Jakarta


jakarta

Dulu saya ga pernah punya mimpi untuk tinggal di Jakarta. Kalau denger nama Jakarta, yang kebayang adalah panasnya, macetnya, orang2nya yg galak2. Semua bikin Lesca kecil jadi ciut hatinya.

Saya hanya ke Jakarta sesekali saja, saat almarhum papi membawa saya mengunjungi rumah tante saya yangg selalu asri dan hangat. Biasanya kami akan naik bis ekonomi dari Padalarang, lewat tol Jagorawi yang saat  musim hujan pemandangannya cantik dan mendayu. Apalagi ditambah dengan alunan lagu2 Ebiet G Ade yang diputar supir bis sepanjang jalan. Papi selalu siap dengan selusin kantong plastik, just in case saya mabuk di jalan. Dan biasanya kantong plastik itu selalu terpakai sampai  berlembar2 banyaknya.

Tahun 2000, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengadu nasib di Jakarta. Belajar menyesuaikan diri dengan udara yang panas. Jalanan yang padat. Orang2 di terminal bis yang sering bikin saya gemeter. Termasuk menyesuaikan diri dengan harga nasi bungkus di warteg yang masih lebih tinggi dibandingkan harga nasi Padang di restoran langganan saya di Bandung.

Setelah 19 tahun, Jakarta masih tetap panas dan sumpek. Pembangunan jalan layang dan stasiun MRT di sana sini bikin jalanan macet hampir sepanjang hari. Dan walaupun pemerintah sudah membangun Banjir Kanal Barat dan Timur, kehadiran musim hujan masih saja bikin warga Jakarta ketar ketir. 

Jakarta is still not my favorite city in the world. But now, Im surely can call it my home…

 


Advertisements