garis kecil

kalau masih hidup, hari ini bokap ulang tahun yang ke 64.

tahun lalu saya bikin tulisan ini di blog yang lama. barangkali ada yang belum sempet baca atau seperti saya, ingin baca lagi….

Peter Hehamahua
1944 – 2000

Ternyata saat yang dipilih untuk kita lahir dan saat dimana kita ditentukan untuk pulang, hanya dibatasi dengan sebuah garis kecil. Garis kecil yang ternyata bisa berisi begitu banyak. Seperti apa dan bagaimana kita akan dikenang dan diingat orang bergantung pada bagaimana kita mengisi garis kecil itu. Dan apa yang akan kita bawa sebagai bekal pulang nanti juga tersimpan di garis kecil yang sama.

Masing-masing orang tentu punya cara dan selera sendiri2 di dalam menjalani dan mengisi hidupnya. Seorang teman pernah berkata kepada saya, kalau baginya hidup hanyalah sebuah perjalanan. Dan dia mengisinya seperti layaknya seorang yang sedang berjalan2…. Dinikmati saja, katanya.

Ada seorang lain yang juga saya kenal, mengisi hidupnya dengan bekerja keras. Mencari, mengumpulkan, dan mewariskan. Katanya untuk mereka yang dia kasihi. Supaya kalau tiba saatnya dia harus pergi meninggalkan keluarganya, dia yakin mereka tidak akan kekurangan. Kedengarannya mulia. Tapi, bukankan DIA yang akan menjaga semua yang akan kita tinggalkan? Mudah2an teman saya ini tidak lupa untuk menyiapkan bekal buat dirinya sendiri.

Juga seorang yang lain lagi. Seorang yang disegani dan dihormati. Saya dan banyak orang lain tidak berani membantah atau menentang dia. Saya pernah melihat dan mendengar mereka yang menangis karena perlakuannya. Sekali saya pernah berpikir, apakah dia pernah tersenyum, betul-betul tersenyum? Sekali saja dalam hidupnya? Merangkul dan menggandeng orang-orang yang begitu segan dan takut kepadanya? Semoga di sisa hidupnya nanti dia sempat melakukannya.

Ayah saya, bukan seorang yang pandai mengungkapkan perasaannya. Dia mewariskan kepada kami banyak pengalaman pahit yang tidak gampang untuk dilupakan. Hingga kami harus menunggu cukup lama, sampai nyaris pada akhir hidupnya, untuk akhirnya bisa mengerti hatinya. Terima kasih kepada Tuhan, yang masih memberi kesempatan buat kami mengisi sisa garis kecilnya dengan kenangan yang indah.

Akan halnya kita. Entah berapa persen dari garis kecil itu yang sudah kita lewati. Dan berapa banyak lagi sisa garis kecil yang masih bisa kita isi. Semua orang memiliki garis kecilnya sendiri-sendiri. Semoga garis kecil kita, bisa kita isi dengan sesuatu yang besar…


Padalarang, 29 Oktober 2006
Inspired by Neneng Naftali
In memorial of a beloved father, on his (supposed) birthday, 11 November 2006.

6 thoughts on “garis kecil

  1. Aku bisa ngerasain gimana rasanya jeng, soalnya aku juga udah ditinggal bokap (& nyokap juga). Dan selalu tiap ultah mereka rasanya sediiiiihhh banget & selalu aku nulis catatan (selama ini disimpan untuk pribadi aja) yg kayaknya bisa ngungkapin rasa kangen ama mereka.

    GBU!

  2. iko: makasih ya… it was very thoughtful of you.

    susy: kadang emang suka kangen ya sus. untung tuhan udah kirim “pengganti” yang luar biasa ya… suami dan anak2 tercinta🙂

  3. Yayan says:

    Turut berduka cita.

    Buat Ayah yang telah tiada :
    ” Dimasa ini, Tuan hidup kembali. Dan bara kagum menjadi api ” ( Cairil Anwar )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s