4 Hours Delay

tekapo

Tuhan itu kadang menjauhkan kita dari masalah dengan cara yang kita ga mengerti.
Ga lolos SBMPTN, ga diterima kerja, kalah tender, telat ngejar pesawat, bahkan batal menikah juga bisa jadi cara yg dipilih Tuhan buat menyelamatkan kita dari masalah.

Seperti pengalaman kami di Christchurch 2 minggu yg lalu.

Pagi itu kami harusnya pick up mobil sewaan di dekat airport jam 9 pagi. Kemudian jam 10 janjian ketemu di rumah tante Susy, ikut beliau ke acara potluck di Hororata, lanjut ke Lake Tekapo setelah jam makan siang.

Tapi semua rencana yg sudah diatur rapi itu satu persatu gugur dan jadi berantakan. Sepertinya adaaaa aja yg went wrong pagi itu.

Pertama SIM kami ketinggalan di penginapan. Butuh waktu 1 jam perjalanan pulang pergi untuk ambil SIM nya.
Lalu bis yg akan kami tumpangi untuk kembali ke Airport tetiba delay 40 menit.
Jadi butuh waktu hampir 2 jam sampai akhirnya kami tiba kembali di tempat sewa mobil.

Ga selesai sampai di situ, Customer Service yg membantu kami happened to be trainee. Jadi kerjanya rada lama.
Jenis mobil yg mau kami sewa ternyata kosong sehingga butuh beberapa menit extra utk cari penggantinya. Puji Tuhan akhirnya kami dapet mobil yg lebih baik daripada yg kami pesan.
Tapi kami sudah way behind schedule.

Saya coba untuk membatalkan janji saya dengan tante Susy, tapi beliau insist kami harus mampir ke Hororata.
Sampai Hotorata sudah jam 2 siang.Tadinya kami mau langsung pamit setelah makan sate dan cake yg rasa enaknya masih terbayang sampai sekarang. Tapi tuan rumah yang sangat baik hati menawarkan kami untuk take a short trip untuk melihat2 peternakannya. Karena keasikan liat sapi, domba dan sistem irigasi di farm, kami lupa kalau waktu sdh menunjukan pkl 4 sore.

Seorang teman menyarankan supaya kami membatalkan perjalanan ke Tekapo sore itu. Mengingat saat winter hari akan menjadi gelap lebih cepat. Sementara perjalanan ke Tekapo perlu waktu 3 jam. Apalagi kami masih asing dengan rute dan jalanan di NZ.

Dengan mempertimbangkan skedul kami yg sangat tight, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Tekapo. Sambil terus berdoa supaya Tuhan menolong melancarkan perjalanan kami.

Sekitar 2 jam kemudian, saat kami sampai di kota Geraldine, tante Susy telpon.
Jalanan menuju ke Lake Tekapo ditutup karena salju tebal. Mobil kami tidak dilengkapi dengan snow chain, jadi ga mungkin bisa lewat. Lebih baik puter balik, dan jangan meneruskan perjalanan karena terlalu berbahaya. Menurut kabar di media, ada 30-an kendaraan yg terpaksa diderek malam itu.

Saya langsung lemes dan segera telp ke penginapan yg sdh saya pesan di Tekapo.

Mereka bilang road block baru saja dibuka 3 jam yg lalu. The road had been cleared and now it is safe to drive to Tekapo!

Terjawablah sudah, kenapa sejak pagi hari sepertinya adaaaa saja hal2 yg menghambat perjalanan kami.
Ternyata Tuhan memang sedang bekerja untuk menghindarkan kami dari bahaya.
Kalau saja kami tidak terlambat 4 jam, mungkin mobil kami akan jadi salah satu mobil yg diderek malam itu. Belum lagi adanya resiko kecelakaan yg mungkin terjadi karena kami memang belum biasa berkendara di tengah badai salju.

Dengan perasaan yg masih deg2an, kami meneruskan perjalanan ke Tekapo. Jalanan licin, sepi dan gelap. Sejenak saya seperti sedang berada dalam sebuah scene film horor.
Berdoa terus.
Terus berdoa.
Berdoa terus-terusan.
πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

Akhirnya kami tiba di penginapan. Karena gelap dan sangat dingin, saya ga memperhatikan keadaan di sekeliling.
Sampai kamar pesan makan, membersihkan diri dan langsung istirahat.

Saat bangun pagi dan buka jendela kamar, saya nyaris berteriak karena kaget dan girang.
Pemandangan yg saya liat pagi itu cantiiiikkkk sekali. Danau yang tenang berwarna kebiruan dengan puncak gunung yang tertutup salju di belakangnya. Semburat sinar matahari pagi mewarnai bentang langit yg biru cerah dengan hiasan awan putih yg bergumpal dan bergerak beriringan.
Mungkin itu adalah salah satu pemandangan tercantik yg pernah saya liat sepanjang hidup saya.

Kami ga bisa berhenti bilang terima kasih sama Tuhan yang sudah menolong, menjaga dan menemani perjalanan kami malam sebelumnya, dan menghadiahi kami keindahan alam yang luar biasa pagi harinya.

GOD must love us very much…
Tuhan pasti sayang banget sama kami yaaa…
❀️❀️❀️❀️❀️

Jadi buat temen2 semua, kalau saat ini sedang merasa hidup ga berjalan sesuai dengan rencana yang kita harapkan. Bersabarlah. Jangan buru2 mengeluh dan menggerutu.
Tetaplah berbaik sangka sama Tuhan.
Karena mungkin saja saat ini Dia sedang bekerja untuk menjauhkan kita dari masalah dan bahaya.
Tetap percaya.
Percaya tetap.

Because unlike ours, His plans never fail.

Tetap semangat yaaa….
Dan jangan lupa bahagia.
πŸ’›πŸ’›πŸ’›πŸ’›πŸ’›

Bubuh Mebase

kajane

 

Pertama kali liat namanya di daftar menu sebuah restoran di Ubud, saya sempet ragu. Apakah saya akan doyan? Secara otak saya langsung mengirim sinyal2 yg menyatakan bahwa kombinasi antara bubur dan urab itu bukan sesuatu yg biasa.

Sebenernya saya doyan dua2nya.
Saya doyan bubur kalau disantap sama suwiran ayam, bawang goreng, seledri, kerupuk dan kecap asin + sambel.

Saya juga doyan urab kalau disajikan bersama nasi anget dan tempe goreng yg kemriuk.
Tapi kalau bubur disandingkan dengan urab sayur?

Entahlah….
Mari kita coba saja dulu…
😊😊😊😊😊

bubuh-mebase

Dan ternyata, rasanya enaaakkkk…
Ada rasa gurih, asin, manis dan juga pedas.
Bubuh mebase (bubur berbumbu) yg konon berasal dari Buleleng ini memang kaya akan aroma dan cita rasa rempah seperti kunyit, ketumbar, kencur bawang merah dan putih, cabai dan juga jahe.

Dinikmati hangat dengan secangkir teh atau segelas jeruh nipis panas saat sarapan pagi memang passss sekali.

Jadiiii, kalau teman2 sedang traveling ke tempat baru, jangan lupa untuk mencicipi kuliner khas daerahnya yaaaa….

Happy eating!
Happy traveling!!
❀❀❀❀

#bubuh_mebase
#wisatakuliner
#jaganti

Undangan Istimewa

Selalu seneeeennnggg deehhh, kalau dapet oleh2 dari temen2 yg abis jalan2….

Buat saya, suvenir oleh2 itu seperti kode panggilan atau undangan. 😍😍😍😍

Latvia, ini memang ada di list 100 negara yg mau saya kunjungi sebelum usia 70. Letaknya di Laut Baltic, berbatasan dengan Lithuania dan Estonia.Β 
Tahun 2013 yg lalu saya dan suami sempat mampir di Riga, tapi belum sempat eksplor negerinya.

img_1116

Terima kasih undangannya ya buΒ Fe Angka
Kami akan usahakan untuk segera memenuhinya ❀❀