spend less vs. earn more

Saya bukan seorang multi milyoner. Setidaknya belum. Tapi saya banyak sekali ‘maunya’. Jadi gimana dooonnnggg?

Ya jelas saya harus berhemat! Bijaksana mengelola pemasukan, cerdas dalam mengatur pengeluaran.

Saya suka belanja di pasar tradisional karena bisa nawar. Dan kalau sudah langganan, kadang suka dikasih bonus ­čÖé Beli cabe 2000 dapet 5 biji, terus dikasih tambahnya 2 biji. Ga mungkin kejadian kalau belanja di supermarket.

Saya masak dan nyuci pakaian sendiri. Masak dan membawa bekal makanan dari rumah  disamping lebih murah, juga lebih sehat. Pakaian2 yang sensitif yang biasanya dimasukin ke laundry, saya cuci pake tangan. Supaya tangannya ga panas kena detergen, nyucinya pake sabun mandi sisa2 yang udah kecil.

Saya selalu usahakan agar anak2 cukup makan dan olah raga, biar mereka sehat dan ga gampang sakit. Karena kalau sampe sakit dan harus ke dokter, ngantrinya panjang dan bayarnya mahaaalll….

Kalau sampai anak2 sakit, saya usahakan untuk kasih obat2 alami dulu, kalau terpaksa baru dibawa ke dokter. Kalau batuk pilek, kasih susu anget dan minum nutrishake. Balurin dada, punggung, leher dan telapak kakinya pake vicks. Kalau batuknya agak parah, kasih nanas dan perasan jeruk nipis + kecap. Kalau pas mau musim hujan dan perubahan cuacanya drastis, kasih suplemen madu + minyak zaitun dan black seed oil.

Kalau makan di restoran, teliti dalam memilih menu. Jangan semua dipesen, terus akhirnya ga kemakan. Kalau pun ada makanan yang tersisa, saya ga sungkan untuk minta dibungkus dan dibawa pulang.

Kalau belanja di supermarket, saya suka bawa kalkulator kecil. Kadang harga susu yng 400 gram jauh lebih muranh dari pada kalau kita beli 2 x 200 gram…

Saat mau bayar belanjaan di kasir, saya selalu tanya, sedang ada promo apa hari itu. Apakah ada potongan/cash back kalau bayar dengan metode tertentu? Atau bisa redeem poin kalau bayar pake kartu kredit tertentu? Kalau mau beli barang2 yang spesifik, sehari sebelumnya cari referensi harga di internet.

Saya lebih suka berkomunikasi via bbm atau whatsapp dari pada sms atau telpon. Jauh lebih murah…

Di daerah Tanjung Priuk, Jakarta Utara ada tempat belanja yang namanya Pasar Uler. Kalau kita telaten dan teliti, bisa dapet barang2 bagus dengan harga sangat murah.

Anak anak saya biasakan untuk selalu membawa botol minuman mereka kemana2. Termasuk kalau kami makan di restoran. Ada restoran2 tertentu yang mengijinkan anak2 membawa minuman mereka sendiri, jadi anak2 tidak perlu pesan minuman lagi. Karena tokh anak2 saya hanya bisa minum air putih sesudah makan.

Saya juga mencoba berhemat dengan melakukan belanja online. Hemat waktu karena ga harus keluar rumah. Hemat bensin dan parkir juga. Parkir di Jakarta kan mahaaallll sekali. Bayangkan kalau saya harus ke Plaza Senayan untuk beli bedak dan lipstik. Perjalanan pulang pergi dari rumah ke Senayan makan waktu 1-2 jam. Bensinnya 5 litter. Parkirnya per jam 4.000. Empat jam sudah 16.000. Belum jajannya… Bisa jadi mahalan ongkosnya dari pada belanjanya. Sementara kalau saya order ke Oriflame, saya tinggal duduk manis di depan komputer. Klik klik klak klik. Dua hari kemudian barang dianter ke rumah.

Acara2 penting dalam keluarga, seperti perjalanan liburan, mudik dan syukuran selalu saya siapkan jauh2 hari sebelumnya. Dengan begitu saya punya cukup kesempatan untuk mencari harga2 dan alternatif yang paling ekonomis. Saya bisa menghemat dengan memanfaatkan berbagaii tawaran promo seperti early birds, buy one get one, cash back atau potongan harga untuk pembelian pada periode tertentu.

Kadang kala barang consumable yang harganya berkesan mahal, ternyata malah jatuhnya  lebih murah karena awet. Misalnya pasta gigi anak Oriflame yang saya pakai. Satu tube bisa dipake sama 2 anak untuk 1 bulan.

Dan masih banyak lagi….

Berhemat itu baik kaannnn…
Sayangnya, kadang berhemat saja ga cukup.

Biaya sekolah tiap tahun naik. BBM juga. Listrik juga. PDAM juga. Tiket pesawat juga ­čśÇ Ga ada yang turun selain hujan.
Dan kenaikannya ga berbanding lurus dengan penghematan yang sudah kita lakukan. Sudah diirit2, tagihan listrik tetep aja mahal. Sudah rajin belajar dan mengerjakan PR, uang sekolah tetep aja naik. Sudah mentaati peraturan lalu lintas, harga bensin tetep aja ga pernah ada diskon.

Terpaksa deh kita dihadapkan sama dua pilihan. Mengurangi pengeluaran, atau menambah pemasukan. Saya memilih menambah pemasukan.

Gimana caranya?
Bekerja!
Karena manusia memang harus bekerja. Dan saya memilih untuk bekerja sekarang, selagi saya masih bisa. Karena ga selamanya manusia bisa bekerja. 

Kerja apa?
Saya milih kerjaan yang bisa saya lakukan di rumah. Yang waktunya fleksibel. Yang boss nya ga suka marah2. Yang gajinya bisa buat nabung untuk kuliahnya anak2 nanti…

Dan ternyata, pekerjaan yang saya cari2 itu adaaa…
Sudah lama saya punya cita-cita pengen punya online store…

Dengan bergabung sama dBC, saya ga perlu lagi repot-repot bikin online store. ‘Toko’, ┬áfasilitas dan tools jualan yang saya perlukan sudah tersedia semua. Saya juga ga harus kuliah marketing dulu, karena banyak materi dan ilmu2 marketing yang diajarkan gratis di dBC. Saya juga ga perlu mengajukan kredit usaha ke bank, karena modal untuk jualan Oriflame juga relatif kecil. Dan kalau saya tekun dan konsisten, saya bisa punya penghasilan cukup buat pensiun. ┬áTinggal mau aja. Karena peluangnya ada…

Jadi begitulah…
Hidup memang selalu dipenuhi dengan pilihan.
Dan dalam Nama Yesus, kali ini juga saya yakin dengan pilihan saya…

sekarang saya sudah gabung di d’bc yaaa….

“when you have more,
you can do more,
you can give more… “

IBU DAN BIANCA.

“Ibu sekarang mau jualan Oriflame, Kak…”
“Hah?!?! Emang Ibu bisa? Ibu kan ga pernah pake make up…”
“Hehehe…. Nanti kan Ibu bisa belajar…”
“Ibu mau belajar sama siapa?”
“Ada, temen Ibu. Namanya tante Yulia.”
“Terus, Ibu nanti mau julanannya ke siapa?”
“Yaaa…, ke siapa aja yang mau beli dong… Hehehe ”
“Terus, caranya gimana?”
“Nah, yang itu juga Ibu baru mau belajar… ”
“Kenapa kok tiba-tiba Ibu mau jualan?”
“Sebenernya ga tiba-tiba juga kok, Nak. Ibu sudah belajar jualan dari waktu Ibu masih SD. Dan mungkin juga hampir sepanjang umur Ibu habiskan buat jualan. Nganterin kue-kue buatan Yangti ke warung juga jualan. Bantuin Bapak ikut tender juga jualan. Punya restoran juga kan jualan… Jualan itu asik lho, Nak. Kan kita jadi bisa dapet uang. Hehehe… ”
“Kalau aku ikut jualan, nanti aku juga bisa dapet uang?”
Of course, sayang… ”
“Kalau gitu, aku juga boleh ikut jualan, Bu?”
“Jualan itu sebetulnya sama saja dengan”bekerja”. Dan menjadi pekerja profesional itu ada waktunya. Dan karena sekarang Bianca masih anak-anak, belum waktunya buat Bianca bekerja. Sekarang Bianca bisa belajar sambil memperhatikan Ibu bekerja.”
“Terus, sekarang aku bisa bantu Ibu apa?”
“Bantu Ibu kasih semangat aja yaa… ”

BIANCA DAN BAPAK.

Pak, Bapak sudah tahu rencana Ibu mau jualan Oriflame?”
“Sudah.”
“Terus, Bapak kasih ijin?”
“Enggak”
Kenapa, Pak?”
“Kasian… Ibumu itu sudah terlalu banyak yang diurusin…”
Terus, kenapa Bapak ga ngelarang Ibu?”
“Ibumu itu kan keras kepala… ”
“Tapi kalau jualan nanti kan Ibu bisa dapat uang, Pak…”
“Biar Bapak aja yang cari uang…”
Terus, kalau Ibu tetap mau jualan gimana, Pak?”
“Yaaa…, Kakak bantuin Ibu kasih semangat aja terus yaa…”

SAYA DAN TUHAN.

“Tuhan, saya mau belajar bisnis lagi yaa…Seperti cita-cita saya, kalau Iyek sudah SD saya kan pengen kerja lagi. Tapi kali ini kerja yang kantornya di rumah saja. Yang kerjanya bisa disambi masak, nyuci dan nemenin anak-anak ngerjain PR.

Tolong berkati usaha dan cita-cita saya ya Tuhan. Supaya apa yang saya lakukan juga bisa jadi berkat buat banyak orang.

Amin.”