Bendera Merah Putih

20120724124024687

Bendera merah putih
Bendera tanah airku
Gagah dan jernih tampak warnamu
Berkibarlah di langit yang biru
Bendera merah putih
Bendera bangsaku

Waktu saya jalan2 ke Turki kemarin, Lucy, Tour Leader kami cerita tentang bagaimana Bangsa Turki dididik untuk mencintai dan menghargai bendera mereka. Bendera yang melambangkan identitas dan kedaulatan Bangsa itu tidak boleh dipakai atau dijadikan gambar2 lelucon, tidak dijahit untuk pakaian dan tidak diletakan di tempat yang tidak semestinya, apalagi dirobek atau diinjak2. T-shirt bergambar bendera Turki masih diijinkan, tetapi sandal, rok, celana apalagi undies bergambar bendera Turki dilarang dipakai di sana karena dianggap merendahkan martabat bangsa serta melecehkan perjuangan para pahlawan kemerdekaan mereka.

Pagi tadi saya membaca sebuah posting di FB seorang teman tentang bagaimana Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan memungut bendera negaranya di acara KTT G20 di St. Petersberg Russia.

11233171_1671962753032729_5510359846539353134_n

 

Dalam sebuah sesi foto, Erdoğan yang tiba di tempat lokasi foto bersama PM Inggris, David Cameron, memungut gambar bendera yang berada di bawah kakinya. Padahal bendera-bendera tersebut sengaja diletakkan oleh panitia untuk menandakan posisi para pemimpin itu berdiri.  Sang Presiden tidak mau menginjak bendera negaranya sendiri. Ia pun memasukkan bendera itu ke dalam saku jasnya.

Saya jadi ingat jaman saya SMP dulu. Saya adalah aktifis kegiatan Pramuka di tingkat Kecamata dan Kabupaten  :)Pembina Pramuka selalu mengajarkan kami untuk menghormati bendera merah putih. Dasi pramuka kami yang terbuat dari sehelai kain panjang bermotif merah putih itu akan kami ikat silang di dada dengan penuh rasa hormat dan bangga. Setiap hari Senin, upacara bendera digelar, dan saat Sang Saka dikibarkan, kami akan memberi hormat dengan sikap penuh hikmat.

“Bendera merah putih ini adalah identitas negara kita, kebanggan bangsa kita. Pahlawan2 bangsa ini telah berjuang dengan suluruh kekuatan mereka untuk memerdekakan Indonesia dari tangan penjajah. Mereka harus berjuang keras supaya bendera merah putih bisa berkibar dengan gagah berani di bumi pertiwi ini. Kita harus bangga dan bersyukur. Kita harus jaga kehormatan bangsa kita, salah satunya dengan menghormati bendera merah putih ini….”

Begitu kurang lebih pesan nasionalisme yang diajarkan guru2 PMP dan PSPB di sekolah saya dulu. Dan saya akan terus mengingatnya, sampai mati.

Bendera merah putih
Bendera tanah airku
Gagah dan jernih tampak warnamu
Berkibarlah di langit yang biru
Bendera merah putih
Bendera bangsaku
(Ibu Sud)

 

Old City of Jerusalem (Promised Land Part 3)

Hari Sabat di Jerusalem.
Jalanan terlihat lebih sepi. Kendaraan yang lalu lalang di jalan lebih sedikit.
Restoran, toko2 dan beberapa mall yang letaknya di Jewish Area tutup.
Rencana jalan2 menyusuri Ben Yehuda Street dan mengeksplorasi Mahene Yehuda Market yang sudah saya susun sejak lama terpaksa batal dilaksanakan. Belum rejeki :)

Image

Sehari sebelumnya, beberapa jalan di Old City Jerusalem juga ditutup untuk keperluan shalat Jum’at di Al Aqsa. Polisi keliatan berjaga di sudut2 jalan. Karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, maka jumlah muslim yang datang untuk shalat Jumat di Al  Aqsa juga jumlahnya banyak sekali. Hari itu mencapai 200.000 orang.

Hotel tempat kami menginap kebetulan jaraknya dekat sekali dengan old city, hanya 15 menit jalan kaki. Penutupan jalan tadi membuat kami beberapa kali harus puter balik dan cari jalan alternatif. Akhirnya setelah sedikit melobi polisi yang sedang patroli di dekat Hotel, kami pun bisa sampai ke tujuan. Kalau saja waktu Polisi ga mengijinkan mobil kami lewat, berarti saya dan anak2 harus jalan cukup jauh juga. Memang rejeki :)

Saber bilang, lain kali kalau mau dateng ke Jerusalem jangan pas Ramadhan dan Sabbath. Tapi buat saya pengalaman kami kemarin itu justru sangat menarik. Dan saya sama sekali ga menyesal datang ke Jerusalem saat Ramadhan dan Sabbath. Ada banyak pengalaman unik yang ga bisa saya dapatkan kalau saya datang di waktu yang lain :)

Anyway,
Hari Sabtu pagi setelah sarapan kami mulai jalan menuju ke old city.

800px-Map_of_Jerusalem_-_the_old_city_-_EN

Old City Jerusalem terbagi dalam 4 wilayah, masing2 Moslem Quarter, Christian Quarter, Jewish Quarter dan Armenian Quarter. Kota ini dikelilingi oleh tembok tebal  yang juga berfungi sebagai benteng serta 7 buah gerbang yang dibangun pada masa kekuasaan Ottoman pada abad ke-16.

Screen Shot 2015-07-21 at 8.03.02 AM

Tujuan pertama kami pagi itu adalah kolam Bethesda yang terletak bagian utara kota. Nama Bethesda berasal dari bahasa  Ibrani dan Aram: beth hesda, yang berarti rumah rahmat/anugerah (house of mercy/house of grace). Alkitab meyebutkan, ada 5 serambi di sekeliling kolam Bethesda. Dan di serambi2 itu biasa berbaring sejumlah besar orang sakit (orang2 buta, orang2 timpang dan orang2 lumpuh) yang menantikan goncangan air kolam. Barangsiapa yang lebih dahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu akan menjadi sembuh, apa pun penyakitnya (Yohanes 5:1-4). Injil Yohanes mencatat sebuah mujizat yang dilakukan TUHAN Yesus pada suatu hari Sabat di kolam itu, DIA menyembuhkan seorang yang sudah menderita sakit selama 38 tahun.

DSC01549

Lokasi kolam Bethesda tidak jauh dari Lion’s Gate, sekitar 30 meter dari gerbang masuk, letaknya di sebelah kanan. Dulu Lion’s Gate disebut dengan Sheep’s gate atau Gerbang Domba, karena melalui pintu gerbang inilah domba-domba untuk korban penebus dosa digiring menuju ke Bait Allah. Pada masa kekuasaan Ottoman, Sultan Suleiman membangun gerbang ini dan menghiasinya dengan gambar2 singa (1538-1539), sejak saat itu gerbang domba pun berubah nama menjadi gerbang singa.

Lion's Gate

Lion’s Gate

Pada masa kekuasaan Roma, di abad ke-5  Eudica Augusta (istri dari Kaisar Theodosius II) membangun sebuah basilika besar di dekat kolam Bethesda, yang 1 abad kemudian dihancurkan oleh bangsa Persia. Lalu pada masa Perang Salib, di atas reruntuhannya dibangun sebuah chapel. Reruntuhan dan sisa2 bangunan2 itu kini berada tepat di atas kolam Bethesda. Jadi kalau sekarang kita mau mencapai kolam itu, kita perlu terlebih dulu menuruni anak tangga terbuat dari besi yang berada di bawah reruntuhan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Remains of a pagan temple, Byzantine basilica and Crusader chapel, Bethesda

 

Image 2

Sebelum turun ke kolam, anak2 main dulu di tempat reruntuhan bangunan yang ada di atas kolam. Seneng banget sampe ga mau diajak pulang :D

Image 1

Tangga turun menuju kolam Bethesda

_DSC0161

Kolam Bethesda

Berada dalam 1 komplek dengan kolam Bethesda, berdiri sebuah gereja Katolik, Santa Anna yang dibangun pada abad ke-11 dan merupakan salah satu peninggalan dari masa Crusaders. Lokasi ini dipercaya sebagai tempat di mana kedua orang tua Maria Ibu Yesus (Anna dan Joachim) tinggal, sekaligus tempat dimana Maria dilahirkan.

Tidak seperti nasib sebagian besar gereja2 di Jerusalem, pada saat kekuasaan Islam masuk, Sultan Saladin tidak menghancurkan St. Anna, tetapi mengubahnya menjadi sebuah madrasah yang pada abad ke-15 sempat menjadi sekolah yang paling bergengsi di sana. Hingga saat ini tulisan nama Madrasa as-Salahiyya (of Saladin) yang tertulis dalam bahasa Arab masih bisa kita temukan di gerbang masuk St. Anna.

_DSC0142

Setelah terbengkalai selama hampir 3 abad, akhirnya pada tahun 1856, Ottoman menyerahkan St. Anna kepada Napoleon III, sebagai ungkapan terima kasih atas dukungan Prancis kepada Ottoman pada saat berperang melawan Rusia pada Perang Krimea (1853-1856). Hingga saat ini St. Anna menjadi milik dan dikelola oleh  pemerintah Prancis.

DSC01573

 

Gereja St. Anna adalah Gereja yang mempunyai akustik terbaik di dunia. Menyanyi tanpa iringan musik di Gereja ini bisa menghasilkan suara yang sangat indah didengar. Seorang Father yang sedang berada di sana minta Benezra menyanyikan sebuah lagu. Dan saya hampir menangis waktu denger Iyek nyanyi…

Kudaki daki daki daki gunung yang tinggi
Kuturun turun turun turun lembah yang dalam
Kumelintasi padang rumput hijau membentang 
Yesus besertaku….

Di kanan Kau ada, di kiri Kau ada
Diatas dan dibawah Kau ada
Disuka Kau ada, diduka pun Kau ada 
Karna Engkau Yesusku….

Saya tidak sempat merekam moment istimewa itu dengan video camera, tapi saya tau suara merdu Benezra yang saya dengar saat itu akan tersimpan baik di dalam memori otak saya.

Dari St. Anna, kami melanjutkan perjalanan ke Western Wall, tempat umat Yahudi biasa datang untuk berdoa. Mereka biasa menyebut tempat ini juga dengan nama Wailing Wall, Tembok Ratapan.

DSC01576

Tembok ratapan yang ada sekarang merupakan sisa dinding Bait Suci di Jerusalem yang hancur ketika orang-orang Yahudi memberontak kepada pemerintah kerajaan Romawi pada tahun 70 Masehi. Panjang tembok ini aslinya sekitar 485 meter, dan sekarang sisanya hanya sekitar 60 meter. Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah berdiam kehadiran Ilahi, the Devine Presence. Di tempat ini orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan.

Tembok Ratapan. Gambar dari Wikipedia.

Tembok Ratapan. Gambar dari Wikipedia.

Kami datang ke tempat ini untuk membayar nazar, berdoa, menangis dan membawa banyak titipan doa dari orang2 terkasih di Indonesia.

Image 16

 

Selanjutnya kami menuju ku Mount Olives, Bukit Zaitun. Mount Olives adalah pengunungan yang berada di timur Jerusalem dengan 3 puncak yang membentang dari utara ke selatan. Dinamai Bukit Zaitun karena dulu lereng  bukti ini dipenuhi dengan perkebunan zaitun. Bukit ini mempunyai hubungan sejarah dengan agama Yahudi, Kristen dan Islam. Di tempat ini terdapat kuburan Yahudi yang sudah ada sejak 3000 tahun lalu dan memuat sekitar 150,000 makam, termasuk makam nabi Zakharia dan Absalom anak Daud juga masih ada di sana. Di lereng atas, terdapat makam nabi Hagai, Maleakhi dan rabi-rabi terkenal bangsa Yahudi.Image 15

Setelah hancurnya Bait Suci, orang-orang Yahudi merayakan Sukkot (Hari Raya Pondok Daun) di Bukit ini. Letaknya yang 80 meter lebih tinggi dari Bukit Bait Suci memunginkan mereka mendapat pemandangan reruntuhan Bait Suci dengan jelas. Itu sebabnya mereka selalu datang untuk melakukan ziarah ke bukit ini. Dan di tempat inilah mereka menjalankan tradisi meratapi kehancuran Bait Suci. Sebelum memasuki masa sengsaraNYA, TUHAN Yesus juga naik ke bukit Zaitun, dan dari sana DIA menangisi kota Yerusalem.

Image 14

Tiba saatnya untuk makan siang. Karena hari itu hari Sabat, banyak restoran di Jerusalem yang tutup. Saber menawarkan 2 opsi pada kami: makan Arabic Food di Moslem Quarter, atau makan Asian Food di Bethlehem. Kami pun melakukan pemungutan suara: Bapak dan Bianca pilih Arabic, Benaia Benezra pilih Asian, dan Ibu abstain. Akhirnya Saber ikutan voting supaya ada yang menang. And he voted for Asian :D

Bethlehem, July 2015

Bethlehem, July 2015

Perjalanan dari Jerusalem ke Bethlehem makan waktu sekitar 15 menit. Bethlehem yang artinya house of bread atau rumah roti ini adalah sebuah kota Palestina yang terletak di Tepi Barat, sekitar 10 km sebelah selatan Jerusalem. Dikenal juga dengan sebutan the city of David, kota dimana Daud lahir dan dinobatkan menjadi Raja, dan juga kota tempat Yesus dilahirkan. Di kota yang dihuni oleh salah satu komunitas Kristen tertua di dunia ini terdapat Nativity Church yang dibangun oleh Ratu Helena, ibunda Contatine the Great pada abad ke-3

Interior of Nativity Church. March 2012

Interior of Nativity Church. March 2012

 

Silver star marking the place where Jesus was born according to Christian tradition

Silver star marking the place where Jesus was born according to Christian tradition

Di sebelah timur Bethlehem terdapat sebuah kota kecil bernama Beit Sahour. Penduduknya 80% adalah orang2 Christian Palestinian dan sisanya 20% adalah Moslem Palestinian. Di kota kecil Beit Sahour ini terdapat satu lokasi pilgrim yang dikunjungi banyak peziarah dari seluruh dunia, yaitu the Shepherd’s Fields, di dalamnya terdapat sebuah Catholic Chapel yang dibangun pada abad ke-4. Tempat ini dipercaya sebagai lokasi Padang Gembala, tempat Malaikat TUHAN menyampaikan kabar gembira kelahiran Yesus kepada para gembala.

 

In the eastern part of Beit Sahur is a red-domed Greek Orthodox church at a site known as Kaniset el-Ruat (Church of the Shepherds). This site is identified with the biblical Tower of Edar (Tower of the Flock) where Jacob settled after his wife Rachel died. Eusebius (AD 265-340) says the tower, 1000 paces from Bethlehem, marked the place where the shepherds received the angel’s message.

Greek Orthodox church known as Kaniset el-Ruat (Church of the Shepherds). Beit Sahour, March 2012.

Sebelum pulang kami mampir ke Bethlehem City Center, mau beli KFC untuk camilannya anak2. Sayang KFC nya masih tutup, baru buka sore selama bulan Ramadhan. Dari Bethlehem kami kembali ke Hotel. Setelah buka puasa, kami akan jalan2 lagi untuk melihat keramaian di sekitar old city di malam hari. Kami janjian untuk ketemu Saber di lobby hotel pada pkl. 21.20.

The Lowest Place on Earth. (Promised Land Journey Part 2)

Setiap denger nama Jericho, saya selalu ingat sama cerita Sekolah Minggu tentang Yosua dan Kaleb dan tentang  sebuah kota yang berlimpah susu dan madu, serta sebuah lagu yang diajarkan Guru Sekolah Minggu saya:

Teretet, bunyi trompet umat Allah,
Teretet teteeeetttt…..
Berkeliling kota tak mengenal lelah,
Teretete teteeetttt….
Akhirnya tembok Yerikho Tuhan runtuhkan….

1280px-Jericho_Panorama

Foto dari wikipedia.org

Jericho adalah sebuah kota di dekat sungai Yordan di Tepi Barat, yang sejak tahun 1994 berada di wilayah teritori Palestina, jaraknya 55 km dari Jerusalem. Para ahli memperkirakan umur kota tua ini sudah lebih dari 10.000 tahun, dan dianggap sebagai kota tertua di dunia.

Kami melewati jalanan yang menurun menuju Jericho. Ini dikarenakan kota tua itu berada 258 meter dibawah permukaan laut. Dalam perjalanan menuju Jericho kita akan melewati titik 0 permukaan laut tsb. Jalanan yang dihiasi pemandangan gurun di kiri dan kanannya itu juga dikenal lewat cerita Alkitab tentang perumpamaan Orang Samaria yang baik hati, the good Samaritan. 

Image 22

Jalanan di sekitar titik 0 ini cukup sepi. Jadi kita bisa berhenti untuk foto2. Di situ saya melihat sebuah warung yang jualan kopi, minuman dan snack. Bener2 sendirian di tengah jalan yang sepi. Saya sempet liat seorang anak kecil dan seekor anjing yang menemani bapak2 muda pemilik kedai itu.

_DSC0035

Jalan menurun sedikit, saya ketemu sebuah karya seni yang bentuknya menarik. Di papan tertulis “Awakening. Sculptor: Or-Nah Ran”.  Karya seni cantik yang berdiri kokoh dan sendirian dalam apitan langit yang biru dan padang gurun yang kecoklatan. Sayang sekali karya seni cantik itu mulai dipenuhi coreng moreng graffiti orang2 yang sedang kesepian atau jatuh cinta.

DSC01532

Setelah melewati perjalanan sekitar 1 jam lamanya, kami pun tiba di kota Jericho. Kota yang dalam bahasa Ibrani berarti “the city of palm trees” ini ditumbuhi banyak sekali pohon kurma. Dan kurma Jericho yang berjenis Medjoul Date yang itu merupakan kurma yang terbaik di dunia. Medjoul Dates diberi julukan “the king of fruits” karena kualitasnya yang tinggi dan kandungan nutrisinya yang luar biasa.

Image 21

Selain julukan ‘the city of palm trees’, Jericho juga punya julukan lain: ‘the city of springs’. Banyaknya mata air yang tersebar di daerah ini membuat pemandangan Jericho menjadi sangat unik. Kita bisa menemukan banyak lahan hijau yang berada di tengah gurun yang gersang. TUHAN memang ajaib!

_DSC0054

Salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi di Jericho adalah Mount Temptation, sebuah perbukitan di Padang Gurun Yudea yang dipercaya sebagai tempat di mana TUHAN Yesus dicobai setelah berpuasa 40 hari 40 malam lamanya, seperti yang diceritakan dalam Alkitab (Matius 4:8).

Di atas salah satu puncak bukit kita bisa melihat sebuah bangunan biara Kristen Ortodox yang dikenal dengan nama Mt. Tempetation MonasteryBiara ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki (30-60 menit) atau lewat jalur cepat dengan menggunakan cable car (5-10 menit). Tidak seperti kebanyakan Biara Yunani, pengunjung wanita diijinkan masuk ke dalam Mt. temptation Monastery.

DSC01373

Mengakhiri kunjungan kami di Jericho, kami berhenti untuk makan siang di restoran yang sangat terkenal di sana, Mt. Temptation Restaurant. Kami sempat ketemu dengan beberapa group tour dari Indonesia yang juga berhenti di sana untuk makan siang. Restoran itu letaknya bersebelahan dengan situs arkelogi Tel-es Sultan, yaitu reruntuhan kota tua Jericho yang sudah berusia 11 ribu tahun.

Gambar dari Wikipedia

Gambar dari Wikipedia

Selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Dead Sea atau yang kadang juga disebut dengan Salt Sea. Sekitar seperempat jam perjalanan dari Jericho. Walaupun namanya Dead Sea yang berarti laut mati, Dead Sea sebetulnya bukanlah sebuah laut, melainkan danau yang karena ukurannya yang besar jadi terlihat seperti laut.

Image 19

Dead Sea terletak 423 meter dibawah permukaan laut, dan menjadi tempat paling rendah di seantero bumi. Dan karena air di danau ini memiliki kadar garam yang sangat tinggi, kita bisa dengan mudah mengapung di atas airnya. Hanya saja tingkat keasinannya yang mencapai hampir 9x lebih asin dibandingkan air laut pada umumnya, menyebabkan tidak ada hewan air yang bisa bertahan hidup di sana.

 

 

_DSC0706

Dead Sea, March 2012

_DSC0724

Satu lagi yang istimewa dari Dead Sea ini adalah lumpur hitamnya yang mengandung banyak mineral yang bermanfaat bagi kesehatan dan kecantikan kulit. Diantaranya:

– untuk detoksifikasi, mengangkat sel kuli mati dan mengangkat kotoran serta racun yang ada di kulit
– memperbaiki sirkulasi darah
– menutrisi kulit, bikin kulit jadi sehat, cerah, halus, lembut dan lembab
– menyembuhkan berbagai penyakit kulit
– membantu proses terapi untuk penyakit rematik, radang sendi dan osteoarthritis. Mereka yang pernah mengalami cedera otot atau baru menjalani operasi ortopedi juga bisa memanfaatkan black mud ini untuk membantu terapi penyembuhannya.

Oleh sebab itu, mereka yang berkunjung ke Dead Sea umumnya akan menyempatkan diri untuk mengambil  dan melumuri tubuhnya dengan black mud. Beberapa diantaranya bahkan membawa pulang black mud itu dalam botol2 atau container plastik. Katanya kalau sudah sampe di Indonesia bisa dijual dengan harga yang cukup mahal :)

_DSC0075

_DSC0723

Dead Sea, March 2012

Tapi kalau males bawa2 lumpurnya, kita juga bisa beli produk2 olahannya. Seperti sabun, masker dan berbagai kosmetik yang sudah dikemas dengan merk2 dagang seperti Ahava, Jericho dan Seacret. Produk2 ini banyak di jual di toko2, supermarket dan duty free shop di airport.

Cerita tentang Dead Sea ini mengingatkan saya pada seorang Ibu, teman rombongan saya di group tour sebelumnya. Beliau mengidap diabetes akut. Kakinya mengalami luka yang menurut dokter sudah tidak bisa diobati sehingga perlu diamputasi. Ibu yang sakit ini sempat mencelupkan kakinya di Dead Sea dan yakin kalau dia pasti akan sembuh. Malam harinya saya mendapat kabar kalau Ibu itu kesakitan, luka2 di kakinya nyaris tak tertahankan sampai Tour Leader kami perlu memanggil seorang dokter untuk menolongnya. Keesokan harinya saya melihat Ibu itu berjalan dengan kaki yang pincang.

Singkat cerita, beberapa minggu setelah kami kembali ke Indonesia, Ibu itu menghubungi saya dan bercerita kalau saat itu kakinya sudah sembuh! Dokter yang pernah menyarankannya untuk menjalani amputasi pasti bingung setengah mati…

Anyway…,

Udara yang sangat panas siang hari itu memaksa kami untuk tidak berlama2 di Dead Sea dan memutuskan untuk segera kembali ke Jerusalem dan menghabiskan sore sambil beristirahat di Hotel. Hari itu adalah hari Jumat, hari buka Sabat untuk orang Yahudi. Dan karena sedang musim panas, matahari baru terbenam sekitar pukul 8 malam, dan saat itulah Sabat dimulai.

Karena lelah dan lapar, kami turun untuk makan malam di hotel pada pukul 7.30 (sekitar jam setengah empat sore waktu Jakarta :D ). Sejam kemudian, ada rombongan keluarga2 orang Yahudi yang juga turun untuk makan malam. Jumlah mereka banyak sekali, mungkin sekitar 300an orang. Menarik sekali memperhatikan bagaimana mereka menjalankan tradisinya menyambut hari Sabat.

Besoknya saya mendapat informasi dari Saber, driver kami, bahwa Hotel tempat kami menginap merupakan salah satu hotel yang menyediakan makanan halal untuk orang Yahudi. Itu sebabnya setiap Sabat banyak sekali keluarga Yahudi yang menginap di sana. Mereka berkumpul bersama keluarga untuk merayakan Sabat. Menurut tradisi orang Yahudi, mereka tidak diijinkan untuk bekerja (termasuk memasak) pada hari Sabat. Jadi bagi mereka yang mampu, menginap di Hotel bersama keluarga memang jadi pilihan yang pas.

Lanjut lagi nanti yaaa…. :)

The never ending story.

Barusan abis chatting sama temen. Ngobrol ngalor ngidul, terus ujung2nya beliau curhat karena lagi galau. Mbaknya barusan ngabarin ga akan balik kerja lagi di rumahnya. Mau stay di kampungnya dulu karena ibunya sakit.

Saya ikut prihatin dengernya….
Inget jaman Bianca Benaia masih kecil dulu. Berita mbak ART yg memutuskan untuk ga balik lagi memang bisa jadi kabar yg mengerikan. Seperti sambaran petir di siang bolong.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jatiwarna Bekasi, 2006.

Di minggu2 pertama ngantor sesudah libur lebaran, obrolan sama temen2 kantor pasti topiknya seputaran nyari mbak. Ada yang Mbaknya belum bisa balik ke Jakarta karena ga dapet tiket, ada yg SMS bilang ga akan balik lagi karena mau dinikahin bapaknya, ada yg telp pamitan ga bisa balik karena ibunya sakit, dan banyak yg malah sama sekali ga ada kabar berita. Tiba2 aja si mbak seperti menghilang ditelan bumi.

Kalau udah begitu, sebagai ibu saya jadi kayak org yg disuruh makan buah simalakama. Mau bolos ga enak sama boss di kantor. Mau masuk kerja kepikiran anak2 di rumah.

Pernah suatu saat, waktu itu anak saya baru 1. Bianca umurnya 2 tahunan. Abis lebaran saya ga punya mbak. Saya mulai panik karena sebentar lagi harus ngantor dan belum ada org yg bisa jagain Bianca di rumah. Saya pun bikin list nama orang2 yg bisa saya mintain tolong buat jaga Bianca. Temen, sodara, tetangga, hasilnya nihil. Saking putus asanya, suatu hari dalam perjalanan ke Bandung lewat Purwakarta kami berhenti di satu restoran. Salah satu waiter-nya keliatan ramah sekali. Dan tanpa pikir panjang langsung saya dekati dan prospek. Dan bisa ditebak, mbak itu menolak tawaran saya.

Dan masih ada ratusan kisah galau lain seputaran topik ART ini. Geng ibu2 di kantor saya dulu menyebutnya: the never ending story. Sad, isn’t it…

Puji TUHAN, sekarang saya bisa jalanin bisnis Oriflame saya dari rumah. Tetap bisa punya penghasilan tanpa harus ninggalin anak2 lagi. Anugerah yang ga ternilai. Dan libur lebaran pun sekarang ga jadi moment yang menegangkan lagi :)

Semoga teman2 yg sekarang sdg galau juga nunggu si mbak pulang atau sedang nyari mbak baru, bisa segera dapet solusi yg terbaik yaaa…. <3 <3 <3

Because those angles, our children, they deserve the best.

Another Journey to The Promised Land (Part 1)

Perjalanan kami ke Jerusalem tahun ini adalah yang ketiga kalinya buat saya dan suami. Buat anak2, ini adalah kunjungan mereka yang kedua. Dua trip sebelumnya kami datang bersama dengan group tour. Pada kunjungan pertama, kami masuk ke Israel melalui perbatasan darat dari Mesir. Dan yang kedua, kami masuk melalui perbatasan di Amman, Jordan. Tahun ini kami ingin mencoba berziarah sekaligus bertualang ke Israel dengan masuk melalui pelabuhan udara Ben Gurion di Tel Aviv.

Tentu saja ada perbedaan besar antara “pergi sendiri” dengan pergi bersama group tour. Kalau ikut grup tour kita praktis ga perlu mikir. Check in tau beres. Koper2 sudah ada yang ngurus. Itinerary sudah disiapkan. Hotel sudah dipilihkan. Tinggal duduk manis dan nunggu aba2:

“silakan turuuunnn…”
“ayo naik ke biiiis…”
“5 menit lagi kita tiba di tempat makan…”
“besok pagi kita 6, 7, 8 yaaa…. Jam 6 wake up call, jam 7 breakfast, jam 8 kita berangkat….”

Kadang saya merasa seperti sedang melakukan pentas seni drama dimana saya berperan sebagai bebek yang lapar. Enak, sekaligus ga enak… Yang pasti pergi dengan group tour memungkinkan kita untuk mengunjungi puluhan tempat penting dalam waktu hanya beberapa hari saja. With a very tight schedule, of course…

Misalnya, di kunjungan kami yang pertama tahun 2012 silam, dalam 11 hari kami digiring melihat banyaaaakkk sekali tempat yang beberapa diantaranya terletak cukup jauh dari peradaban.

– Bermalam dan melakukan city tour seharian penuh di Dubai.
– Bermalam di Cairo
– Mengunjungi piramida dan sphinx
– Bermalam di St. Catherine di kaki gunung Sinai
– Mendaki Gunung Sinai
– Berlayar di sungai Nil
– Lanjut ke Laut mati
– Jericho
– Jerusalem
– Tiberias
– Galilea
– Kana
– Kapernaum
– Betlehem
– Qumran
– Gunung Nebo
– Dead Sea
– Nazareth
– Petra di Jordan
– Berziarah ke puluhan gereja
– Shopping di entah berapa banyak tempat. Mulai dari pabrik parfum di Mesir, toko suvenir murah2 di Betlehem, sampai nonton film dokumenter di diamond store di Tiberias.

Pyramid, Egypt. March 2012.

Pyramid, Egypt. March 2012.

Pada kunjungan berikutnya, kami memilih untuk hanya berziarah di Israel saja. Tidak ke Mesir atau pun Jordan, hanya sekedar transit di Doha, Qatar dan Amman, Jordan. Kami kembali mengunjungi tempat2 ziarah dan wisata yang sama di Israel, dengan tambahan 2 tempat baru: Gunung Hermon dan Megiddo atau the field of Armageddon. Yang lainnya praktis sama. Mulai dari toko suvenir yang kami kunjungi sampai restorannya pun nyaris sama. Mungkin karena kuatnya semangat kebersamaan dari para Travel Agent.

pigura no. 1

Dan tahun ini karena merasa terpanggil, dan setelah melalui perenungan panjang serta berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk kembali berziarah ke Tanah Perjanjian tanpa ikut group tour. Untuk pengurusan visa Israel saya dibantu oleh salah satu agent travel langganan saya di Jakarta. Dan ternyata pengurusan visa ini tidak sesulit yang saya bayangkan. Walau pun memang ada yang berbeda, karena Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel dan tidak ada kantor Kedutaan mereka di Jakarta.

Saya menyusun sendiri itinerary perjalanan kami dan memutuskan untuk menyewa van selama kami di sana. Saya rasa itu adalah pilihan yang paling pas karena kami travelling dengan membawa 3 anak dan ada beberapa tempat tujuan yg letaknya di luar kota Yerusalem.

Untuk penerbangan saya pilih Turkish Airlines karena setelah ziarah di Jerusalem kami akan melanjutkan perjalanan ke Istanbul dan beberapa kota lain di Turki.

Perjalanan dari Jakarta ke Tel Aviv makan waktu 11 jam. Cukup lama dan melelahkan. Berbagai film dan games yang disediakan di pesawat sangat membantu anak2 untuk membunuh kejenuhan saat mereka sedang tidak tertidur. Setelah transit kurang lebih 1,5 jam di Istanbul, kami melanjutkan penerbangan ke Tel Aviv, sekitar 2 jam lamanya.

_DSC0009

Tel Aviv adalah sebuah kota pelabuhan yang sangat modern dan merupakan kota kedua terbesar setelah Yerusalem. Selama delapan bulan, dari bulan Mei sampai Desember 1948, yaitu sampai dengan direbutnya Yerusalem, Tel Aviv juga merupakan ibu kota de facto Israel. Setelah itu Israel menetapkan Yerusalem sebagai ibu kotanya, namun hanya ada dua negara yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kedua negara itu adalah Elsavador dan Costa Rica. Sementara semua negara lain yang mengakui Israel masih menganggap Tel Aviv sebagai ibu kota de jure dan menempatkan semua kedutaan mereka di sana.

Pada tahun 2003 Tel Aviv ditetapkan menjadi salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO karena  keberhasilannya menjaga dan merawat arsitektur Bauhaus yang dibangun dari tahun 1930-1950-an.

Beberapa tempat bersejarah seperti Eretz Museum dan Yitzahk Rabin Center, pantai2 yang indah serta tempat2 hiburan malam adalah daya tarik yang mengundang banyak wisatawan datang ke sana.

_DSC0003

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Yerusalem, kami jalan2 dulu ke Jaffa untuk melihat bangunan2 yang ada di kota tua, menikmati pemandangan pantai sekaligus makan siang.

_DSC0017

_DSC0015

_DSC0028

Sebenarnya saya ingin sekali mampir ke Carmel Market, tapi perbangan panjang hari sebelumnya dan jet lag akibat perbedaan waktu antara Jakarta dengan Israel bikin anak2 jadi kurang bersemangat. Akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri dulu ekplorasi kami di Tel Aviv dan segera melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.

-to be continued :)