Posted: May 23, 2011 | Author: Lesca Boma | Filed under: Other Stories | Tags: ibu |

old friends.
good friends.
forever friends.
*cimahi, 21 may 2011. @our highs school reunion*
Posted: September 26, 2007 | Author: Lesca Boma | Filed under: daily living | Tags: ibu |
komentar kedua anak saya waktu liat foto ibunya 7 tahun yang lalu…
Bianca:
+ “Ini foto bapak sama siapa, bu?”
- “O, itu ibu nak…
+ “Bukan! Ini tante!
Benaia:
+ (sambil nunjuk2 foto bapaknya) “babap… babap…”
- “iya, itu bapak nak… kalau ini siapa?” (saya menunjuk gambar perempuan muda disebelahnya)
+ (geleng2 kepala)
- “itu ibu nak….”
+ “waakkk…” (sambil geleng kepala dan ngeluarin lidahnya. mungkin dalam hatinya benaia berpikir: emangnya gw bisa diboongin gitu aja….)
Well, i guess i have changed a little ….
Posted: August 21, 2007 | Author: Lesca Boma | Filed under: Other Stories | Tags: ibu |
Waktu saya masih jauh lebih muda dulu, saya sering sekali biduren. Kata dokter karna alergi. Tapi ga pernah bener2 jelas pencetus alergi nya apa. Wong kadang, ga ada ujan ga ada angin, tau2 biduren saya kumat. BTW, biduren itu bahasa Indonesia nya apa ya?
Pernah sekali waktu, saya mau ngisi acara di suatu pertunjukan natal di gereja. Tiba2 bidur menyerang muka saya. Sampe bengep2 dan bibir jontor. Terpaksa batal tampil, padahal udah latihan berbulan2
Lagian si bidur ini kok jahat banget ya, yg diserang kok ya muka. Kenapa ga bagian tubuh lain yang bisa lebih gampang disembunyikan…. Yah, mungkin memang sudah diatur TUHAN kayak gitu. Siapa tau kalo waktu itu saya tampil, ada produser sinetron yang kepincut liat saya, terus saya di-hire, terus… Bisa ga ada bianca sama benaia hari ini :-p
Eniwei, sudah sekitar 10 tahun saya lepas dari gangguan biduren. Seingat saya terakhir saya biduran pas awal2 kuliah dulu. Tiba2 aja, minggu lalu, seperti biasa, ga ada ujan ga ada angin, tau2 saya biduren lagi. 2X dalam 1 minggu. Untungnya ga parah, dan tanpa saya kasih obat, dalam beberapa jam ilang sendiri
Tapi walaupun cuman sebentar, bidur saya minggu lalu itu sempat mengingatkan saya sama 1 cerita lucu. Saking lucunya, saya ga pernah cerita tentang pengalaman saya yang 1 itu dengan siapa pun! Sampe hari ini……
*************
Padalarang, sekitar akhir tahun 70-an….

Jaman segitu, belum banyak film atau serial TV yang bisa di tonton di rumah. Yang pasti, ada 1 film/serial TV yang jadi favorit saya. The Bionic Woman. Walaupun waktu itu saya masih kecil dan belum ngerti bahasa inggris sama sekali, tapi saya ingat betul kalo saya ga pernah mau ketinggalan nonton film ini. Dalam ingatan saya, si tante Bionic Woman ini adalah orang yang sangat cantik. Saya ingat rambut pirangnya yang akan bergoyang2 tiap kali dia melakukan aksi bionik-nya. Mulai dari meloncat tinggi ke langit, mengangkat beban yang luar biasa berat, mendengar percakapan jarak jauh, atau meremas gagang pintu yang terkunci. Dan yang pasti, sound effect (atau musik pengiring ya namanya?), yang mengiringi semua atraksi bioniknya. Teng..teng..teng…teng..teng… Masih terbayang jelas, gerakan slow motionnya di TV
Hubungannya sama biduren? Sebenernya sih ga ada
Hanya…., suatu hari, saya terserang biduren hebat. Seluruh badan saya gatel2. Sudah dikasih bedak, dikompres air anget, minum anti histamin, tetep aja gatel. Sampe badan saya terasa panas waktu itu. Beberapa bagian kulit juga sudah mulai lecet karena saya garuk terus. Saya ingat, Ibu saya menyuruh saya untuk tidur. Katanya itu bisa bikin gatel saya berkurang. Saya nurut.
Sambil tiduran, saya terus berdoa sama TUHAN, biar biduren saya cepat sembuh. Waktu itu saya berdoa sambil rebahan, dengan muka menghadap ke dinding kamar. Tiba2, ide gila itu muncul. Jangan2 TUHAN ngasih penyakit biduren ke saya sebagai ujian, karena sebentar lagi saya akan berubah jadi perempuan idola saya. Tante Bionic Woman. Spontan dalam hati saya berdoa: “Tuhan, kalau memang ini ujian yang Engkau berikan buat saya supaya saya bisa jadi Bionic Woman, saya ikhlas….”
Kelanjutannya? Ah, saya rasa saya terlalu malu untuk memikirkannya ;-p TUHAN aja pasti ngetawain saya waktu itu…..
Posted: August 8, 2007 | Author: Lesca Boma | Filed under: Other Stories | Tags: ibu |
Salah satu bagian paling menyenangkan dari menanti kehadiran seorang bayi buat saya adalah menyiapkan nama buat mereka. Mungkin sudah jadi salah satu hobi saya. Bahkan jauh sebelum saya benar2 punya seorang anak, saya sudah suka mereka-reka dan mencari arti nama2 bayi. Hobi yang ga begitu umum memang :-p Walaupun bayi saya baru akan lahir sekitar 5 bulan lagi, sudah beberapa minggu ini kepala saya mulai penuh dengan berbagai macam nama dan artinya.
Kesibukan mencari nama ini mengingatkan saya sama beberapa cerita unik tentang beberapa nama orang yang sempat saya kenal.
Peter Hehamahua. Adalah nama pendek yang selalu dipakai Almarhum papi saya. Nama lengkapnya Karel Peter Terry. Kayak nama 3 orang ya? :-p Konon, Opa saya kasih nama itu sebagai kepanjangan lain dari kam-pe-tai. Opa saya ada di sana waktu papi saya lahir
Kalau orang non-ambon ga bisa mengeja langsung nama he-ha-ma-hu-a pada kesempatan pertama, itu sudah ga aneh. Tapi ternyata, buat sebagian orang, even mengeja nama depan papi saya yang cuman terdiri dari dua suku kata itu aja, tetap butuh perjuangan. Apalagi karena kami tinggal di tanah parahyangan, yang konon, masyarakatnya memang sedikit susah membedakan prononsasi bunyi “p”, “f”, dan “v”. Seperti:
+ “Kenalkan, nama saya Vera”
- “Oh, Pera. Ep-nya pake Ep panta atau Ep pespa?”
Singkat cerita, jarang sekali ada orang di kampung saya yang berhasil mengucapkan nama depan papi saya dengan benar. Ada yang Feter, Fiter, dan yang paling banyak: Filter. Oom Filter, itu nama beken beliau jaman segitu.
Teman kuliah saya lain lagi. Namanya Asep. Asep Ahmad lengkapnya. Dia punya saudara kembar. Laki-laki juga. Umurnya sama juga (namanya juga kembar
). Dan Asep juga. Cuman yang ini Asep Muhammad.
Asep Ahmad: “Sep, ningali buku urang teu?” (Sep, liat buku gw ga?)
Asep Muhammad: “Har, teuing… Lain kamari ku Asep geus dibawa ka Purwakarta?” (Wah, ga tau! Bukannya kemarin udah Asep bawa ke Purwakarta?)
Anehnya, mereka berdua ga pernah bingung. Cuman kami yang suka bingung. Sampai salah satu teman saya memplokamirkan nama baru buat Asep Ahmad yang adalah teman sekelas kami: “Michael” Setelah itu, kebingungan kami bisa jauh berkurang. Seandainya saya kenal dengan Ibu mereka waktu mereka baru lahir, saya pasti akan kasih beberapa masukan nama bayi yang mungkin bisa bermanfaat
Buat sebagaian “orang seberang”, memanggil nama kecil untuk seorang laki2 dewasa juga dianggap ga lazim. Kecuali keluarga atau teman dekatnya. Waktu saya masih SMA, ada temen sekelas kami yang namanya Deny Adam. Kami biasa manggil dia “Adam.” Suatu hari:
S: “Halo, selamat siang. Bisa bicara dengan Adam?”
A: “Saya Adam” (suaranya berat dan tegas, mungkin tentara…)
S: “Maaf, Adam yang sekolah di SMA 2?”
A: ” Di sini ada 5 orang Adam. Agus Adam, Deny Adam, Leo Adam. Kamu mau bicara dengan Adam yang mana?”
Tanpa bermaksud menyinggung pihak manapun, saya juga punya pengalaman dengan beberapa orang yang mungkin merasa sedikit ’bosan’ dengan namanya sendiri. Teman saya Novi, lebih suka kalau teman2nya memanggil dia dengan Ivon. Pacarnya temen saya, selalu menandatangani surat2 cintanya dengan “Zaen”, kependekan dari Zaenab. Temen kos saya di Bandung, sempat berkali2 bikin saya bingung dengan pergantian namanya, kadang Was, kadang Lia, kadang Wasliah.
Ah, saya masih harus mencari nama buat bayi saya. Yang ga terlalu susah diucapkan dan tentu saja punya arti yang baik. Mudah2an anak saya nanti ga cepet bosan dengan nama yang dikasih sama Bapak Ibunya
Posted: August 3, 2007 | Author: Lesca Boma | Filed under: berries for the soul | Tags: bapak, ibu |
If we think that raising a kid is the hardest part of having them, think again. Because it is not. But letting them go is.
Jatiwarna, 6 Juni 2006.
Rasanya baru kemarin ya Mas. Ga terasa sekarang Bb sudah besar. Hari ini dia masih minta dikelonin dan ga mau ditunggal atau disuruh tidur sendiri. Ga lama lagi kita mungkin ga bisa masuk ke kamarnya tanpa harus ketuk pintu dulu. Sekarang dia masih selalu minta ditemenin menggambar atau melipat kertas warna. Beberapa tahun lagi mungkin dia akan menganggap saran dan pandangan kita tentang seleranya sebagai sesuatu yang annoying. Kadang aku takut menghadapi hari-hari itu. Hari di mana aku harus mulai mencari-cari alasan untuk bisa dapet perhatian dari anakku sendiri. Hari di mana aku masuk ke kamarnya dan menemukan semua laci dan lemari yang terkunci. Hari di mana akhirnya dia harus meninggalkan kita. Bukan karena dia kehabisan cintanya, tapi karena dia memang sudah punya hidup sendiri.
My beloved chlidren,
No matter how old you are, you will always be our babies….