Berbagi Pengalaman: Menjelang Kuliah

bianca kelimutu

Punya anak yang sudah duduk di kelas XI, akhirnya memotivasi saya untuk mulai belajar lagi tentang persiapan kuliah. Dibandingkan dengan jaman saya 30 tahun yang lalu, anak2 SMU sekarang memang jauuuhhh lebih siap. Dulu saya lulus SMA ya lulus2 aja. Kalau ditanya mau meneruskan studi ke mana baru bingung. Mungkin itu salah satu penyebab kenapa anak jaman dulu cita2 nya terbatas ya. Kalau ga jadi Dokter, Guru, Pilot, Insinyur atau Tentara. Beda sama anak sekarang. Dari SMP mereka udah dibantu diarahkan nanti mau lanjut sekolah ke mana dan ambil jurusan apa. Cita2nya juga jauh lebih variatif. Mulai dari psikolog, ahli solar sistem, youtuber, sutradara film animasi dan lain lain lain lain lainnya.

So, saat ini kami masih punya waktu kurang dari 2 tahun, dan rasanya sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai melakukan persiapan. Langkah awal yang saya ambil adalah berkonsultasi dengan guru BP di SMU dan dengan lembaga konsultan pendidikan internasional untuk mendapatkan basic information dan pencerahan (saya memilih Sun Education). Dan berikut adalah rangkumannya.

APA.

Yang pertama kali perlu diputuskan (atau setidaknya dipikirkan dan dipertimbangkan) adalah jurusan apa yang ingin diambil. Idealnya tentu anak akan mengambil jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Di BPK Penabur, sekolah menyediakan fasilitas psikotes untuk siswa SMP dan SMA (kelas X dan XII) untuk membantu siswa mengenali potensi dirinya sekaligus memberi gambaran jurusan apa yang mungkin tepat buat mereka. Jika sekolah tidak menyediakan fasilitas psikotes, di Jakarta ada banyak alternatif Biro Psikologi dengan biaya beragam.

DIMANA.

Selanjutnya, yang perlu dipikirkan adalah di mana anak mau melanjutkan sekolah. Menentukan di mana ini ga kalah memusingkannya dengan menentukan jurusan apa yang mau diambil. Ada banyak sekali pilihan. Mau kuliah di dalam negeri atau di luar negeri? Kalau di dalam negeri, mau kuliah di Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta? Kalau di luar negeri, negerinya mau di mana?

BAGAIMANA.

Kalau kita milih untuk kuliah di PTN, saat ini ada beberapa jalur seleksi yang bisa ditempuh.

  • SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Biasa dikenal juga dengan sebutan “jalur undangan”. Jalur ini tidak mengharuskan siswa menempuh ujian tertulis. Pola seleksinya adalah berdasarkan hasil penelusuran akademik (nilai rapor semester 1-5) dan portofolio akademik. SNMPTN dilaksanakan sebelum kelulusan. Calon mahasiswa yang memilih jalur seleksi ini bisa menyiapkan 2 pilihan: 1 pilihan PTN yang ada di Jakarta, dan 1 pilihan PTN di luar Jakarta. Sebelumnya siswa dan ortu akan diminta menandatangani surat pernyataan bahwa kalau siswa lolos seleksi ini ybs akan mengambil jatah kursinya. Jadi sebaiknya make sure dan bulatkan hati dulu sebelum memutuskan mau ikut jalur seleksi ini atau tidak.
  • SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri), yaitu seleksi berdasarkan hasil ujian tertulis dalam bentuk cetak (paper based testing) atau menggunakan komputer (computer based testing), atau kombinasi hasil ujian tertulis dan ujian keterampilan calon Mahasiswa. Seleksi dilakukan secara bersama di bawah koordinasi panitia pusat. Jaman saya dulu namanya UMPTN.
  • Seleksi Mandiri, adalah jalur penerimaan mahasiswa baru yang diselenggarakan secara khusus oleh panitia dari Perguruan Tinggi Penyelenggara, baik itu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Jalur seleksi mandiri di setiap Perguruan Tinggi memiliki nama dan sistem penerimaan yang berbeda-beda. Waktu penyelenggaraannya juga beragam, ada Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan sebelum SBMPTN, dan ada yang menyelenggarakan setelahnya.

Diluar ketiga jalur seleksi di atas ada juga seleksi PMDK, UMPN dan Simak. Yang ini kemarin saya ga bahas dengan bu Guru di sekolah.

Sementara kalau kita memutuskan untuk kuliah di luar negeri, persyaratan paling penting tentunya adalah kemampuan berbahasa Inggris. Pada umumnya sertifikat ujian yang diminta oleh institusi pendidikan tinggi di luar negeri adalah IELTS dan TOEFL. Biasanya score yang diminta adalah 5,5-6 untuk IELTS dan 500-550 untuk TOEFL (bergantung jurusan dan universitas). Sebagai contoh, Universitas Leiden di Belanda mempersyaratkan calon mahasiswa jurusan psikologi untuk punya score IELTS 7. Lumayan bikin jiper yaa…

Persyaratan akademis lain (rapor, ijazah, hasil UN) akan ditentukan oleh masing2 Universitas. Saat ini pemerintah kita membuat aturan bahwa nilai UN tidak menjadi penentu kelulusan siswa di SMU. Akibatnya tidak sedikit siswa SMU yang “meremehkan” hasil UN mereka. Padahal ada banyak Univ di LN mengharuskan calon mahasiswa melampirkan nilai UN nya. Jadi pesan mbak konsultan di SUN Edu kemarin: “Jangan pernah meremehkan hasil UN! Karena nilai UN yang anjlok bisa aja bikin kami kepeleset.”

Untuk jurusan-jurusan kreatif, misalnya seni dan desain, musik, arsitektur, dan sejenisnya, calon mahasiswa mungkin perlu menyertakan portofolio (hasil karya yang pernah dibuat). Biasanya universitas akan memberikan panduannya.

Untuk lulusan SMU yang akan mengambil program S-1, Universitas biasanya juga menyarankan calon mahasiswa untuk mengikuti program foundation selama 1 tahun (8-12 bulan). Calon mahasiswa yang berhasil menyelesaikannya program foundation dengan baik bisa melanjutkan ke tingkat sarjana di tahun berikutnya.

Sementara ini dulu ya..
Saya mau lanjut hunting informasi berikutnya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s