hari minggu yang lalu saya dan grup bodrex lengkap datang ke acara ulang tahun anak seorang kerabat. karena hari senin besoknya bianca sudah mulai ulangan umum, jadi perjanjiannya adalah, begitu acara ulang tahun selesai, kami harus segera pulang. bianca harus istirahat dan belajar. senin paginya bb sudah harus berangkat ke sekolah jam 5.30.
karena sudah ada rencana mau pulang gasik, selama oom badut teriak2 di dalam, saya langsung bersosialisasi dengan kerabat2 lain yang ada di sana. supaya, kalau pesta ultahnya selesai, saya bisa langsung pamitan.
acara selesai jam 5 lewat seperempat. jam setengah 6 lewat saya langsung main mata sama bapak, ngasih kode kalau kita harus siap2 pamitan.
“maaf ya tante…, budhe…, pakdhe…, kami pamitan dulu…”
“lho, kok cepet2 sih? kita kan ketemunya jarang2….”
“iya nih, bianca besok pagi ulangan umum, jadi mau belajar dan istirahat dulu…”
dari situlah mulai terjadi suatu percakapan yang menurut saya menarik.
menurut salah satu pakdhe saya yang gemar sekali belajar dan sekolah, anak ga perlu dipaksa disuruh belajar. nanti akan tiba saatnya dimana naluri anak untuk berkompetisi akan muncul, dan di saat itulah anak dengan sendirinya akan termotivasi untuk belajar.
interesting theory. i kind of like it too 😀 tapi pertanyaannya adalah, pada saat keinginan berkompetisi itu muncul, let’s say di saat anak beumur 10 tahun, apakah anak sudah merasa terbiasa dengan salah satu aktivitas hidup yang disebut “belajar” ?
keinginan berkompetisi dan motivasi untuk belajar boleh saja muncul, tapi kalau anak tidak terbiasa dengan kegiatan belajar, apa masih ada gunanya?
buat saya, kegiatan belajar adalah juga salah satu kebiasaan. sesuatu yang perlu kita tanamkan pada anak sejak dini. kalau kebiasaan itu sudah melekat pada diri anak, insyaallah, saat mereka lebih besar nanti, tanpa dipaksa pun mereka akan mengerti, kapan mereka harus belajar.
hehehe…, ulasan yang ga begitu bermutu ya? maklumlah, saya kan hanya ibu rumah tangga yang banyak belajar dari pengalaman dan feeling aja. jarang baca buku2 khusus tentang pendidikan anak 😛
eniwei, tanpa mengurangi rasa hormat pada para sesepuh keluarga, termasuk pakdhe budhe yang arif dan bijaksana, sore itu kami tetap melanjutkan proses pamitan. setelah mampir jajan siomay langganan di pondok gede, kami langsung pulang. cuci kaki tangan dan ganti piyama. belajar sebentar. terus tidur 😀