Cinta Buta

Biasanya orang jatuh cinta sama sesuatu setelah liat bentuknya, cium baunya, atau denger suaranya.
Tapi saya jatuh cinta sama Praha hanya sedetik setelah saya denger namanya. Bahkan jauh sebelum saya punya kesempatan menginjakan kaki di sana.

Suka banget sama pemandangan kotanya,
Suka banget sama bangunan2 tuanya,
Suka banget sama jalanan batunya,
Suka banget sama karya2 seninya,
Suka banget sama bukit2nya,
Suka banget sama sungai dan jembatan2nya,
Suka banget sama daun2 yang menguning di musim gugur,
Suka banget sama street food nya,
Suka banget sama pasar loaknya,
Suka banget sama marionette nya,
Sukaaaa……. ❤ ❤ ❤

 

_DSC0686

 

_DSC0652 - Version 2

 

_DSC0766 - Version 2

 

_DSC0749 - Version 2

 

DSC04339 - Version 2

 

_DSC0669 - Version 2

 

_DSC0828 - Version 2

 

_DSC0736 - Version 2

 

_DSC0631 - Version 2

 

DSC04301

 

_DSC0841 - Version 2

 

I’ve left a piece of my heart in Prague.
I will definitely come back to pick it up 🙂 🙂 🙂

 

 

Advertisements

Termahal di dunia

Tarif rata2 toilet umum di Indonesia itu antara 1000-3000 rupiah kan ya? Kalau sesekali kita ketemu toilet umum yang tarifnya di atas itu, pasti udah langsung protes. Kalau kebetulan ga terlalu kebelet, kita mungkin akan balik badan dan cari toilet lain yang rate nya lebih bisa diterima 😛

Di Cairo Mesir, rata2 tarif toilet umum adalah 1 USD. Sekitar 10-12 ribu rupiah. Kalau di Jakarta bisa buat bayar 1 rombongan keluarga, atau sendirian tapi bolak balik 6 kali. Mahal yaaa…. Dan soal kebersihannya, ga usah ditanya. Nanti ga nafsu makan.

Di St. Petersburg, Russia, tarif toilet umum rata2 adalah 30 rubel. Sekitar 15 ribu rupiah, sedikit lebih tinggi rate nya dibanding dengan di Cairo. Yang khas dari toilet umum di St. Pete adalah aromanya yang aduhai. Karena kondisi alam yang selalu dingin sepanjang tahun, orang sana suka banget minum minuman beralkohol. Akibatnya urin mereka baunya menyengat banget. Ga betah deh lama2 deket toilet umum di sana.

Di Paris, saya punya cerita sendiri….

_DSC0229

Suatu hari, saya dan suami baru saja selesai jalan2 di sekitar Tour Eiffel. Hari sudah mulai sore dan kami sudah seharian jalan puter2 Paris. Tiba2 nature calls, saya kebelet banget. Sebenernya di sepanjang jalan dari Metro Station Champ de Mars sampe Tour Eiffel banyak toilet umum yang bisa kita temui. Tapi sore itu 2 Public Restroom yang saya temui sedang out of service. Akhirnya saya nanya ke ibu2 yang punya kedai souvenir ga jauh dari situ.

“Bu, ibu tau ga toilet yang paling deket dari sini di sebelah mana ya?”

“Ga ada, semua pada rusak! Kalau mau ke toilet sono cari cafe!”

“Maksud Ibu cafe yang sebelah mana?”

“Ya cafe yang mana2 aja, kamu beli kopi apa pa kek di situ… Ntar kan bisa numpang pake toiletnya”

Ooohhh…, baru mudheng sayaaa…. 😀 Dan walaupun rada bete karena dijutekin sama ibu2 itu, akhirnya saya dan suamipun jalan menjauh dan mulai cari cafe yang paling deket dari situ. Masuk, duduk, order kopi dan coklat panas sama beberapa potong roti, walaupun sebenernya kami ga sedang laper.  Yang penting bisa numpang ke toilet. Abis itu, sambil ngobrol puas2in deh mondar2 ke restroom. Ogah rugi banget judulnya… 😀

Setelah yakin kantong urin sudah bener2 kosong, saya pun minta bill. 30an Euro sajaaa…. Dan jadilah itu pengalaman bayar toilet saya yang termahal di dunia 😀

Amsterdam in 13 hours. Part 2

Dari Rembrandt Square, Alex mengajak kami untuk sarapan di sebuah cafe langganannya  yang terletak ga jauh dari situ. Namanya Eetsalon Van Dobben. _DSC0129Eetsalon ini ukurannya ga terlalu besar tapi tempatnya nyaman sekali. Sudah berdiri di sana sejak puluhan tahun yang lalu. Kata Alex, dia sudah jadi pelanggan Van Dobben selama 3 generasi. Mereka menyajikan berbagai menu tradisional khas Belanda. Ada pea soup with ham, croquettes, dan berbagai jenis broodjes dan snacks. Pagi itu saya memesarn roti dengan isian veil (daging anak sapi) seharga 3,75 euros,  sepotong croquette seharga 2,75 euros dan secangkir coklat panas yang saya lupa harganya 🙂 Rasanya enaaakkk sekali! Veil nya lembut dan juicy. And the croquette was excellent!

Selesai menyantap sarapan yang super yummy, kami melanjutkan perjalanan menyusuri pertokoan di sepanjang Regulierbreestraat yang menghubungkan Rembrandtplein dengan Muntplein. Letaknya ga jauh dari Amstel Canal. Alun-alun Muntplein ini sebetulnya adalah sebuah jembatan besar dan merupaka jembatan yang terlebar di Amsterdam. Membentang di atas sebuah kanal yang menghubungkannya dengan sungai Amstel. Di Amsterdam, semua jembatan diberi nomor, dan muntplein adalah jembatan no. 1. _DSC0144 - Version 2Tepat di tengah muntplein kita bisa melihat sebuah menara besar dengan sebuah jam bundar di tengahnya. Ga jauh dari situ ada restoran Mc Donalds yang pertama di Amsterdam. Dan di seberangnya ada Burger King, warung burger terenak di dunia, menurut saya. Hehehe…

Di seberang muntplein kita akan disambut dengan meriahnya blumenmarkt. Orang Belanda pada umumnya memang sangat menyukai bunga. Konon, hampir sepanjang tahun kota2 di Belanda selalui dihiasi dengan berbagai macam bunga cantik, khususnya bunga tulip yang jadi bunga khas negeri itu. Hampir setiap tahun selalu ada varian baru dari bunga tulip. Jadi bisa dibayangkan betapa beraneka ragamnya bunga itu sekarang. Ada ratusan warna, bentuk dan corak. Belanda memang sangat serius membudidayakan bunga cantik asal Turki ini dan menjadikan keindahannya sebagai salah satu sumber devisa. _DSC0179 Selain deretan bunga2 cantik beraneka warna, canabis dan cabe rawit, di sepanjang blumenmarkt kita juga bisa menemui banyak toko suvenir, toko keju dan restoran2 yang menjual masakan Indonesia 🙂 _DSC0181 Saya sebetulnya tergila2 dengan berbagai jenis keju yang dijual di sana. Ingin sekali rasanya bawa barang satu-dua karung buat anak2. Tapi apa daya… tangan tak sampai 🙂 Kapan2 saya ajak aja anak2nya ke sana, biar mereka bisa makan keju sepuasnyaa… _DSC0178 Selain kanal2 cantik, bunga aneka warna dan keju aneka rasa dan ukuran, pemandangan unik lain yang bisa kita temui di Amsterdam adalah deretan sepedanya. Penduduk Amsterdam memang sangat suka bersepeda dan Amsterdam adalah kota yang sangat memperhatikan pengguna sepeda. Di mana-mana terdapat jalur khusus untuk sepeda. Mobil dan motor pun akan mengalah jika berhadapan dengan sepeda.  Salah satu alasan mengapa penduduk Amsterdam lebih suka naik sepeda dari pada motor atau mobil adalah karena sepeda bebas biaya parkir. Sementara ongkos parkir mobil di sana itungannya mahaaal sekali.

_DSC0214

Walau pun para pengendara sepeda di Amsterdam umumnya sudah sangat mahir, tapi kita tetep harus hati2 dan waspada. Mereka kadang suka ngebut dan ga jarang nabrak orang yang berjalan ga pada tempatnya. Sadis ga siiihhh….

Anyway…, mari melanjutkan perjalanan kita…

Tujuan selanjutnya adalah Dam Square. Letaknya sekitar 750 meter dari centraal station. Bentuknya persegi panjang dan menurut data di Wikipedia, alun2 ini mempunyai panjang sekitar 200 meter dan lebar sekitar 100 meter. Di ujung barat alun2 ini berdiri sebuah bangunan klasik yang disebut Royal Palace. Sejak 1655 Royal Palace berfungi sebagai city hall, sampai kemudian pada 1808 fungsinya berubah menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan Belanda.

_DSC0225

Persis di depan Royal Palace itu ada kedai penjual hotdog, beberapa orang kemudian sering menyebut bangunan ini dengan Hot Dog Palace 🙂

Di sudut square yang lain ada museum liin Madame TussaudNiew Kerk dan Magna Plaza. Magna Plaza yang dulunya merupakan bangunan kantor pos besar ini adalah mall pertama di Belanda yang buka pada hari Minggu (sejak 4 tahun terakhir). Sebelumnya, semua mall dan pusat perbelanjaan di Belanda tutup di Hari Minggu. Dulu setting nya Hari Minggu adalah hari untuk orang beristirahat dan beribadah ke Gereja. Ironisnya, saat ini ada banyak bangunan gereja di Belanda yang sudah tidak berfungsi lagi sebagai tempat ibadah. Sebagian malah telah dijual dan dialihfungsikan. Termasuk Niew Kerk atau New Church yang dulu merupakan tempat dilaksanakannya pemberkatan nikah dan pentahbisan/penobatan keluarga Kerajaan seperti Ratu Beatrix dan Raja Willem Alexander, sekarang sudah tidak digunakan sebagai tempat ibadah lagi. Saat saya berkunjung ke sana, di Niew Kerk malah sedang digelar acara Ming Dynasti Exhibition…

Image 2

Owiya, ada satu hal yang menarik lagi… Dalam perjalanan menuju ke Dam Square, kami sempat melintasi sebuah Departemen Store, De Bijenkorf. Depstore ini menjual barang2 mewah dari berbagai merk terkenal di dunia. Setiap hari De Bijenkorf tutup pada pukul 6 sore, kecuali untuk para wistawan dari Cina. Jam berapa pun rombongan wisatawan Cina datang, departemen store ini akan dibuka khusus untuk melayani mereka. Hebat yaa… 🙂

_DSC0223

Lanjuuuuutttt…..,

Berikutnya kami naik trem menuju ke museumplein. Sebuah lapangan besar di bagian utara kota dimana berdiri 3 meseum besar: Rijksmuseum, Van Gogh Museum dan Satadelijk Museum. Ada juga gedung pertunjukan Concertgebouw, Consulate of United State dan Diamond Museum.

Suasana di sekitar museumplein itu sangat menyenangkan. Ada banyak area terbuka di mana penduduk kota dan para wisatawan bisa duduk2 sambil menikmati udara musim gugur yang sejuk, dan tentu saja berfoto ria 😀 Menurut cerita Alex, lapangan besar itu juga biasa digunakan oleh para pencinta klub sepak bola Ajax untuk merayakan pesta kemenangan klub mereka.

_DSC0254

Setelah duduk2 sejenak untuk melepas lelah, kami lalu berjalanan kaki ke Peter Corneliz Hoofstraat. Sebuah shopping street yang sangat terkenal di Amsterdam. Di sepanjang PC Hoofstraat itu berderet toko dan butik mewah dari berbagai merk terkenal. Mulai dari Hermes, Chanel, Cartier, Gucci, Louis Vuitton dan teman2nya… 🙂

Di ujung shopping street itu ada satu restoran masakan Indonesia yang sangat terkenal, Sama Sebo. Restoran ini adalah salah satu restoran Indonesia tertua di Negeri Belanda dengan rijstafel sebagai specialty nya. Rijstafel itu adalah jenis penyajian makanan seperti yang biasa kita liat di Rumah makan Padang. Menunya seperti menu rasi rames, ada nasi, sate ayam, semur daging, tumis sayur, telor dadar, sambel goreng tempe, oseng tahu, kerupuk, acar, dan lain-lain. Harga yang ditawarkan adalah harga paket.

_DSC0263

Kenapa fotonya cuman dari luar, karena kami memang ga mampir untuk makan di sana. Harganya bikin kepala sedikit pening…. Hehehe… 😀 Harga 1 porsi telor dadar isi 8,25 euro. Seporsi tahu goreng 3,75 euro. Mendingan nunggu pulang ke Jakarta aja yaa…

Walaupun menu yang disajikan di rijstafel ini adalah menu2 khas Indonesia, sebetulnya budaya rijstafel sendiri berasal dari jaman kolonial. Pada masa pendudukannya di Indonesia, orang Belanda menyajikan rijstafel ini untuk menjamu keluarga atau para tamu istimewa mereka. Berbagai hidangan khas negeri kita yang kaya akan rasa, bentuk dan aroma itu selalu berhasil membuat tamu2 mereka terkagum2.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_familie_C.H._Japing_met_tante_Jet_en_oom_Jan_Breeman_aan_de_rijsttafel_Bandoeng_TMnr_10030167

Rijsttafel in Dutch family in Bandung (West Java) in 1936. (Picture taken from http://en.wikipedia.org/wiki/Rijsttafel)

Dari PC Hoofstraat, petualangan kami lanjutkan ke taman kota terbesar di Amsterdam, Vondelpark. Taman ini biasa dikunjungi oleh setidaknya 10 juta orang dalam setahun. Di musim semi orang2 datang ke Vondelpark untuk menikmati indahnya bunga2 yang bermekaran. Sementara di musim panas, orang2 datang ke sana untuk berpiknik, berjemur di bawah sinar matahari atau menonton konser musik.

Di seberang Vondelpark kita bisa melihat Holland Casino. Menurut Alex, casino ini sepi dan ga banyak peminatnya. Tapi beberapa restoran dan pubs di sekitar Holland Casino itu terlihat cukup banyak pengunjungnya. Kebanyakan dari mereka duduk2 sambil menikmati beer dingin dan pemandangan perahu2 wisatawan yang lalu lalang di canal cruise.

_DSC0272 - Version 2
Dari Holland Casino, terus kemana lagi?

Ceritanya to be continued yaaa….
Mau istirahat dulu… Kepala panas abis tuponas 🙂

 

Amsterdam in 13 Hours. Part 1.

Waking up in a beautiful city like Amsterdam was really something. Sesuatu banget! Rasanya saya begitu bersemangat. Saya punya setidaknya 12 jam penuh untuk mengeksplorasi kota cantik itu.

Jam 9 pagi, saya ketemu dengan Alex, seorang kawan baik yang kami kenal di Jakarta. Alex sudah tinggal di Amsterdam sejak tahun 70an. Dia seperti punya blue print kota Amsterdam di dalam kepalanya. Hafal betul dengan jalan2 dan bangunan2 dalam kota itu. Seperti seorang saksi sejarah, Alex banyak berbagi cerita tentang perkembangan Amsterdam. Dan saya merasa sangat beruntung.

DSC03850

Petualangan seru kami dimulai dari Waterlooplein. Sebuah alun2 yang terletak di pusat kota Amsterdam. Nama Waterlooplein diambil dari peristiwa Pertempuran Waterloo yang terjadi pada 18 Juni 1815, dimana pasukan Napoleon berhasil dikalahkan oleh pasukan Inggris-Belanda-Jerman. Pertempuran yang terjadi di dekat kota Waterloo yang terletak sekitar 15 km selatan ibu kota Belgia, Brusses ini merupakah akhir dari karir Napoleon di Kekaisaran Perancis.

Di salah satu sudut alun2 Waterlooplein, terdapat sebuah flea market, semacam pasar loak yang banyak dikunjungi wisatawan. Awalnya Waterlooplein Flea Market disediakan oleh pemerintah kota untuk para pedagang Yahudi, hingga ditutup pada tahun 1941 saat terjadi peristiwa pembantaian kaum Yahudi oleh Jerman Nazi dan dibuka kembali setelah Perang Dunia kedua usai.

DSC03859

Banyak barang2 antik yang unik dan menarik bisa kita temui di sana. Ada suvenir, kerajinan, tangan, lukisan, pakaian dan asesoris, bibit bunga tulip, bahkan sepeda. Dan yang mungkin hanya bisa kita temui di sana: cannabis! Mulai dari bibitnya, pohonnya, sampai berbagai produk olahan cannabis dijual bebas di sana. Seperti permen, manisan dan kue2 yang mengandung cannabis.

DSC03863

Dari Waterloopleinmarkt, perjalanan kami lanjutkan ke Rembrandtplein. Jaraknya hanya sekitar 10 menit jalan kaki. Tapi kalau males, kita juga bisa naik tram. Untuk keperluan berkeliling kota, saya membeli GVB Day Pass seharga 7,5 euro. Bisa dipake sepuasnya buat naik tram, bis atau metro.

_DSC0118

Rembrandtplein atau yang juga dikenal dengan Rembrandt Square merupakan salah satu alun2 yang paling terkenal di Amsterdam. Nama alun2 ini diambil dari nama seorang seniman lukis terkanal Belanda, Rembrandt van Rijn yang pada tahun 1639-1656 menempati sebuah rumah tidak jauh dari situ.

Alun2 ini dulunya merupakan sebuah benteng yang dibangun untuk melindungi kota dari serangan musuh. Tempat yang sekarang menjadi lokasi monumen Rembrandt sendiri dulunya  merupakan pintu gerbang masuk ke dalam kota. Sejak tahun 1665, kota itu mulai menjadi tujuan yang menarik bagi para petani dan peternak yang tinggal di sekitarnya. Mereka membawa hasil olahan ternak seperti mentega, susu dan daging untuk dijual di sana. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Botermarkt atau Butter Market. Sejak tahun 1668, pada setiap musim gugur, di sana akan digelar pesta rakyat dengan berbagai pertunjukan seni, tarian dan sirkus.

Pada tahun 1876,  patung Rembrandt hasil karya seorang pemahat Belanda bernama Louis Royer diletakan di pusat alun2 kota itu. Dan sejak itu Botermarkt pun berubah nama menjadi  Rembrandtplein. Dan sejak awal abad ke-20, di malam hari Rembrandtplein menjadi tempat berkumpulnya para seniman, anak2 muda dan buruh yang tinggal atau bekerja di sekitarnya. Menurut cerita Alex, dulu banyak seniman yang tidak punya tempat tinggal atau orang2 pendatang yang tidak punya tempat untuk menginap akan tidur di seputaran alun2 itu, dengan menggelar kain seadanya mereka tidur di bawah langit. Sekarang, di sekeliling Rembrandt square sudah dibangun banyak hotel, cafe dan restoran dan menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak diminati.

-to be continued-

Utrecht. A sweet reunion.

Dari Zaan, perjalanan kami lanjutkan ke Utrecht. Tadinya mau mampir ke rumahnya Sussie, tapi waktunya ga memungkinkan karena hari sudah makin sore, dan saya masih punya 2 agenda hari itu. Ketemuan sama Ecy di Utrecth dan mengunjungi sepupu saya Maya, di Tilburg.

Perjalanan dari Zaanse Schans ke Stasiun Utrecht makan waktu sekitar 45 menit. Jalanan seperti biasa lancar jaya raya. Kami menghabiskan waktu sepanjang perjalanan dengan ngobrol ngalor ngidul. Sampai stasiun Utrecth, kami ditraktir Sussie makan kroket Belanda yang super yummy. Sayang kroketnya ga sempet di foto, keburu ngilang… 😀

Di Utrecht kami sudah ditunggu sama Ecy sekeluarga, dan di sana juga saya berpisah sama Sussie dan Frank. Terima kasih banyak ya Sussie dan Frank… Untuk scarf-nya, untuk tumpangannya, untuk waktunya, untuk semuanya. Tuhan saja yang nanti membalas semua kebaikan kalian ya.. Doakan kami bisa segera kembali lagi dengan anak2 yaaa… 🙂

Saatnya reunian ngebut sama Ecy, Steve, Nathan dan Jojo… Setelah ngiter2 muterin stasiun untuk nyari tempat makan, akhirnya kami dapet kursi di Mc Donald. Iyaaa…, jauh2 ke negeri orang makannya malah di Mc. D. Hehehe… Soalnya, jam 5 sore tet, semua toko dan restoran di stasiun itu tutup. Si Mc Donald juga sebenernya sudah dalam rangka mau kukut2, tapi masih bersedia terima last order dari kami.
DSC03839

 

DSC03840

Kaget juga liat Nathan yang tau2 udah mau jadi anak bujang aja. Dan sekarang sudah ga bisa bahasa Indonesia… huhuhu…

Reunian saya sama Ecy kemarin itungannya jauuuuhhhh dari memuaskan. Masih pengen ngobrol, masih pengen kangen2an dan pengen mampir ke apartemennya Ecy juga sebenernya, tapi apa daya, mata dan badan sudah mulai ga bisa diajak bekerja sama. Maklum, setelah terbang hampir 15 jam dari Jakarta hari sebelumnya, saya belum sempat rebahan sama sekali. Rencana untuk ke Tilburg juga terpaksa di cancel. Dari pada ntar semaput di jalan…

Malam itu, saya naik train kembali ke Asterdam. Berjuang keras untuk ga ketiduran di kereta… Hari yang sangat melelahkan, tetapi sekaligus juga sangat menyenangkan. Puji Tuhan…