perempuan berdosa

entah sudah berapa banyak laki2 yang pernah menidurinya. perempuan itu sendiri mungkin sudah lupa. karena jumlahnya yang banyak, dan karena dia juga memang ga pernah menghitungnya.

saya pernah berpikir, mudah sekali perempuan itu jatuh cinta ya? tapi pertanyaan itu baru pantas diajukan kalau dia memang betul2 bisa jatuh cinta. karena ternyata, tidak selalu butuh cinta buat membiarkan para pejantan itu untuk menikmati kemolekan tubuhnya. cinta dan libido memang bukan saudara kembar dampit!

dia bukan pelacur! hanya seorang perempuan yang terlalu takut sendirian. juga mungkin suka sekali berpetualang.

saat mudanya, perempuan itu memang cantik. walaupun kulitnya kecoklatan, dan postur tubuhnya biasa2 saja. tapi belakangan saya mengerti, kalau buat sebagian pejantan, penampilan sempurna tidak selamanya perlu. kalau kata2 beraroma madu itu sudah mengalir dari bibir2 bergincu, dengan satu dua kancing baju yang terlepas, beberapa sentuhan di daerah2 strategis …. siapa yang perduli dengan warna kulit atau ukuran be-ha lagi?

saya masih sangat muda waktu perempuan itu sedang belia. jadi ga banyak yang saya mengerti tentang dia. tapi saya tau kalau suatu hari pada masa itu, ia berhasil menggandeng seorang laki2 sederhana untuk berdiri bersamanya di depan altar. beberapa bulan kemudian, seorang bayi laki2 lahir. bertubuh kecil. tapi bernama sangat besar: RN!

laki2 sederhana yang baik hati. yang karena cintanya pada perempuan itu, dengan penuh suka cita mau menjadi bapak dari bayi yang dilahirkannya. tidak perduli dari sperma siapa bayi kecil itu bermula. hanya beberapa tahun saya melihat laki2 sederhana itu bersamanya. setelah itu, saya ga pernah liat dia lagi.

beberapa bayi kecil yang lain juga sempat keluar dari perutnya. tapi semua pergi hanya dalam hitungan hari. hanya bayi laki2 bertubuh kecil tapi bernama besar itu saja yang bertahan hidup.

lalu kami terpisah jarak. hanya sesekali saya mendengar cerita tentang perempuan itu. sampai suatu hari, ada satu lagi laki2 yang berpakaian setelan jas lengkap yang berjalan mendampingi dia yang berpakaian gaun putih, menuju sebuah altar yang lain. lalu saya tidak pernah mendengar cerita tentang dia lagi untuk waktu yang sangat lama.

perempuan itu sekarang sudah tidak muda lagi. tapi sisa2 kecantikan masa mudanya ga pernah berhasil dihapuskan dari wajahnya. kulitnya masih kecoklatan. dan postur tubuhnya tetap biasa2 saja. sekarang, dia keliatan bahagia, dengan laki2 jangkung yang dipanggilnya ‘papi’. sayangnya kali ini dia belum berhasil memakaian kemeja putih, dasi dan setelan jas di tubuh laki2 itu, dan menggeretnya berjalan ke depan altar. mungkin suatu hari nanti, semoga sebelum mereka dipisahkan oleh maut.

keluarganya sudah berulang kali mengingatkan perempuan itu, supaya dia dan laki2 jangkung yang dipanggilnya papi itu menyempatkan diri, pergi ke salah satu altar, sebentar saja. setidaknya supaya setelah itu mereka bisa punya selembar kertas bernomor dan bertanda tangan itu. dokumen penting, yang bisa menyelamatkan mereka dari razia hansip, atau lirikan2 dan cibiran bibir para tetangga. karena bukankah hidup bersama laki2 yang bukan suaminya adalah sebuah perbuatan zinah, berdosa dan penuh cela? tapi mereka sudah dewasa. tidak ada yang bisa memaksa mereka.

saudara2nya yang malu dan marah pernah juga mengusir perempuan dan laki2 jangkung yang dipanggilnya papi itu. tapi beruntung, salah satu adik perempuannya masih membela dia. “biar bagaimana pun, dia adalah kakak kita. biarkanlah dia tetap tinggal di sini. mengenai apa yang diperbuatnya, biarlah itu menjadi urusannya dengan TUHAN“. begitu pembelaan sang adik.

perempuan itu sudah mulai beranjak tua. sudah mulai sering pusing2 dan masuk angin. sebentar saja terlambat makan, maag nya akan langsung kumat. sekarang, hari2nya dilalui bersama dengan laki2 jangkung yang dipanggilnya papi itu. satu hari bergandengan tangan, hari lainnya bertengkar seperti anjing dan kucing. hari berikutnya bermesraan kembali. mungkin memang jodoh. tak tau lah!

entah sudah berapa banyak laki2 yang pernah mengisi hidupnya, yang kita tau, setidaknya ada 2 laki2 dengan setelan jas yang pernah menemaninya berdiri sebentar di depan altar. tapi semua laki2 itu akhirnya meninggalkan dia. dan bukan hanya mereka, satu2nya anak laki2 nya juga akhirnya meninggalkan dia beberapa tahun yang lalu, pergi menyusul adik2nya.

di masa tuanya, perempuan itu banyak menghabiskan waktunya dengan berbagai kegiatan di rumah ibadah. berdoa. bagi dirinya sendiri, dan juga bagi orang lain. sesekali, menyebarkan nasehat2 dan kata2 pengharapan bagi orang2 muda, termasuk saya.

sebagai orang muda yang masih bau kencur dan penuh dengan kesombongan, terkadang muncul pertanyaan dalam benak saya: “perlukah saya menghabiskan waktu mendengarkan nasehat dari seorang perempuan yang menghabiskan begitu banyak tahun2 dalam hidupnya dengan berbuat zinah? bukankah dia tidak lebih dari seorang perempuan berdosa? apakah seharusnya saya juga mengusir dia dari rumahnya, seperti yang dilakukan saudara2nya?”

sebuah cermin kecil membantu saya menemukan sebuah jawaban. “mengenai apa yang diperbuatnya, biarlah itu menjadi urusannya dengan TUHAN”.

sementara itu, saya akan membenahi hidup saya sendiri dulu….

10 thoughts on “perempuan berdosa

  1. dont judge or you will be judged..ato lebih yang aku percaya menghakimi memang bukan bagian kita..bagian kita adalah mendoakan…

    Selama masih ada hidup..sepanjang itu juga kita masih punya waktu untuk kembali…

    nuke
    yg lagi kangen banget berdekatan dengan PANGERAN KEHIDUPAN…

  2. kita tidak berhak menghakimi orang lain, seperti juga orang lain tidak berhak menghakimi kita. tindak perbuatan manusia pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan oleh orang itu dihadapan Tuhannya. nah looo

  3. jd inget cerita yg hampir sama, tapi terjadi duluuuuu banget. waktu orang2 ingin melempar perempuan itu dgn batu, ini jawaban dr seorang guru yg maha bijak “barangsiapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”

    *tanpa bermaksud sok ngajarin :-)*

  4. Aku tak pernah menganggap pelacur sebagai orang berdosa. Kita tidak bisa menghakimi dia seperti itu. Dia hanya manusia yang mungkin harus bertahan untuk melangsungkan hidupnya … mungkin juga dia mencari cinta yang hilang … mungkin saja dia dulu tak tahu arah hidupnya …

    Adapun dia memberi nasehat … rasanya dia masih mempunyai hati untuk menolong sesamanya… supaya kita atau keluarga kita tidak menjalani hidup seperti dia … yang aku pikir hidup dia itu sungguh sangat berat sekali …
    Kita harus membuka pintu hati kita dan memeluknya dengan erat dan hangat …

    Duh koq hatiku jadi teriris begini dan pengen nangis aja … padahal aku tak pernah menangis…

  5. Henri Setiawan says:

    Mengapa harus di judge ? Memang naluri alami dari manusia adalah menghakimi, suatu hal yang berbeda dengan ajaran yang dipelajari adalah suatu hal yang salah, padahal belum tentu salah.

    Orang yang mau bertobat adalah orang yang tulus dan jujur, karena dalam bertobat juga diajarkan oleh YME, seandainya kita mendengarkan dari pengalaman yang luar biasa dan bisa menjadi pelajaran untuk kita, betapa berjasanya dia. Oleh karena itu tidak ada salahnya untuk mendengarkan nasihatnya dan kita yang dibekali dengan akal budi akan mengevaluasi mengambil yang baik dan membuang yang buruk. All just for our best.

    GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s