak yana dan mbak nissa.

kiranya tuhan memberikan yang terbaik, sukses selalu!


i love math

awal2 masuk sekolah dasar dulu, saya selalu aja deg2an kalau anak perempuan saya, bianca, mau ulangan matematika. menurut penilaian saya, bianca ga terlalu hebat dalam mata pelajaran itu. saya sendiri, selama bertahun2 sudah memberi cap “angker” buat matematika. jadi membayangkan bianca ikut ulangan math itu buat saya seperti melakukan perjalanan ke sebuah danau yang sepi dan menyeramkan. ada kejutan2 horor yang bisa saja muncul setiap saat.

saya ga pernah bisa betul2 mengingat, pelajaran math apa yang pernah saya terima waktu saya di sd dulu. tentu saja ada pelajaran perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan. lalu ada pecahan dan persamaan matematika. selebihnya samar2, seperti kabut di danau angker tadi.

anehnya, waktu saya lulus dari sd dulu, nilai math saya dalam NEM (nilai ebtanas murni), adalah 8,5. dapat penghargaan sebagai NEM math tertenggi sekecamatan jaman segitu. TUHAN pasti sangat baik sama saya :D

ingatan saya dengan math jaman smp juga burek. gambaran bakso siomay kuah langganan saya di belakang sekolah masih lebih jelas di kepala saya. tapi nilai rapor saya untuk pelajaran math juga ga pernah di bawah angka 8. antara rejeki atau karena saya rajin berdoa waktu itu :D

gambaran math saya di jaman sma sedikit lebih jelas. saya bisa mengingat nama dan wajah2 guru matematika saya, puluhan misteri sinus dan cosinus yang ga pernah berhasil saya pecahkan, buku matematika yang saya beri sampul warna hitam legam dengan tulisan “matematika” di tas potongan kertas spot light warna merah jambu di bagian depannya, juga angka2 berbentuk seperti “kursi terbalik” yang ditulis tegas dengan warna merah membara di halaman2 kertas kerja dan ulangan saya.

adalah bu res, guru math saya di kelas 2. perawakannya tinggi besar. rambutnya ikal. bicaranya tegas. pr-nya susah2. saya terpaksa membuat duplikasi cap angker saya. satu untuk pelajaran math. satunya lagi untuk bu res.

suatu hari, bu res memberikan sebuah misteri trigonometri buat kelas 2 fis-1. jari tangannya seperti putaran roda russian roulette yang bisa berhenti di mana saja. tiba2 suara keras bu res menggema ke seluruh sudut kelas:

“kamu! maju!”

satu per satu murid apes yang kena tunjuk berjalan lunglai ke depan kelas. mengambil kapur tulis. berdiri beberapa inchi dari papan tulis, memunggunggi teman2 sekelasnya. berusaha membuat garis2 dan menulis angka2 yang masuk akal. mencoba memecahkan misteri sambil sesekali mengusap peluh setres.

tiga anak sudah yang menemui kegagalan. tiba2 suara keras bu res seperti petir yang menyambar gendang telinga saya:

“lesca! maju!”

saya yakin betul, kesabaran bu res waktu itu pasti sudah tinggal sisa2nya saja. beliau butuh jawaban. dan saya tidak dalam kapasitas yang memadai :(

beberapa menit saya berdiri di depan kelas. dengan pikiran butek. dengkul yang mulai bergetar. dan bayangan danau angker yang terus menerus mengganggu.

akhirnya kesabaran bu res habis. beliau mulai berteriak2 di depan kelas. kecewa karena kami ga berhasil memecahkan misterinya. jadilah saya siswa terapes hari itu. terpaksa berdiri lama2 di depan kelas, sementara bu res mengomel.

“lesca! belajar lagi yang bener! jangan cuman pacaran melulu! apa kamu ga malu? ngaku jadi anak jurusan fisika, tapi nilai matematikanya dua!”

ah, sudahlah….

reflek, saya sepertinya mau mewariskan cap angker saya ke bianca. tapi manusia hanya bisa berencana. tuhan juga yang menentukan.

di tahun pertamanya di sekolah dasar, setelah beberapa minggu dibikin pusing sama math, kami menawarkan bianca untuk ikut kelas kumon. setelah 2 minggu ikut coba gratis, bianca memutuskan untuk terus!

saya lega. apalagi setelah ngeliat bianca menikmati kelas kumonnya. tanpa harus dipaksa, bianca dengan rajin akan menyelesaikan puluhan lembar kertas kerja kumon yang dibawanya pulang. dan dengan bangga dia akan menunjukkan gambar2 bintang yang berhasil dikumpulkan di buku feed backnya.dan berkali2 juga saya menemukan coretan2 tangan bianca, di buku2nya, di kertas koran, di dinding:  “i love math”

sesuatu yang ga pernah saya tulis. dimana pun.

puji tuhan.
rasanya saya ingin meneteskan air mata bahagia :D bianca bukan cuman mengaku mencintai ‘barang angker’ itu. tapi dia juga sudah berhasil menelurkan’ biji2 besar’ untuk pelajaran math nya. minimal 80. berkali2 juga dapat 100.

untung cap angker itu belum sempat saya wariskan ke bianca. dan saya sudah belajar satu hal. tidak selamanya air cucuran atap itu jatunya ke pelimbahan juga.  atau buah apel selalu jatuh tidak jauh dari pohonnya. karena bisa saja ada beberapa tetes air yang jatuh di ember penampungan dan ada buah2 apel yang langsung dipetik orang sebelum sempat jatuh ke tanah :D

saya rasa, sudah waktunya saya membuang cap angker yang saya simpan bertahun2 ini. mungkin mengirimnya ke tumpukan billing statement yang selalu setia menghampiri saya di setiap akhir bulan…




lebaran

dari lahir, saya memang sudah jadi orang kristen.  tapi sejak saya kecil juga, saya terbiasa untuk ikut merayakan lebaran.

tiap kali saya denger suara orang bertakbir, saya selalu teringat pengalaman2 masa kecil di kampung saya dulu.

semua bermulai dari tibanya sasih saum, bulan puasa. saya ingat betul, jaman saya kecil dulu, bulan puasa berarti bulan “hantar-hantaran”. memasuki minggu kedua sasih saum, tetangga2 kami biasanya akan saling mengirim hantaran makanan. menunya hampir tiap rumah sama: nasi putih perak, tumis cabe ijo, sambel goreng kentang, tahu/tempe/ayam goreng. kalau kebetulan dari orang berada, biasanya ada tambahan sepotong empal goreng. tiap tahun begitu.

kadang saya bersama dengan ibu dan adik perempuan saya suka memperhatikan hantaran2 itu. sering kami menemukan beberapa hantaran yang isinya sama persis. bentuk dan warnanya sama. rasanya juga. kami lalu menyimpulkan, “bu anu terima hantaran dari bu itu. terus hantaran itu diforward ke kami”. :D

kalau lagi rejekinya, bisa berhari2 ibu saya ga masak. karena stok persediaan makanan dari hantaran2 itu cukup buat ransum kami sekeluarga.

tiap sore menjelang buka puasa, ibu saya biasa berjualan berbagai macam takjil di depan rumah. ada bubur sumsum, candil, juga kolak. kalau kebetulan ga habis terjual, biasanya saya sama almarhum papi yang berpesta. kalau ga malam itu, ya saat sarapan besok paginya.

malam takbiran selalu jadi saat2 yang menggembirakan. saya akan ikut bersama teman2 sebaya saya, berlarian keliling kampung. mengiringi mereka yang lebih tua membawa obor, menelusuri gang2 sempit kampung kami, sambil bermain kembang api. tertawa2. bercanda2.

keesokan harinya, papi akan membangunkan kami semua pagi2 sekali. setelah mandi dan berpakaian yang rapi, beliau akan menyuruh kami semua duduk di teras rumah, menunggu para tetangga yang pulang dari sholat ied. lalu kami akan saling bersalam2an.

“minal aidin ya um, tante! minal aidin…”

hampir semua orang di kampung itu memanggil papi dengan “um”, versi lain dari oom. paman. uncle.

kesenangan belum juga berakhir di situ. saat lebaran dan beberapa hari sesudahnya, saya juga bisa dengan bebas memilih, mau makan lontong opor dan kue kering bikinan siapa. tinggal jalan beberapa langkah, mengetuk pintu, bersalaman, itu saja…

ibu saya juga masih bisa istirahat dari kegiatan memasak selama beberapa hari. ada cukup persediaan makanan dari lebaran :)

begitulah puluhan lebaran yang sudah saya lewati di kampung masa kecil saya. sesuatu yang saya ga tau persis, apa masih bisa ditemukan di jaman sekarang ini.

Allahu akbar…, Allahu akbar…, Allahu akbar,
La ilaha illallah huwallahu akbar,
Allahu akbar wa lillah ilham.

buat sebagian teman dan kerabat saya, takbir adalah sebuah tanda kemenangan,
buat saya, takbir akan selalu membawa kenangan.

selamat lebaran!
tuhan memberkati.


check up

akhirnya, sesudah dirayu2 selama 2 tahun lebih, kemarin bapak mau ngejalanin general medical check up :D

jadi, hari minggu kemarin kami berdua ngedate ke rs mitra keluarga bekasi barat. sekalian saya ngambil hasil pap smear minggu lalu.

dan biar ga sirik-sirikan, saya juga sekalian check up kemarin.

hasilnya?
hasil kontrol rutin kandungan dan pap smear, puji tuhan baik. ga ada masalah sama sekali.
hasil general check upnya, mostly as predicted :-P

lucunya, selama ini karena saya parno sekali sama yang namanya diabetes, saya jadi ngebatasin sekali konsumsi gula saya. maklum, sudah ga terhitung jumlah anggota keluarga besar kami yang meninggal karena diabetes. termasuk almarhum papi saya. dan dari hasil test darah kemarin, ternyata gula darah saya indeksnya dibawah normal. pantesan sering ‘mbliyeng-mbliyeng’, kadang malah sampe gemeteran :-P

yang lain2, kayak asam urat, fungsi hati, fungsi ginjal, fungsi otak, semua normal. cuman kolesterol aja yang nilainya merah :-P

jadi kemarin itu, setelah 2 kali diambil darah dan urine buat diperiksa, kami duduk berdua di salah satu sudut rs, seperti 2 anak sma yang baru terima rapor. senyum2 ga jelas. sambil ngebanding2in nilai rapor masing2. saking kompaknya, nilai rapor kami merahnya juga  hampir sama…

jadi mulai sekarang, saya punya temen diet di rumah ;-)

begitulah ceritanya. dan buat temen2 yang mungkin lupa belum sempet pap smear tahun ini, ayo…. buruan!! jangan sok sibuk atau pura2 lupa… ntar nyesel!


healthy food for a healthier life

kemarin, tepat 1 bulan saya ngejalanin program diet saya. so far hasilnya cukup buat bikin saya senyum2 ;-)

berat saya turun 4 kilo. dan lingkar pinggang berkurang 7 cm. dan kata2 orang2 yang baik hati itu, saya keliatan lebih seger… hehehehe… senangnyaaaa….

selain mengkonsumsi herbalife, saya juga berusaha keras buat mengubah pola makan saya. sebisa mungkin saya menghindari makanan2 yang digoreng dan atau yang bersantan. saya juga berusaha mengontrol asupan kalori dan karbohidrat saya setiap hari. dan tentu saja, memperbanyak konsumsi serat

jadilah buat sementara waktu ini, saya harus berpisah dulu dengan beberapa makanan kesayangan saya, rendang, soto betawi, bakwan goreng, mie ayam, cheese cake….

dan sebagai gantinya, saya mengkonsumsi makanan2 sehat yang ga kalah enaknya, seperti pempek oatmeal dan pepes oatmeal di bawah ini :D

kalau ada yang mau ngintip resepnya, ada di sini yaa…


antara rokok dan susu bayi

salah satu karyawan saya, sebut saja mas timbul,  memang punya keistimewaan dibandingkan teman2nya yang lain. dia hobi sekali kasbon.

sekali waktu dia cash bon untuk ongkos kerabatnya pulang kampung. lain waktu, dia kasbon untuk perbaiki motornya yang rusak. pernah juga dia kasbon untuk keperluan anaknya sekolah. tapi yang paling sering, dia kasbon untuk beli susu anak. keperluan yang tentu saja ga bisa saya tolak.

minggu lalu, kembali mas timbul mengajukan proposal kasbon. saya sih sebenernya ga masalah. tokh, akhir bulan nanti saya tinggal memotong semua kasbon itu dari pembayaran gajinya. cuman lama2 kok saya jadi ngerasa ga enak ya? tiap akhir bulan, uang gaji yang dibawa pulang mas timbul buat istrinya kok jadi tinggal sedikit. ga sampe setengah dari upah yang harusnya dia terima. kebanyakan dipotong kasbon…

jadi, waktu terakhir dia mau kasbon, saya mengajak mas timbul bercakap2 sebentar…

“sampeyan mau kasbon buat apa lagi?”

“buat beli susu anak saya bu… sekarang anak saya nyusunya banyak. jadi asi ibunya udah ga cukup lagi. harus ditambah pake susu formula.”

“hmmm…, bagus itu. bapak yang baik itu memang sudah seharusnya memperhatikan kebutuhan anak2nya. saya setuju.”

“buat saya anak2 adalah segala-galanya bu. keperluan anak2 selalu jadi prioritas buat saya. apalagi susu. kesian kalau anak saya kekurangan susu, nanti dia ga bisa tumbuh sehat dan pinter”

“sampeyan bener. cuman kalau saya perhatikan, belakangan ini sampeyan kok sering banget kasbon ya… jadi gaji bulanan yang dibawa pulang buat istri kan berkurang banyak. mungkin sampeyan harus mulai memperbaiki cara mengatur keuangan rumah tangga…”

“iya bu, cuman saya itu kalau sudah urusannya sama susu anak, saya lebih baik ngutang sana sini, yang penting sanak saya bisa beli susu…”

“itu juga saya setuju. kalau saya jadi sampeyan, saya juga pasti akan melakukan hal yang sama… ngomong2, sehari sampeyan biasa ngerokok berapa banyak ya mas?”

“2 bungkus, bu…”

“sebungkus rokok harganya berapa mas?”

“sepuluh ribu, bu…”

“berarti kalau 2 bungkus, sehari sampeyan perlu 20.000 buat beli rokok ya. kalau 1 bulan, berarti 600 ribu ya? banyak juga ya? biasanya sampeyan beli susu anak sebulan berapa kaleng mas?”

muka mas timbul sedikit berubah warna. ah, uh, ah, uh, ga ada kalimat lengkap yang keluar dari mulutnya….

singkat kata, saya mengabulkan permohonan kasbonnya hari itu. hanya harapan saya, malam itu mas timbul akan memikirkan kembali statement2nya hari itu. dan bisa ngeset ulang prioritas hidupnya….


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 606 other followers