Posted: April 29, 2010 | Author: Lesca Boma | Filed under: children |
waktu benaia masih lebih muda, dia suka sekali dicium. jatah ciuman saya bisa mencapai 100 kali sehari, masing2 7 kali. 1 di pipi kiri, 1 di pipi kanan, 1 di jidat, 1 di dagu, 1 di idung, 1 di kepala, dan 1 di bibir. kadang saya juga masih boleh dapet bonus beberapa ciuman di perut dan keteknya
biasanya, setiap saya selesai mendaratkan ciuman2 itu, saya bakal dapet balasan ciuman bertubi2 dari bibir kecilnya. abis itu biasanya saya harus ambil tissue buat ngelap muka saya yang basah kena ludah yang biasanya jadi bonus di tiap ciuman benaia
belakangan, jatah ciuman saya sudah sangat dibatasi.
“ibu bolehnya cium aku 1 kali aja!”
“kenapa?”
“ga pa2… aku maunya ibu cium akunya 1 kali aja…”
“terus, bebe cium ibunya berapa kali?”
“yaaa…, teselah aku aja….”
terpaksa, saya berbuat sedikit curang. kalau benaia udah tidur, saya akan menyerang dia dengan sebanyak mungkin ciuman. dari ujung kepala sampai ujung kaki….
adiknya, benezra ,sampai saat ini masih jauh lebih kooperatif. benezra sukaaa… sekali dicium. kalau sudah beberapa jam saya ga mendaratkan ciuman di pipinya, dia dengan sengaja bakalan nempel2in pipinya di deket muka kita. minta dicium
kakaknya, bianca, semakin besar juga semakin susah dicium. ada aja alasannya kalau mau dicium… mau minum dulu lah, mau ke kamar dulu lah, ibu belum sikat gigilah…. kalau mau berhasil emang harus dengan cara serangan mendadak. tapi walau begitu, biasanya saya masih bisa cium2 bianca paling ga 4-5 kali sehari. kan ga dijatah kayak benaia
entah kenapa, saya memang hobi sekali mencium anak2 saya. tekstur kulit dan bau tubuh mereka bisa seperti sumber energi yang luar biasa… saya tau akan ada saatnya dimana saya hanya bisa mencium mereka sesekali saja. hanya pada saat2 tertentu. untungnya, saya masih tetap bisa mencium bapaknya, kapan saja saya mau. jenis energi yang saya dapat tentu saja lain. tapi dua-duanya sama2 luar biasa….
Like this:
Like Loading...
Posted: April 26, 2010 | Author: Lesca Boma | Filed under: berries for the soul, Other Stories | Tags: friends, ibu |
waktu empat belas tahun memang bukan waktu yang sedikit.
banyak hal bisa terjadi dalam empat belas tahun.
banyak yang berubah dalam waktu empat belas tahun…

empat belas tahun yang lalu adalah untuk terakhir kalinya saya dan keempat sahabat lengket saya berkumpul dalam formasi lengkap.
beberapa orang, termasuk ibu saya, menyebut kami sebagai “geng si berat”. saya rasa mungkin mereka memang punya visi yang jauh ke depan, setidaknya ibu saya. beliau sudah punya prediksi bahwa dalam empat belas tahun, kami benar2 akan menjadi segerombolan wanita yang “berat”.
kami bertemu untuk pertama kali tahun 1992. saat orientasi mahasiswa di kampus u-en-pe-a-de-u-en-pe-a-de-i-te-be-ja-ya…
entah bagaimana muasalnya, dari sekian ribu mahasiswa baru tahun itu, kekuatan alam telah mempersatukan kami dalam sebuah ikatan yang unik dan sakral: persahabatan.
in alphabetical order:

abbo.
paling rame, sekaligus jutek.
suka ngeliat orang pake ekor mata.
nyaris ga bisa berhadapan dengan publik tanpa lipstik merahnya.
di mata saya abbo ini adalah orang yang jujur. dia selalu ngomong apa adanya.
kalau suka bilang suka, kalau ga suka biasanya merengut.
saking jujurnya, kalau suatu saat kami makan di suatu tempat, dan kebetulan menunya ga berkenan di hati, dengan cueknya doi bisa menyeringai sebel sambil ngelempar sendok ke atas piring, “ih! meni ga enak gini sih makanan teh…”
maklum, abbo orang garut asli, jadi kalau marah, bahasa ibunya lah yang paling bisa menyalurkan isi hatinya.
setelah almarhum papi saya, mungkin abbo ini adalah orang berikutnya yang paling sering ngomelin saya waktu itu.
“kenapa elo teh pake baju itu ca? da meni ga matching sama celananya tau…”
“ih, elo mah meni hese diatur…”
“ari elu sejak kapan jadi berubah gitu?”
sampe terakhir kami ketemu kemarin, dengan gayanya yang khas, abbo masih juga mengkritik saya:
“kenapa elo teh meni gendut pisan sekarang ca?”
hehehe…., hanya karena semua itu abbo yang ngomong, saya sama sekali ga tersinggung
sebaliknya, pertemuan2 kami berasa kurang lengkap dan menjadi terlalu sepi kalau ga ada abbo.
perawakan kami yang seperti dua anak kembar tidak dampit, membuat kami kadang2 bisa tuker pake baju. tapi lebih seringnya sih, saya beli second-hand-an dari abbo
maklum, dibanding saya, abbo ini lebih maju dalam hal fashion. mungkin karena dia lebih sering nonton tv dari pada saya.
dalam urusan pribadi khususnya percintaan, abbo cenderung terutup. ga pernah ngenalin pacarnya sama temen se-geng-nya. mungkin malu. karena punya temen2 yang rada2 aneh …
saya dan abbo biasa menghabiskan waktu berjam2 di telepon. anehnya, itu kami lakukan beberapa jam sebelum akhirnya kami ketemu di kampus. entah apa yang membuat kami ga bisa menunggu .
selain sangat jujur, abbo juga adalah orang yang amat sederhana. saat temen2nya sibuk bercita2 ingin jadi dokter, insinyur atau traveller, abbo cukup bahagia dengan cita2nya sendiri: “ingin menjadi pengantin”. dan diantara kami berlima, abbo lah yang pertama kali memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya.
sekarang abbo hidup bahagia sebagai ibu rumah tangga dengan pria baik hati yang kami sebut pak kumis dan dua putri cantiknya, latanza dan kanza.
erin.
kadang saya berpikir, geng kami memang seperti sebuah meseum, dengan 5 manusia antik sebagai penghuninya.
tentang erin, saya butuh waktu berjam2 untuk menulis tentang dia. bukan karena ga punya cukup banyak ingatan tentang erin. tapi justru karena banyaaaakkk sekali yang saya ingat tentang dia. bingung yang mana yang mau saya tulis
erin tinggal di sebuah rumah besar. hanya dengan kakak laki2nya, dan kadang2 dengan seorang pembantu. ayah dan ibunya masih dinas di luar kota, hanya sesekali saja mereka datang.
entah sudah berapa ribu kali saya menginap di rumah erin. sebuah hubungan mutualisma. erin dapet temen, saya dapet tumpangan. sama2 mendapat manfaat
salah satu hal yang saya kagumi dari erin adalah sikapnya yang tidak oportunis. dan tidak sombong. sebagai anak kepercayaan, selama orang tuanya tinggal di luar kota, erin lah yang memikul tanggung jawab untuk mengurus semua kebutuhan rumahnya. mulai dari bayar listrik, telpon, service mobil, sampai belanja, masak dan ngepel
walaupun tentu saja semua dananya ditransfer dari “si papah”. tapi ga sekalipun erin mengkorupsi atau melakukan mark up atas biaya2 kebutuhan rumah tangganya. kalau saya mungkin sudah gelap mata… hehehehe…
jaman segitu, saya suka sekali kalau diajak nginep di rumah erin yang megah itu. saya suka dengan piring2 makannya yang lebar, bersih dan cantik. dengan sendok garpunya yang berat. dan tentu saja dengan menu makanannya yang enak2. suatu hari erin menyuguhkan menu cah kangkung dan semur daging saatsaya menginap di rumahnya. dan malam itu kami berdua menikmati makan malam di meja makan besar, layaknya dua nyonya besar. rasanya, sampai hari ini saya masih bisa merasakan betapa lezatnya makan malam saya hari itu…
erin juga biasa membiarkan saya memakai bedak dan lipstiknya. favorit saya waktu itu adalah lipstik berwarna plum, entah apa merknya. dan saya selalu merasa lebih cantik kalau pergi ke kampus dari rumah erin
erin juga terkenal tidak pernah mencontek. pernah sekali waktu, saat kami sedang ujian, abbo sempat melirik lembar jawaban yang tergeletak di meja erin. masih bersih. spontan dengan penuh cinta dan semangat persahabatan yang membara abbo menawarkan jawaban atas soal2 ujian yang sudah diselesaikannya. tapi dengan rendah hati erin menjawab:
“nggak ah, bo… hore!” (hore adalah kependekan dari hoream, bahasa sunda untuk males)
erin menyusul menjadi pengantin setelah abbo dan saya. sayang saya ga bisa dateng di acara pernikahannya. waktu erin telepon saya untuk menyampaikan undangannya, saya sedang menangis tersedu sedan menyaksikan bayi perempuan saya tergeletak di ruang iccu anak, sekarat…
saat ini erin juga hidup bahagia dengan suami gantengnya yang mirip ricky subagja dan anak laki2nya, deva.

fitri.
satu2nya orang ibu kota di geng kami. bertubuh paling besar. dan beruang saku paling besar
selain di rumah erin, saya juga sering menginap di tempat kost fitri. lumayan, buat ngirit2 uang transport. secara waktu itu saya tinggal di padalarang, 20 kilo jaraknya dari bandung. butuh waktu 1-1,5 jam perjalananan dari rumah saya ke kampus. dan sekitar sepuluh ribu rupiah buat bayar bis dan angkot.
saya pun jadi begitu akrab dengan si kijang biru, mobil kesayangan fitri jaman itu. tentu saja sebatas jadi penumpang. saya kan ga bisa nyetir…
entah berapa kali sudah fitri ini menjadi dewa penolong buat saya, terutama di saat2 saya kelaparan.
sebagai mahasiswi, koleksi buku2 pelajaran fitri juga terhitung lengkap. hampir setiap musim ujian fitri akan meminjamkan buku2nya buat saya. dan saya akan berusaha untuk belajar duluan. beberapa hari sebelum ujian, saya akan mengembalikan buku2 ke fitri buat dia pake belajar. saya ingat betul, ada beberapa teman yang penasaran ngeliat saya yang santai2 aja menjelang ujian. ga keliatan nenteng atau baca2 buku lagi. hehehe…, sekarang mereka tau jawabannya
fitri juga pernah menjadi penyelamat saat saya harus bayar uang kuliah. biasa…, ngutang tanpa bunga
kalau ga salah waktu itu saya pinjam 250 ribu. yang saya ga ingat, dari mana saya berhasil dapat uang buat bayar utang itu. yang pasti ya rejeki halal dari tuhan
sebagai anak bungsu, fitri sangat disayang sama babenya. dikit2 dikirimin duit…
fitri paling seneng kalau kebetulan kena flu, batuk dan pilek. begitu suaranya jadi bindeng, dia akan langsung telpon babenya:
“loe kenapa fit? sakit ya?”
“iya nih be…”
“ya udah, ntar babe kirimin duit yaaa…”
di saat2 terakhir kuliah, saya dan fitri magang di tempat yang sama. di sebuah pabrik tekstil di kawasan industri di daerah padalarang. diantara kami berlima, saya dan fitri memang yang terakhir lulus. mungkin karena kami terlalu asik dengan urusan kami yang lain… saya sibuk nyari duit buat nyelesein kuliah, fitri sibuk mondar2 mandir jakarta bandung
fitri juga punya darah bisnis yang cukup kentel. jaman segitu, fitri pernah mendirikan sebuah toko pakaian di daerah dago. tentu saja, kami adalah pengunjung setia toko itu. ga jelas tujuan kunjungannya apa. antara liat2 koleksi bajunya, pinjem telepon, ngeceng, atau sekedar membunuh waktu saja. sayang toko itu ga bertahan lama. mungkin karena kemampuan manajemennya yang saat itu belum mateng. buktinya saat ini fitri sudah punya bisnis lain yang jauh lebih bagus. yang mampu mewujudkan impiannya buat keliling dunia.
setiap kali saya ngeliat foto2 fitri di album facebook nya, moscow, san fransisco, roma, yunani, rasanya saya ingin meneteskan air mata. bangga luar biasa. dengan sedikit iri… hehehehe…
saya ingat saat2 dulu kami berdua sering duduk2 sambil menceritakan mimpi2 kami, dan kami punya 1 mimpi yang sama: “keliling dunia”.
dan ternyata fitri berhasil meraih mimpinya duluan. dan saya akan segera menyusul.

ratih
adalah penghuni museum yang paling tenang.
saya masih ingat betul bagaimana ratih mengatur kamar kosnya.
ada 1 tempat tidur single yang sepreinya nyaris ga pernah berkerut.
1 lemari baju yang isinya dilipat dengan tingkat ketebalan dan lebar yang sepertinya diukur dulu.
1 meja belajar dengan buku2 yang disusun luar biasa rapi. dan suatu kali, dengan sebuah kalender dinding kecil buatan tangannya sendiri. lengkap dengan gambar dan deretan angka2 sebagai tanggalannya.
di salah satu sudut, ada sebuah rak kecil. dengan beberapa peralatan makan khas anak kos yang tertata rapih di atasnya.
saya ga pernah berhasil mengatur kamar saya serapih kamar ratih, bahkan sampai hari ini…
rasanya di antara kami berlima, ratih adalah anak yang paling lempeng dan stabil. saat saya dan abbo asik nyoba2 lipstiknya fitri yang berwarna hitam yang katanya sedang ngetrend di jakarta dan singapur, ratih tetap bertahan dengan pelembab bibir andalannya. saat erin dan abbo ribut nyari tiket buat nonton bon jovi di jakarta, ratih tetap asik dengan kaset2 kla projectnya.
selain ketenangannya, saya juga selalu kagum dengan kulit putih bersihnya, dan rambut hitam lebatnya yang sangat cantik, walaupun agak jarang dikeramas
saya dan ratih sempat bergabung dengan dengan kelompok paduan suara di kampus. ratih di grup alto. dan saya pindah2. kadang alto, pernah juga jadi mezo sopran gara2 kekurangan orang. kami punya 1 lagu favorit yang sama: annie’s song, john denver.
ratih sering bawa partitur lagu itu ke kampus. suatu hari, waktu kami sedang duduk2 di bawah pohon, di atas tembok yang bentuknya mirip benteng, sambil nontonin mahasiswa/i yang lalu lalang, sambil nunggu masuk angin, saya dan ratih menyanyikan lagu yang ada di partitur itu. lalu fitri yang yang penggemar berat bon jovi langsung berteriak:
“addduuuuhhhh…., elo berdua ini ya!!! apa ga ada lagu lain yang bisa dinyanyiin selain lagunya ani ibon itu ya?”
buat yang ga tau siapa itu ani ibon, anda bisa searching di google. dan mungkin sesudah itu ikut tertawa bersama kami
itu adalah untuk terakhir kalinya saya dan ratih menyanyikan lagu itu di tengah2 geng kami.
setelah menyelesaikan kuliahnya secara on time, ratih lalu pindah dan bekerja di jakarta. hubungan kami sempat terputus lama. maklum, di masa itu sms masih mahal dan hanya bisa dikirim ke sesama operator….
pada tahun 2000, ratih mengirimkan undangan pernikahannya ke rumah orang tua saya di padalarang. sayang undangan itu baru sampai di tangan saya beberapa bulan kemudian. waktu saya pulang ke padalarang dari jakarta.
ratih menikah dengan ipung, yang kebetulan adalah teman kami juga semasa sekolah di bandung. di mata saya, ratih dan ipung adalah pasangan yang amat serasi. sama2 tenang. sama2 saleh
saya sempat mengirimkan undangan pernikahan saya ke ratih, tapi ratih ga bisa dateng, karena waktu itu dia baru saja melahirkan hafizh, anak pertamanya.
saya baru liat ratih lagi setelah 6 tahunga ketemu, di rumah sakit mitra keluarga bekasi barat, saat ratih datang untuk menjenguk saya yang baru melahirkan bianca, anak sulung saya.
beberapa bulan sebelumnya saya sempet mengunjungi ratih di kantornya di daerah gatsu. waktu itu saya mau minjem duit buat bayar kontrakan rumah baru saya di bekasi…. hehehe…, bukannya saya hobi ngutang, cuman kebetulan aja rejeki saya waktu itu masih ketahan di surga , dan baru dirapel beberapa tahun kemudian
saat ini ratih juga sudah hidup dengan tenang dan bahagia dengan 3 jagoannya: ipung, hafizh dan haqqi.
saya?
semua tulisan di blog ini, sudah menceritakan lebih dari cukup tentang saya

maka,
setelah empat belas tahun, akhirnya kami bisa berkumpul bersama lagi dalam formasi lengkap.
banyak hal yang sudah berubah. tapi sebagian dari kami adalah tetap kami yang dulu. saya yakin itulah yang membuat kami tetap menjadi sahabat. semoga sampai selamanya…
it was such a great reunion, don’t you think?
and you guys are the best!!
Like this:
Like Loading...
Posted: April 17, 2010 | Author: Lesca Boma | Filed under: cooking, daily living | Tags: birthday cakes, food |
dulu saya sering dibikin pusing sama urusan kue ulang tahun. bingung ga tau mau beli dimana, ada yang cucok tapi harganya mahal, atau ada yang cocok tapi ga bisa delivery… belum lagi belakangan anak2 mulai bisa bikin request buat kuwenya. mau yang ada gambar princess, mau yang ada bonekanya, mau yang ada foto ben 10 nya…
akhirnya, saya memutuskan buat mengakhiri kepusingan2 itu dengan belajar bikin kue sendiri
kursusnya dimana? di rumah aja, didepan komputer. hehehe…. untung saya punya 2 guru yang baik hati dan setia setiap saat. paman google, dan jeng ratih
waktu bianca bilang minta dibuatkan princess cake buat birthday cake nya tahun ini, di kepala saya langsung kepikir nama ratih. sama sekali ga ada rencana buat bikin sendiri. soalnya belunm pernah dan keliatannya kok susah ya? ga yakin bisa bikin.
waktu bianca saya ceritain tentang rencana itu, dia langsung bilang: “kalau kuwenya ibu ga bikin sendiri, aku ga usah tiup lilin aja deh…”
hhhmmm…., jelas sudah perintahnya.
dengan dibantu yangti, akhirnya jadi juga barbie cake pertama saya. final touch nya memang belum sempurna, tapi saya sudah belajar banyak… dan yang paling penting, bianca bilang bagus banget. wakaupun tetep, makan kuwenya sih ga doyan…

selain belajar bikin barbie cake, tahun ini saya juga iseng2 nyoba dekorasi cake pake fondan. iseng aja… ternyata seru juga. berasa jadi anak tk lagi, bikin prakarya pake malam (dough).
ini gambar birthday cakenya benaia yang dilapisin fondan. kuwenya udah digotong ke sana kemari dan udah keluar masuk kulkas juga. jadi riasan fondanya udah rada2 ringsek

dan ternyata, sementara ini saya masih lebih suka sama butter cream
Like this:
Like Loading...
Posted: April 17, 2010 | Author: Lesca Boma | Filed under: children, daily living |
alangkah beruntungnya saya yang hidup di jaman modern ini. internetan bisa di mana aja. termasuk dalam perjalanan pulang kayak sekarang.
kali ini pengen cerita tentang dua anak saya yang merayakan ulang tahunnya minggu ini.
bianca dan princess.
setelah 7 tahun bianca selalu ngerayain ulang tahunnya di sekolah, tahun ini bb udah ga mau lagi tiup lilin ditonton sama temen2 sekelasnya. mungkin mulai malu karena merasa udah mulai gede.

tahun ini requestnya hanya minta dibuatkan barbie cake buat kue ulang tahunnya dan beberapa goodies buat sahabat2 ceweknya di sekolah. perasaan saya antara seneng sama sedih juga… seneng karena kerepotan jadi berkurang. sedih karena saya jadi kehilangan moment2 spesial nyiapin acara ulang tahunnya. untung saya masih punya stock 2 anak balita

ritual tiup lilin tetep diadakan di rumah, sayang bapak ga bisa hadir tahun ini. tapi suasana cukup meriah dengan teriakan2 benaia dan benezra yang juga ngerasa kalau itu juga ulang tahun mereka…
beberapa hari ini bianca nanya2 terus, kira2 kado apa yang bakaln dia dapet dari bapak. rencananya baru hari sabtu besok bapak kasih kadonya.
“bu, kira2 kadonya bapak apa ya? coba aku piki2 ya…. hhmmm…., blekberi atau notbuk ya?”
hehehehe…, anak jaman sekarang
benaia dan ben 10
tahun ini benaia lagi kerajingan sama ben 10. jadi pernak pernik ulang tahunnya kemarin juga minta semuanya serba ben 10. mulai dari kue ulang tahun, goodies, sampe baju yang dipake buat acara tiup lilinnya juga semua serba ben 10. kalau ada yang bisa ngintip underwear yang dipake bebe, itu juga gambarnya ben 10

saking sayangnya bebe sama kue ben 10 nya, sampe hari ini (h+2), kue itu masih utuh di dalem kulkas. belum boleh dipotong. jadi kemarin cuman dibawa ke sekolah buat dipamerin temen2nya. terus dibawa pulang deh…. hehehe… untung ibu udah bikinin cupcake bergambar ben 10 juga buat dibagiin ke temen2 sekelasnya. sementara bu gurunya cuman kebagian tumpengnya aja…

saya sempet takjub liat kelakukan benaia di kelasnya. kirain dia cuman suka pecicilan di rumah doang. pantesan ibu catherine keliatan agak kurusan sekarang…
anyway,
selamat ulang tahun ya anak2 hebat!
semoga kalian jadi ana2 yang selalu sehat, bijak, saleh dan takut akan Tuhan.
amin.
Like this:
Like Loading...