kadang kita emang butuh polisi. buat memastikan kalau kita berjalan di tempat semestinya. ga nyerempet bahaya di kiri atau di kanan.
di rumah saya sekarang juga ada 3 polisi. yang dua udah bisa menyampaikan teguran dan protes secara verbal. sementara yang satu masih lewat body language.
“ibu abis telepon2an sama siapa sih? kok lama banget?”
“sama tante wulan”
“kok ngobrol sama tante wulan lama banget?”
“iya, ibu kan udah lama ga cerita2 sama tante wulan”
“tapi jangan lama2 dong… iyek tadi numpahi air di karpet ibu ga liat tuh…”
“ibu lagi chating sama siapa sih?”
“sama tante nuke”
“kok ibu chating2 terus sih?”
“ga terus kok… baru aja 5 menit”
“tapi kan aku mau pake meja komputernya buat ngerjain pe er…”
“hendrik itu siapa sih bu?”
“oh, itu temen ibu waktu di sma”
“dia punya facebook juga?”
“iya, in dia baru add ibu di facebook”
“oh, ya sudah… tapi main face booknya jangan lama2…”
“itu tadi sms dari siapa bu?”
“sms dari bapak”
“kok ibu sma-an sama bapaknya sambil senyum2 sih…”
begitulah…, para polisi kecil itu emang seperti tiang2 rambu lalu lintas yang membatasi sekaligus menjaga dan mebantu saya supaya terhindar dari bahaya.
dan puji tuhan, sampai saat ini saya belum pernah kena tilang 😉