the tourist

i envy you, jolie!
don’t you eat at all?


a heart mover

every time i see you, my heart is moved…

GOD, Himself has built you, my son
and HE will keep you in HIS hand,
till the end of time.


one floor. back yard. and a wooden floor.

dreamer. that is my middle name ;-)

dari kecil, saya emang sudah hobi menghayal. bahkan sebelum saya mengalami menstruasi, saya sudah bercita2,  kalau saya besar nanti, dan punya anak laki2, saya ingin menamainya william. sayang, lady di tampaknya sudah lebih dulu mencuri ide saya ;-)

dari ribuan mimpi2 saya, sebagian ada yang saya naikan harkatnya menjadi doa. sebagian lainnya hanya numpang lewat saja.

salah satu dari mimpi besar yang ada di kepala saya selama bertahun2, adalah tentang rumah idaman. dari dulu, saya ingin sekali punya rumah dengan 3 kriteria penting ini:

* rumah 1 lantai dengan banyak jendela. entah kenapa, saya ga begitu suka dengan rumah bertingkat. pertama, mungkin karena saya takut ketinggian. kedua, bisa jadi karena saya takut ketinggian. dan yang ketiga saya rasa karena saya takut ketinggian. saya suka rumah dengan banyak jendela supaya terang. ruangan yang gelap selalu bikin saya seperti sesak nafas.

* saya selalu ingin punya rumah yang ada halaman belakangnya. nanti saya akan membuat ruang makan yang menghadap ke halaman belakang itu. di salah satu sisi ruang makan itu akan dibuat pintu geser kaca yang cukup besar. supaya saya bisa duduk di meja makan sambil menikmati udara luar dan pemandangan halaman belakang. apapun makanan yang tersuguh di meja makan, kalau pemandangandi depannya enak dilihat, pasti berasa enak :D

* saya jatuh cinta dengan lantai parquet, sejak pertama kali kami dipertemukan. sejak saat itu pula, saya selalu berhayal, kalau saya punya rumah nanti, saya ingin ada 1 bagian rumah yang lantainya dilapisi parquet. dengan sebuah rak buku sederhana di salah satu sisinya. sedikit agak berbeda prinsip dengan bapak. yang ga suka permukaan dinding atau lantai berwarna gelap. katanya bikin susah nyari nyamuk.

saya tidak ingat betul, apakah saya pernah benar2 berdoa untuk rumah hayalan saya itu. yang saya mengerti, adalah bahwa tuhan saya begitu baik. dia sudah  memberikan apa yang saya harapkan. bahkan jauh melampaui apa yang berani saya pikirkan.

matur sembah nuwun, Gusti Yesus,
matur sembah nuwun….


bianca. benaia. benezra.

i have so many prayers for my babies,
one of them is,
when they grow older and somebody ask them:
“how was your childhood”,
my children would answer:
it was beautiful…

i love you so much children,
can never imagine how my life would be without you three…

may The Lord bless each of your life,
all the way,
all the way.

duren sawit. 02.51 am.


the next three days

my husband and i watched this great movie just last month.

the man never asked his wife if she had killed that woman.
he just believes that she didn’t. and he fought for what he believed in.

definitely worth watching!


b. is for the best.

l. is for the luckiest.


 


dari jendela kamar di lantai delapan belas itu, saya bisa melihat dengan jelas, kedua anak saya yang menghabiskan sore mereka di kolam renang lantai m1 bersama dengan bapaknya. udara sore itu cukup dingin. angin kencang bolak balik berhembus, bikin anak 2,5 tahun saya terpaksa menyerah, dan memutuskan untuk segera naik, menghabiskan sisa sorenya dengan sebotol susu dan tayangan kartun di tv.


sudah sering saya melihat pemandangan seperti itu. bapak, menemani anak2nya di kolam renang. mengajari mereka cara bernafas di dalam air. sesekali menggendong mereka. dan membersihkan tubuh2 kecil yang licin dan berbau kaporit itu di kamar bilas.


sore itu, dari kejauhan saya melihat bapak menyisir rambut panjang bianca dengan penuh sabar. entah kenapa, tiba2 saja dada saya berasa sesak. dan pandangan mata saya mengabur. selama beberapa saat, saya memilih berdiri diam, menikmati pemandangan itu.


saya bersyukur, karena kembali diingatkan. betapa beruntungnya saya. suatu saat, saya juga akan menceritakan kepada anak2 saya, betapa beruntungnya mereka.


sebuah keputusan.

bagian tersulit dari membuat sebuah keputusan adalah, meyakinkan diri sendiri bahwa keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang terbaik.

pagi ini saya menerima sebuah sms, isinya meminta saya untuk memutuskan, apakah saya akan meneruskan kerja sama dengan sesorang, atau tidak.

kepala saya pusing. hati saya bimbang. di satu sisi, saya ingin bilang “ya!” tapi sisi lain hati saya ragu.

belahan jiwa yang selama ini menjadi gantungan saya, pagi ini hanya bisa menjawab: “terserah ibu saja. apa pun keputusan ibu aku dukung”

saya sempat berharap, dia akan mengambil alih peran saya dan membuatkan keputusan itu untuk saya. kali ini tidak.

saya duduk beberapa menit. berdoa. mencoba mendengarkan suaru hati saya.

reflek saja, tangan kanan saya meraih ponsel yang saya letakan ga jauh dari tempat saya duduk. unlocked the device. dan mulai menekan rangkaian keypad.

“pak, dalam nama yesus, jawabannya: no.”

saat ini, saya benar2 sedang menarik nafas dalam2….

 


i. pray.

god does not promise me a quiet journey,
only a save arrival.
so please, arrive me safely my lord,
to wherever it is.

to wherever it is.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 606 other followers